Hari Natal selalu punya citra yang sama di kepala banyak orang, rumah hangat, meja makan penuh, tawa keluarga dan dunia yang seolah berhenti sejenak dari hiruk pikuk nya, tapi ada hari yang sama sekali tidak di isi doa atau pelukan malah bunyi lonceng ronde sarung tinju juga keringat bercampur darah.
Tinju sejak awal memang tidak pernah peduli pada kalender libur, tanggal merah hanyalah tulisan angka, dua nama besar dalam sejarah olahraga ini membuktikan nya dengan cara paling ekstrem yaitu Harry Greb dan Sugar Ray Robinson.
Dua legenda dari era berbeda tapi di satukan oleh satu kesamaan yang nyaris absurd mereka bertarung tepat 25 Desember di saat dunia sedang merayakan Natal.
Ini adalah potret mental petarung sejati ketika profesi dan harga diri jauh lebih kuat dari pada makna hari raya itu sendiri, natal bagi mereka bukan tentang libur tapi soal bertahan hidup dan keharusan untuk tetap berdiri di atas ring.
Untuk memahami kenapa Harry Greb dan Sugar Ray Robinson bisa bertarung tepat di hari Natal kita harus menaruh diri di zaman nya.
Kalau kita pakai kacamata era sekarang itu aneh bahkan kejam, pada awal hingga pertengahan abad ke 20, tinju berdiri di atas logika yang sama sekali berbeda.
Pada masa itu tinju bukan industri raksasa seperti sekarang, tidak ada kalender pertandingan yang tertata tentu saja tidak ada istilah libur akhir tahun, petinju hidup dari pertarungan ke pertarungan, jika tidak bertarung mereka tidak gajian.
Banyak petinju zaman dulu tidak punya kemewahan untuk memilih tanggal, promotor menawarkan laga dan petinju menerima.
Natal tahun baru bahkan hari minggu semua nya sama saja ring tetap di pasang, penonton tetap datang dan uang harus di cari.
Pandangan saya justru hari libur seperti Natal sering di anggap waktu emas, orang2 tidak bekerja, kota lebih hidup, arena bisa terisi penuh, tinju pada era itu adalah hiburan rakyat datang ke gedung pertunjukan atau arena tinju di hari libur bukan sesuatu yang ganjil malah lazim.
Jadi bertarung di tanggal itu bukan skandal tapi praktik umum, kalau kita tarik lebih jauh ini juga berkaitan dengan latar belakang sosial para petinju, banyak dari mereka berasal dari imigran atau lingkungan miskin.
Penulis juga melihat bahwa sistem federasi belum seketat sekarang, tidak ada badan yang mengatur jumlah laga per tahun atau ada perlindungan kesehatan jangka panjang.
Seorang petinju bisa bertarung belasan kali dalam setahun bahkan puluhan satu pertarungan di hari Natal tidak istimewa, olahraga ini di bangun di atas pengorbanan, tinju tidak peduli pada perayaan, tradisi atau hari suci yang ada hanya dua orang di atas ring, satu pemenang dan pulang dengan luka.
1. Harry Greb dan Natal 1923.
Tidak ada tokoh yang lebih cocok mewakili kegilaan tinju era lama selain Harry Greb bahkan sebelum membahas pertarungan Natal nya harus di pahami lebih dulu Greb bukan petinju normal.
Dia adalah petarung yang seolah di ciptakan dari kelelahan, luka dan keberanian yang di luar logika, bertarung terlalu sering untuk ukuran manusia, dia melawan siapa saja kapan dan di kelas apa saja.
Greb hidup di dalam ring, di luar hidup nya nyaris tidak tercatat dengan jelas, yang tersisa hanyalah daftar lawan, tanggal pertarungan dan reputasi sebagai petinju yang di benci sekaligus di takuti.
Ketika 25 Desember 1923 tiba Greb tidak sedang berada di puncak ketenaran yang santai tapi di masa karir yang padat, brutal, dan melelahkan, dalam tahun2 itu dia bisa bertarung dua hingga tiga kali dalam sebulan, natal bukan sesuatu yang waaah banget bagi Greb itu hanyalah satu tanggal di antara puluhan tanggal pertarungan lain nya.
Laga melawan Tommy Loughran di Pittsburgh bukan laga iseng ini adalah pertarungan serius antara dua petinju elite di sinilah karakter Greb terlihat dia tidak menurunkan tempo hanya karena hari itu Natal.
