Nico Ali Walsh Bongkar Ancaman di Balik Revisi Muhammad Ali Act: Ini Janji Kosong

Nico Ali sebut revisi Ali act janji kosong

Beberapa waktu terakhir perhatian tertuju pada pembahasan revisi Muhammad Ali Act di Amerika Serikat, undang undang yang selama ini sebagai pelindung hak petinju kini kembali menjadi bahan perdebatan.

Di satu sisi ada pihak yang ingin memperbarui aturan demi alasan keselamatan tapi muncul kekhawatiran bahwa perubahan tersebut bisa mengubah arah tinju secara drastis.

Di tengah perdebatan itu satu suara muncul dari Nico Ali Walsh.

Cucu dari legenda ini tidak hanya hadir sebagai nama besar tetapi juga petinju aktif yang merasakan langsung industri tinju modern, dalam hearing tersebut dia secara gamblang menyampaikan sikap nya.

“Ini seperti rug pull atau janji janji kosong kata Nico”

Secara garis besar revisi terhadap Muhammad Ali Act di klaim bertujuan untuk meningkatkan standar kesehatan dan keselamatan dalam dunia tinju argumen ini di permukaan sulit untuk di tolak.

Siapa yang tidak ingin petinju lebih terlindungi, tambahan tes medis, peningkatan jumlah tenaga kesehatan di sisi ring sampai pengawasan yang lebih ketat terhadap kondisi fisik petarung semua itu terdengar bagus bahkan Nico sendiri mengakui bahwa aspek tersebut memang positif namun persoalan nya bukan di situ.

Menurut nya masalah muncul pada hal hal yang tidak langsung terlihat, dia menilai bahwa di balik janji tersebut terdapat agenda yang lebih besar berpotensi merugikan petinju dalam jangka panjang.

Istilah rug pull biasa nya di gunakan di dunia finansial untuk menggambarkan situasi di mana seseorang di janjikan sesuatu yang menguntungkan tetapi pada akhir nya di tinggalkan dalam kondisi merugikan itulah analogi yang di gunakan Nico.

Pihak yang mendorong perubahan ini datang dengan membawa isu keselamatan namun di balik itu terdapat perubahan lain yang bisa mengubah struktur tinju secara keseluruhan.

Dia memperingatkan bahwa sistem baru ini berpotensi menciptakan satu pusat kekuatan dalam tinju, sistem yang terlalu terpusat pada akhir nya bisa mengurangi kebebasan petinju dalam menentukan karir mereka sendiri.

Jika itu terjadi maka konsekuensi nya tidak kecil, petinju bisa kehilangan kendali antara lain atas kontrak, penghasilan bahkan jalur karir mereka.

Salah satu poin yang juga menjadi perhatian adalah perbandingan antara tinju dan MMA, di sebutkan bahwa tinju memiliki catatan kematian sementara MMA di anggap lebih aman karena prosedur keselamatan yang lebih modern namun Nico tidak sepakat dengan poin tersebut.

Menurut nya tinju memang sejak awal adalah olahraga berbahaya, tidak ada cara untuk sepenuh nya menghilangkan resiko tanpa mengubah esensi dari olahraga itu sendiri.

Selama masih ada pukulan ke kepala dan pertarungan 12 ronde maka resiko akan selalu ada, itu bukan kelemahan sistem tapi bagian dari olahraga.

Karena itu dia menilai dengan mencoba membuat tinju sepenuh nya aman malah tidak bagus yang bisa dil akukan adalah meminimalkan resiko bukan menghilangkan nya dan itu tidak harus di bayar dengan hilang nya hak petinju.

Penting untuk di garis bawahi posisi Nico bukan berarti menolak semua bentuk perubahan.

Dia secara jelas menyatakan bahwa peningkatan standar kesehatan dan keselamatan adalah hal yang baik tidak ada petinju yang akan menolak keberadaan dokter tambahan di sisi ring atau pemeriksaan medis yang lebih ketat.

Masalah nya bukan pada perubahan itu sendiri, ketika perubahan tersebut membawa konsekuensi lain yang lebih besar yang tidak secara terbuka di bahas.

Menurut nya jika tujuan utama memang keselamatan petinj maka fokus harus tetap di sana bukan di sertai dengan sistem yang bisa mengurangi kebebasan mereka.

Selain soal regulasi Nico juga menyinggung isu lain yakni fragmentasi dalam dunia tinju.

Saat ini tinju tidak lagi berada dalam satu sistem yang utuh, berbagai promotor, organisasi dan entitas baru seperti Zuffa mulai menciptakan jalur mereka sendiri.

Akibat nya banyak pertarungan besar yang sulit terwujud.

Sebagai contoh wacana pertarungan antara Ryan Garcia dan Conor Benn sempat menjadi pembicaraan namun realisasi nya terhambat oleh perbedaan sistem dan pengakuan antar organisasi.

Dia melihat bahwa tinju semakin terpecah dan perubahan regulasi yang tidak tepat bisa memperburuk situasi tersebut, bukan menyatukan malah bisa memperdalam jurang antar sistem.

Posisi Nico ini tidak hanya pengamat tapi petinju aktif, dia masih berlatihbersiap untuk pertarungan berikut nya.

Bahkan dia menyebut bahwa dalam waktu dekat akan kembali naik ring sebagai free agent langkah yang menegaskan penting nya kebebasan dalam menentukan karir.

Apa yang dia katakan bukan teori tapi pengalaman langsung.

Dia tahu bagaimana rasa nya berada dalam sistem, keputusan di luar ring bisa memengaruhi karir seorang petarung karena itulah dia memilih untuk berbicara.

Perdebatan soal revisi Muhammad Ali Act belum selesai masih banyak diskusi, negosiasi dan keputusan yang akan di ambil.

Namun suara seperti yang di sampaikan Nico Ali Walsh bahwa setiap perubahan harus di lihat secara menyeluruh bukan hanya dari apa yang terlihat di permukaan.

#NicoAliwalsh #Aliact

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top