Ricardo El Nino Sandoval bukan anak orang kaya, jauh sebelum nama nya terkenal sebagai juara dunia, dia menghabiskan masa kecil di sebuah toko ban milik keluarga nya, dari tempat sederhana itulah mendapatkan pelajaran yang kemudian membentuk perjalanan nya di ring tinju.
Ayahnya membawa Sandoval ke toko ketika usia nya baru enam atau tujuh tahun, di sana dia tidak hanya bermain tapi membersihkan pelek menggunakan kain basah, tempat itu juga ada waktu untuk bersenang senang dengan sepak bola bersama para paman nya dan pintu di jadikan gawang, kenangan masa kecil ini terus dia bawa sampai sekarang.
Pelajaran lain yang tertanam di otak nya, saat mendapatkan uang tip pelanggan sebesar 3 dolar sudah sangat besar bagi nya waktu itu, suatu ketika dia meminta uang satu dolar kepada ayah nya untuk membeli keripik, jawaban nya “Tú tienes” — [kamu punya] maksud nya, Sandoval sudah memiliki uang sendiri dari hasil bekerja.
Pengalaman kecil itu kemudian melekat, prinsip yang sama dia terapkan di gym, tidak ada gelar yang datang dengan cuma-cuma, dia harus terus berlatih, bekerja keras lalu mempertahankan apa yang sudah di raih.
“Tidak semua nya diberikan kepada saya, zaya harus bekerja untuk mendapatkan nya, ketika masih kecil dan bekerja di toko ini, kadang orang memberi saya tip, saya pernah meminta satu dolar kepada ayah untuk membeli keripik, tetapi dia berkata, tidak..kamu sudah punya uang sendiri, dari situlah saya belajar untuk bekerja keras, dalam tinju juga sama, saya harus memberikan semua nya di gym untuk mendapatkan apa yang saya inginkan dan mempertahankan nya.”
Kerja keras itu membawa Sandoval ke sebuah kesempatan yang selama ini hanya bisa dia bayangkan, pada Juli 2025 Sandoval datang ke Yokohama Jepang untuk menghadapi Kenshiro Teraji dalam perebutan gelar kelas terbang WBC, rekor nya saat itu 26-2 dengan 18 kemenangan KO, sedangkan Teraji 25-1.
Waktu itu pertarungan berjalan keras selama 12 ronde, Sandoval sempat dijatuhkan pada ronde ke 5 setelah menerima pukulan kanan keras dari Teraji, namun dia mampu bangkit dan kembali menjalankan rencana pertarungan yang sudah di persiapkan bersama tim nya.
Hasil akhir keputusan juri berpihak kepada Sandoval melalui split decision, Joseph Gwilt memberikan skor 117-110 dan Leszek Jankowiak 115-112 untuk Sandoval, sedangkan Pawel Kardyni memberi angka 114-113 untuk Teraji.
Sandoval membawa pulang juara dunia terpadu WBC dan WBA, kemenangan itu seperti puncak dari perjalanan yang di mulai sejak dia masih menjadi anak kecil di toko ban.
Selama pemusatan latihan, dia terus mengucapkan kalimat “and the new” berulang kali, kata yang biasa terdengar ketika seorang penantang resmi di nobatkan sebagai juara baru itu akhir nya terdengar dari pengeras suara setelah di Yokohama.
“Ketika mereka benar-benar mengucapkan ‘and the new’, rasa nya seperti semua beban langsung hilang, saya melompat, berteriak dan semua orang di sudut saya ikut merayakan, kami datang ke wilayah lawan lagi akhirnya kami berhasil melakukannya, ini sudah 15 tahun dalam proses dan akhirnya sampai juga di sini, saya merayakan nya bersama keluarga dan orang-orang yang percaya kepada saya sejak awal, saya tidak pernah berpikir akan benar-benar sampai di titik ini, saya tahu saya sudah bekerja keras, tetapi melihat semua nya benar-benar terjadi terasa gila, mimpi memang bisa menjadi kenyataan selama kita mau bekerja, tetap berdedikasi, dan percaya pada apa yang kita perjuangkan.”
Kemenangan atas Teraji membuat kisah Sandoval lebih besar dari perjalanan seorang petinju menuju gelar dunia, dia datang dari lingkungan sederhana, bekerja sejak kecil, bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai petinju sebelum mencapai cita-cita di impikan nya.
Perjalanan Sandoval belum berhenti, dia di jadwalkan kembali naik ring pada 10 Oktober 2026 di Chicago untuk mempertahankan sabuk nya menghadapi Sergio Yoreme Mendoza.
Pertarungan itu menjadi bagian dari kartu utama Floyd Schofield vs Lucas Bahdi, yang juga memperebutkan gelar WBA kelas ringan yang kosong, Sandoval awalnya di jadwalkan menghadapi Oscar Collazo, tetapi mundur setelah mengalami cidera tulang rusuk dalam persiapan pertarungan.









