Mexico berkabung salah satu legenda tinju Miguel Canto yang pernah begitu dominan di kelas terbang meninggal dunia di usia 78 tahun, bagi generasi sekarang nama nya mungkin tidak sepopuler petinju era modern tapi bagi mereka yang mengikuti tinju dari tahun 70-an Canto adalah contoh bagaimana bertinju tidak selalu soal pukulan keras tapi juga kecerdasan, keuletan dan kontrol penuh di atas ring.
Canto bukan petinju yang membuat penonton terlonjak karena KO brutal, dari 61 kemenangan sepanjang karir nya hanya 15 yang berakhir KO, angka ini cukup untuk menunjukkan bahwa dia bukan petinju dengan kekuatan pukulan yang menakutkan namun di situlah letak kehebatan nya dia menang bukan dengan menghancurkan lawan tapi dengan membuat lawan nya tidak bisa berbuat apa apa
Perjalanan Canto menuju puncak juga tidak mudah, dia tumbuh di Merida Yucatan anak ke 4 dari 9 bersaudara, kehidupan sederhana membuat nya harus membantu orang tua sejak kecil termasuk berjualan di kios makanan.
Baca juga:
Kabar nya dia tidak bermimpi jadi petinju tapi ingin jadi pemain bisbol, semua nya berubah saat dia berusia 14 tahun kakak nya mengajak menonton pertandingan tinju antara dua petinju lokal Silverio Ortiz dan Carlos Navarrete dari sini benih minat nya mulai tumbuh.
Sejak saat itu dia mulai serius menekuni tinju menjalani 36 pertarungan amatir sebelum akhir nya beralih ke profesional, begitu masuk tidak butuh waktu lama untuk menunjukkan bahwa diri nya beda dari yang lain.
Julukan nya El Maestro menggambarkan cara nya bertarung, dia seperti guru di dalam ring mengatur dan memilih momen lalu menyerang dari sudut yang tidak terduga.
Setelah itu dia langsung bergerak lagi tidak pernah diam di depan lawan terlalu lama, prinsip nya memukul tanpa kena di pukul dia melakukan nya selama 15 ronde melawan petinju kelas dunia.
Gaya bertinju nya sering di bandingkan dengan Willie Pep petinju yang lebih mengandalkan otak dari pada otot, Canto bukan pelari bukan juga petinju defensif yang hanya bertahan, dia tetap menyerang namun dengan cara yang membuat lawan nya kebingungan, banyak yang mencoba menekan tapi malah kelelahan sendiri karena tidak menyentuh nya dengan telak.
Baca juga:
Puncak karir nya datang pada tahun 1975 saat itu dia pergi ke Jepang menghadapi Shoji Oguma untuk memperebutkan gelar WBC kelas terbang.
Ini bukan tugas mudah apalagi bertarung di kandang lawan tapi Canto tidak peduli dia tetap dengan gaya nya penuh perhitungan hasil nya menang angka dan resmi jadi juara dunia dari situ dominasi nya di mulai.
Canto bukan juara yang hanya sekali dua kali mempertahankan gelar dia melakukan nya sampai 14 kali, di kelas seperti flyweight itu bukan hal biasa setiap lawan datang dengan gaya berbeda dan strategi lain namun Canto selalu punya jawaban selalu ada cara untuk keluar dari situasi sulit.
Salah satu cerita paling seru dalam karir nya adalah saat dia membalas kekalahan dari Betulio Gonzalez, sebelum nya Canto sempat gagal saat pertama kali mencoba merebut gelar tapi saat sudah jadi juara dia kembali bertemu Gonzalez dan berhasil membalikkan keadaan itu menunjukkan bahwa dia bukan hanya pintar di ring tapi juga belajar dari kesalahan.
Dia juga bertemu kembali dengan Oguma, Canto yang keluar sebagai pemenang itu memperkuat posisi nya sebagai raja di kelas terbang saat itu, namun semua kejayaan pasti ada masa nya.
Baca juga:
Tahun 1979 Canto harus kehilangan gelar nya setelah kalah tipis dari Chan Hee Park. kekalahan itu tidak telak tapi cukup untuk mengakhiri dominasi nya, mereka sempat bertemu lagi tapi hasil nya hanya imbang, setelah itu karir nya perlahan meredup dia masih sempat naik ring beberapa kali namun tidak lagi dengan level yang sama bahkan tiga pertarungan terakhi rnya berakhir dengan kekalahan KO.
Canto tidak hanya jago kandang dia juga bertarung di luar negeri di Jepang, Aamerika Serikat, Venezuela, Chile dan Korea Selatan, di era sekarang itu mungkin biasa tapi di masa itu bepergian ke berbagai negara untuk bertarung bukan hal ringan.
Dalam sebuah wawancara tahun 2016 Canto pernah menjelaskan bagaimana memandang tinju, dia mengatakan bahwa menikmati setiap momen di ring, saat menjadi juara dunia tidak takut menerima pukulan tapi belajar bagaimana menghindari nya, kata yang menggambarkan filosofi bertinju nya dengan jelas.
Dia tidak berusaha terlihat hebat dengan cara yang berlebihan hanya melakukan apa yang perlu untuk menang.
Baca juga:
Pengakuan terhadap karir nya datang dari berbagai pihak, salah satu nya masuk ke International Boxing Hall of Fame pada tahun 1998 setahun kemudian di nobatkan sebagai Flyweight of the Century bersama Pancho Villa.
Itu bukan penghargaan biasa dia di anggap sebagai salah satu yang terbaik sepanjang sejarah di kelas nya, WBC juga memberikan penghormatan dengan menyebut nya sebagai sosok yang tidak tergantikan, mereka menyoroti gaya, kecerdikan, kemampuan, keberanian dan profesionalisme nya sebagai contoh bagi generasi berikut nya.
Kepergiannya di usia 78 tahun memang menutup satu dalam sejarah tinju namun kenangan nya tidak akan hilang, setiap petinju yang belajar footwork secara tidak langsung sedang belajar dari apa yang pernah dia tunjukkan di ring.
Sang guru mungkin sudah tidak ada tapi gaya bertinju nya akan terus hidup Miguel Canto memberikan pelajaran bahwa kecerdasan juga bisa jadi senjata paling mematikan.
Baca juga:
#Miguelcanto #Legendamexico









