Keputusan Terence Crawford untuk melepaskan sabuk WBO bukan hanya berita singkat di kolom hasil itu seperti batu besar yang jatuh ke kolam tenang di kelas super middleweight, riak nya menyebar ke mana mana, peringkat bergeser dan jalur titel berubah.
Di tengah kekacauan itu satu nama berdiri paling depan Hamzah Sheeraz, bagi sebagian petinju momen seperti ini adalah kejutan tapi yang lain ini mimpi buruk karena salah melangkah sedikit saja karir bisa berbelok ke arah yang tak pernah di rencanakan.
Tawaran WBO saat ini sabuk kosong, Lawan jelas, jadwal bisa di negosiasikan, menang lalu sah menyebut diri sebagai juara dunia.
Tapi sabuk kosong kadang paling berat beban nya karena tidak ada juara lama untuk di jatuhkan yang ada hanya satu tuntutan yaitu menang tanpa alasan, jika Sheeraz mengalahkan Diego Pacheco dunia akan berkata memang seharus nya, kalau kalah mereka akan bilang kenapa terburu buru.
Pacheco sendiri bukan petinju yang datang membawa nama kecil, dia muda, menang memang mengangkat status tapi kalah dari nya bisa menghapus calon wajah divisi dalam satu malam.
Di sisi lain ada Christian Mbilli, jalur ini tidak langsung menuju sabuk tapi menuju pengakuan.
Mbilli bukan lawan yang memberi kenyamanan, menang atas Mbilli bukan hanya soal angka di rekam jejak itu pembuktian bahwa Sheeraz siap menghadapi siapa pun, masalah nya jalur ini tidak menawarkan kepastian, tidak ada jaminan sabuk yang ada hanya resiko tinggi imbalan jangka panjang.
Ada petinju yang terlalu cepat mengejar sabuk dan hancur sebelum waktu nya, ada juga yang terlalu lama menunggu lalu di tinggal zaman, Sheeraz sekarang berdiri di antara dua jurang itu.
Jika dia memilih WBO berarti percepatan tapi jika memilih Mbilli ini penegasan, nama Canelo alvarez mungkin tidak di sebut dalam kontrak apa pun saat ini tapi bayangan nya ada di mana mana.
Setiap keputusan di kelas 168 pound selalu mempertimbangkan siapa yang paling layak berdiri di depan nya nanti.
Menjadi juara WBO bisa membuat Sheeraz masuk pembicaraan lebih cepat tapi menjadi juara yang tepat dengan resume solid dan kemenangan meyakinkan bisa jauh lebih bernilai dari pada cuma menyandang sabuk.
WBO memberi waktu 20 hari angka itu terdengar administratif, bagi petinju dan timnya itu seperti jam pasir yang terus menipis, setiap hari tanpa keputusan adalah spekulasi baru.
Di level ini keraguan setengah detik saja bisa berujung knockdown, yang jelas keputusan Sheeraz tidak hanya akan memengaruhi diri nya sendiri tapi Pacheco, Mbilli bahkan petinju di belakang mereka yang menunggu giliran, satu tanda tangan bisa mengubah seluruh antrean divisi.
Apa pun pilihan nya nanti setelah ini tidak ada lagi alasan yang ada hanya hasil dan bagaimana kita mengingat nya.
Kabar Lain yang tak kalah panas, ketika Devin Haney menumbangkan Brian Norman Jr dan merebut sabuk welter WBO sorotan tertuju pada Haney.
Tapi di balik gemuruh itu ada satu nama yang perlahan naik hampir tanpa suara nama nya Jack Catterall, tidak ada selebrasi besar posisi nya kini jauh lebih strategis di banding beberapa bulan lalu.
Kadang pintu tidak di dobrak sendiri itu terbuka karena orang lain menendang nya terlalu keras.
Sulit membicarakan Catterall tanpa kembali ke luka lama nya, pertarungan melawan Josh Taylor pada 2022 masih membekas di ingatan banyak penggemar, seharus nya keluar sebagai juara malam itu tapi di sini tidak mengenal kata itu yang di ingat sejarah hanyalah angka di kartu juri.
Sejak saat itu karir Catterall berjalan di jalur yang aneh, dia bukan petinju yang hancur tapi juga tidak betul betul pulih.
Ketika akhir nya dia kalah dari Arnold Barboza dan meninggalkan kelas 140 pon banyak yang menganggap itu sebagai langkah mundur, naik kelas sering di baca sebagai tanda menyerah pada persaingan lama, bagi Catterall itu seperti melepaskan beban.
Di welterweight dia datang sebagai petinju yang masih harus membuktikan diri karema di kelas ini bukan tempat yang enak enak.
Di divisi ini satu kemenangan kurang dan satu kekalahan bisa mengubur nya bertahun tahun, Catterall memulai dengan Kemenangan atas Harlem Eubank, kemudian TKO atas Ekow Essuman lebih meyakinkan.
Peringkat bukan cuma angka itu bahasa politik tinju, ketika WBO menempatkan Catterall di posisi teratas itu bukan hadiah, sekarang Catterall tidak lagi bisa bersembunyi di balik status penantang potensial dia berada tepat di depan pintu gelar.
Setiap langkah nya akan di awasi dan negosiasi akan di baca sebagai niat atau keraguan.
Jika Catterall ingin mengubah citra lama nya sebagai petinju yang di rugikan dia harus berhenti berharap keadilan datang dari luar wajin memaksa keadilan itu sendiri dengan performa yang tidak memberi ruang tafsir.
Dengan Haney membuka jalan bola kini ada di kaki nya tidak ada lagi bayangan Josh Taylor atau masa lalu yang bisa di jadikan alasan.
Baca juga: Duel duel penting yang terjadi sebelum natal
#Hamzahsheeraz #Jackcatterall #Devinhaney









