Debut profesional Nelson Asofa Solomona di dunia tinju kelas berat berlangsung cepat keras dan sangat mengagumkan, Jeremy Latimore tumbang hanya dalam dua menit lebih sedikit dan wasit menghentikan laga.
jika kita hanya berhenti pada hasil akhir berupa KO ronde pertama, kita akan melewatkan cerita yang mungkin tidak di ketahui.
Asofa Solomona menang tapi ini lebih tepat di sebut pintu pembuka bukan jawaban final, nama nya sudah tidak saing lagi, dia adalah salah satu atlet terbesar yang pernah bermain di NRL, tubuh nya yang nyaris menyentuh 300 pon dengan latar belakang olahraga kontak keras membuat banyak orang langsung membayangkan nya sebagai monster di kelas berat.
Di sinilah beban terbesar nya muncul, dia bukan petinju yang memulai karier dari gym kecil tapi datang dengan label dan rasa penasaran publik yang besar.
Debut melawan Jeremy Latimore ini jelas di rancang sebagai langkah pertama yang aman tapi bukan berarti kosong makna.
Sejak bel pembuka berbunyi perbedaan antara Asofa Solomona dan Latimore sangat jauh dari ukuran tubuh juga aura fisik, dia terlihat seperti pria yang bisa memindahkan lawan hanya dengan satu dorongan bahu.
Selisih berat sekitar 45 pon, usia Latimore yang lebih tua serta kurang nya ancaman membuat pertarungan ini sejak awal tidak seimbang bahkan terlihat lebih sibuk bertahan hidup ketimbang mencari peluang untuk menyerang.
Namun Nelson tidak langsung membabi buta tapi menunggu dan mengamati lawan, kemudian uppercut kanan akhir nya mendarat membuat Latimore jatuh, dia bangkit dengan sempoyongan lalu kembali di hajar jatuh wasit melakukan tugas dan laga berakhir.
KO ini belum cukup untuk menilai kualitas tinju Nelson secara utuh karena sebelum momen itu, kita belum melihat bagaimana footwork nya saat di tekan dan reaksi nya saat di pukul balik.
Kemenangan memang menghibur tapi dia juga menyembunyikan banyak kekurangan, setelah laga selesai Nelson dengan jujur mengatakan bahwa dia tidak puas dengan penampilan nya, dia mengkritik stance nya sendiri mengakui terlalu longgar dan merasa belum tampil maksimal.
Banyak petinju debutan yang KO cepat lalu terlena Nelson sadar bahwa kemenangan ini belum cukup terutama bagi petinju kelas berat yang sering tergoda untuk mengandalkan kekuatan semata.
Sepanjang ronde singkat itu Nelson terlihat canggung, dia tidak gegabah tapi juga belum sepenuh nya mengalir, pukulan nya kuat tapi belum di rangkai dalam kombinasi kompleks, gerak kaki nya ada namun belum menjadi senjata.
Kalau penulis melihat nya secara jujur ini sangat wajar tinju profesional bukan rugby atau street fight, ini olahraga dengan ritme dan pengambilan keputusan yang sangat berbeda.
Di luar itu Asofa Solomona punya satu keunggulan besar yaitu daya jual, promotor suka petinju seperti ini dan Publik demen melihat sosok besar dengan latar belakang unik, selama dia menang nama nya akan terus di bicarakan tapi tantangan sesungguh nya tidak hanya popularitas tetapi manajemen karir.
Jika dia di lompatkan ke lawan berpengalaman sebelum fondasi nya kuat maka cerita ini bisa berakhir cepat, kita sudah sering melihat contoh atlet besar yang hancur saat menghadapi petinju biasa tapi cerdas.
Baca juga:
#Nelsonasofa #Kelasberat









