Pada Sabtu 5 September 2026 waktu setempat Katie Taylor perempuan yang selama ini menjadi wajah tinju wanita dari Irlandia akan menjalani pertarungan terakhir dalam karir nya melawan Flora Pili dari Prancis yang tak terkalahkan datang tidak hanya menjadi bagian dari undangan perpisahan tapi akan merusak suasana.
Croke Park menjadi panggung yang selama bertahun tahun hanya hidup dalam mimpi Taylor sekarang sudah menjadi kenyataan, stadion ikonik Dublin itu akan dipenuhi sekitar 80 ribu penonton untuk menyaksikan untuk terakhir kali nya.
Taylor tidak melihat malam ini sesuatu yang menyedihkan tapi sebagai sebuah perayaan, jauh sebelum menjadi juara dunia, peraih medali emas Olimpiade dan salah satu nama terbesar dalam sejarah tinju wanita dia hanyalah seorang gadis dari keluarga biasa di Irlandia.
Dalam wawancara nya bersama Mathcroom dia mengingat masa kecil nya tidak banyak kemewahan, berkat keluarga nya di ajari bekerja keras, berani bermimpi besar dan percaya bahwa sesuatu yang luar biasa mungkin saja terjadi.
Ketika tinju wanita belum mendapatkan tempat seperti sekarang, Taylor sudah mengejar mimpi yang pada saat itu terdengar hampir tak mungkin, dia harus menyamar jadi laki-laki untuk mendapatkan kesempatan bertanding ketika masih muda.
Kemudian, perjuangan itu membawa nya ke panggung Olimpiade berujung pada medali emas di London 2012 pencapaian yang ikut membuka pintu besar bagi perkembangan tinju wanita.
Dari sana Taylor tidak berhenti, menjadi juara dunia di level profesional, menaklukkan berbagai lawan terbaik, menjadi juara tak terbantahkan di dua kelas dan terlibat dalam pertarungan yang membantu membawa tinju wanita ke panggung utama olahraga dunia.
Pertarungan nya melawan Amanda Serrano di Madison Square Garden pada 2022 menjadi salah satu tonggak terbesar, duel itu tidak hanya antara dua juara tapi pernyataan bahwa tinju wanita bisa menjadi acara utama menarik perhatian dunia, Serrano sendiri baru saja menyelesaikan urusan nya dengan Manzur yang di menangkan lewat keputusan mayoritas.
Taylor kemudian mengalami satu-satunya kekalahan dari Chantelle Cameron pada 2023 tapi 6 bulan kemudian membalas nya dan merebut kembali status juara tak terbantahkan, sekarang waktu nya tiba untuk meletakkan sarung tangan karena hidup nya berputar di sekitar tinju.
“Seluruh hidup saya selama ini terasa seperti satu kamp latihan besar, rutinitas, pengorbanan, disiplin semua nya menjadi bagian dari kehidupan saya, ada hubungan yang menjadi korban karena pengorbanan itu, tetapi saya tahu semua itu diperlukan untuk sampai ke titik ini, setelah pensiun nanti, tentu akan menyenangkan bisa sedikit bersantai dan menikmati hasil dari seluruh kerja keras yang sudah saya lakukan.”
40 tahun usia nya sekarang, sebagian besar hidup dewasa nya di habiskan untuk mengejar sesuatu yang pada awal nya bahkan belum tentu bisa terwujud, Taylor mengaku sudah memimpikan pertarungan di Croke Park selama sekitar empat atau lima tahun.
Ada masa ketika dia mulai berpikir bahwa pertarungan mungkin tidak akan pernah terjadi, kemudian telepon dari Brian Peters datang beberapa bulan lalu akhir nya terbuka.
Tiket terjual habis dan puluhan ribu orang bersiap memenuhi stadion untuk menyaksikan pertandingan terakhir Taylor, tempat di mana sebuah karier yang dimulai dari mimpi seorang gadis biasa mendapatkan panggung penutup yang luar biasa.
“Orang-orang terus bertanya kepada saya tentang pertarungan terakhir ini dan apakah saya merasa sedih, sejujurnya saya tidak melihatnya seperti itu tapi sebagai momen penuh kebahagiaan ketika bisa melihat kembali seluruh perjalanan karier saya, hati dipenuhi rasa syukur bertarung di tempat yang selama menjadi impian saya di depan orang-orang di negara saya sendiri adalah sesuatu yang luar biasa rasanya seperti semua bintang akhir nya berada di tempat yang tepat.”
Taylor tidak sedang mengejar kesempatan untuk membuktikan bahwa masih bisa bertinju namun akan menutup sebuah cerita.
Di tengah semua emosional ini ada yang tidak boleh di singkirkan, sang penantang 12-0, bagi Taylor ini adalah perpisahan tapi untuk Flora bisa menjadi malam ketika nama nya lahir di panggung dunia.
Di situlah bahaya terbesar pertarungan ini, Taylor tidak boleh membiarkan suasana Croke Park membuat pikiran nya meninggalkan ring, dia sendiri sadar bahwa pertarungan tetaplah perang tidak peduli berapa banyak orang yang datang atau berapa besar sejarah yang sedang di pertaruhkan.
Taylor mengaku harus menjaga emosi nya agar tidak mengganggu fokus, bagaimanapun Flora Pili masih berdiri dan kemenangan belum menjadi milik nya.
Stadion itu akan menjadi saksi ketika seorang legenda mengucapkan selamat tinggal kepada ring, satu lawan terakhir, setelah itu tidak ada lagi tersisa hanya kenangan.









