Baru beberapa hari lalu dunia tinju kembali berduka setelah kabar meninggal nya Prichard Colon, kabar memilukan lain nya datang dari Afrika Selatan.
Zolani Tete, mantan juara dunia dua divisi sekaligus pemilik KO tercepat dalam pertarungan perebutan gelar dunia meninggal dunia setelah menjadi korban penembakan di depan rumah nya di Mdantsane Afrika Selatan, dia tutup usia pada Jumat malam dalam usia 38 tahun.
Peristiwa tragis tersebut terjadi sekitar pukul 18.30 waktu setempat, Tete di ketahui sedang berada di dalam kendaraan nya bersama seorang perempuan berusia 27 tahun ketika mereka menunggu gerbang rumah terbuka.
Situasi berubah menjadi mengerikan ketika sebuah kendaraan berhenti di sekitar lokasi, dua pria yang mengenakan penutup wajah kemudian turun dan langsung melepaskan tembakan ke arah Tete.
Dalam kondisi terluka Tete mencoba menyelamatkan diri langsung mengemudikan mobil nya masuk ke halaman rumah untuk menghindari serangan, tapi upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawa nya Tete mengalami luka tembak serius dan di nyatakan meninggal dunia di tempat kejadian.
Juru bicara kepolisian Eastern Cape, Brigadir Nobuntu Gantana mengatakan Tete sempat berusaha melarikan diri dari rentetan peluru sebelum akhir nya tidak mampu bertahan akibat luka yang di deritanya.
Sementara itu, perempuan yang berada bersamanya juga menjadi korban. Ia mengalami beberapa luka tembak dan langsung di larikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.
Hingga Jumat malam, polisi belum berhasil menangkap pelaku, penyelidikan kini dibuka untuk kasus pembunuhan otif di balik penembakan tersebut juga masih menjadi misteri.
Kematian Tete menambah duka mendalam bagi tinju mengingat dia bukan petinju biasa, pernah menjadi juara dunia di dua kelas berbeda, lebih dulu merebut sabuk IBF kelas junior bantam setelah menghentikan Teiru Kinoshita di Jepang pada 2014.
Beberapa tahun kemudian, dia naik ke kelas bantam dan berhasil menjadi juara dunia WBO, nama Tete paling melekat dengan sebuah kemenangan yang hanya berlangsung selama 11 detik.
Pada November 2017 Tete menghadapi Siboniso Gonya dalam pertarungan perebutan gelar, tidak banyak waktu yang di butuhkan untuk mengakhiri pertandingan lawan nya tumbang hanya 11 detik setelah bel berbunyi.
Sampai sekarang, kemenangan tersebut masih tercatat sebagai KO tercepat dalam sejarah pertarungan perebutan gelar dunia, itulah alasan nama Tete begitu di kenal dalam sejarah tinju meski karir nya kemudian harus berakhir dengan jalan yang tidak sesuai harapan.
Pertarungan terakhir nya terjadi ketika menghadapi Jason Cunningham di London pada Juli 2022, Tete sebenar nya di nyatakan menang melalui KO ronde ke 4 namun kemudian di batalkan dan status pertarungan di ubah menjadi no contest setelah Tete di nyatakan positif menggunakan stanozolol.
Badan Anti-Doping Inggris atau UK Anti-Doping kemudian menjatuhkan hukuman larangan bertanding selama empat tahun, yang membuat kabar kematian nya semakin mengejutkan hukuman tersebut baru saja berakhir pada 29 Juli.
Manajer Tete Mlandeli Tengimfene mengungkapkan bahwa mantan juara dunia itu sudah kembali menjalani latihan bahkan Tete sedang mempersiapkan comeback yang di rencanakan kembali naik ring pada 29 November.
Rencana tersebut sekarang tidak akan pernah terwujud, menteri Olahraga Afrika Selatan, Gayton McKenzie turut memberikan penghormatan kepada Tete, dia menyebut sang petinju sebagai salah satu petarung terbaik yang pernah di miliki Afrika Selatan.
McKenzie juga meminta masyarakat yang mengetahui informasi mengenai penembakan tersebut untuk segera melapor kepada pihak kepolisian, Tete meninggalkan dunia tinju dengan catatan 29 kemenangan, 4 kekalahan dan satu laga tanpa hasil.
Selamat jalan Champ, semoga arwah mu tenang di alam sana bersama Tuhan Yang Maha Esa. Amiiiin.