Tidak ada indikasi bahwa laga ini di anggap khusus secara emosional, Greb masuk ring seperti biasa siap membuat pertarungan menjadi kacau.
Sejak ronde awal inilah yang membuat kisah begitu kuat, Greb di kenal sebagai petinju yang tidak memberi harapan lawan dia menyerang dari sudut aneh memukul sambil bergerak terus memaksa bertarung dengan irama yang membingungkan.
Melawan Loughran petinju teknikal menciptakan pertarungan yang penuh gesekan bagi Greb itu adalah habitat alami.
Kemenangan Greb di hari itu bukan cuma angka di rekor nya namun bukti konsistensi, mental petinju zaman dulu dan sekarang hampir punah, bertarung adalah pekerjaan bukan momen.
Ketika lonceng akhir berbunyi, Greb menang, lalu pulang, tidak ada perayaan besar hanya satu malam lagi di mana Harry Greb melakukan apa yang selalu dia lakukan, menang dan bersiap untuk pertarungan berikut nya.
2. Sugar Ray Robinson1950
kisah Sugar Ray Robinson bertarung di hari Natal lebih sunyi di banding Harry Greb, di tahun 1950 sudah berada di masa hidup yang lain, dia bukan petinju yang bertarung karena terpaksa tapi karena pilihan di situlah makna Natal nya lebih lengkap.
Kala itu Robinson berada jauh dari Amerika dan dari suasana Natal yang biasa dia kenal dia berada di Frankfurt Jerman menjalani tur Eropa yang panjang.
Lawan nya Hans Stretz bukan nama besar dunia tapi di sinilah poin nya, ini bukan soal siapa lawan namun kenapa tetap bertarung, Robinson saat itu sudah menjadi bintangnjuara NBA atau WBA yang kita kenal sekarang, dia tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun itulah yang membuat keputusan nya naik ring di hari natal sangat kuat.
Kalau penulis bilang ini bukan tentang ambisi semata tapi kebiasaan seorang legenda yang tidak tahu cara nya berhenti.
Berbeda dengan Greb yang tumbuh di sistem tanpa pilihan Robinson hidup di era transisi, tinju mulai menjadi tontonan internasional dan mulai menjadi figur publik lintas negara, tur Eropa Robinson adalah bagian dari itu dia bukan hanya bertarung sebagai individu tapi sebagai wajah tinju Amerika.
Natal di Frankfurt tentu bukan yang hangat ada kesunyian di balik keputusan itu, di saat orang berkumpul dengan keluarga Robinson berdiri di ruang ganti mempersiapkan diri seperti hari2 lain nya.
Laga ini berjalan sesuai ekspektasi, Robinson terlalu cepat, cerdas dan terlalu komplit, dia menghentikan lawan nya dengan tegas TKO di ronde ke 5.
jika di renungkan Natal Robinson di tahun 1950 bukan tentang pengorbanan fisik pengorbanan emosional, dia memilih ring dari pada rumah dan sorak penonton dari pada kehangatan keluarga.
Inilah perbedaan besar antara Greb dan Robinson, Greb bertarung di hari Natal karena dunia tidak memberi nya alternatif Robinson karena mental juara membuat nya tetap berjalan ke depan bahkan saat kalender seharus nya berhenti.
Ketika laga itu selesai Robinson tetap menjadi legenda yang terus bergerak menulis sejarah bahkan di hari yang bagi orang lain adalah waktu untuk berhenti.
Harry Greb dan Sugar Ray Robinson hidup di zaman yang berbeda,menjalani karir di dunia tinju yang tidak sama.
Harry Greb adalah produk dari era yang kasar dan nyaris tanpa belas kasihan, tinju pada masa nya adalah perjuangan bertahan hidup tidak ada jaminan masa depan juga keamanan finansial dan bertarung itu karena dia memang tidak punya konsep hari libur.
Sugar Ray Robinson sebalik nya bertarung di era yang lebih modern, dia punya nama, uang dan status bisa saja berkata tidak.
Tapi di sinilah kesamaan nya dengan Greb muncul, Robinson tetap naik ring menjalani rutinitas petarung, meskipun dunia di sekitar nya mulai berubah, di era sekarang ini pertarungan adalah event besar yang di rencanakan berbulan dengan kalender dan jeda panjang sedangkan dulu bertarung adalah bagian dari hidup bukan acara khusus.
Tidak semua orang sanggup menempatkan profesinya di atas perayaan, rutinitas di atas emosi dan tanggung jawab di atas kenyamanan.
Greb dan Robinson mungkin tidak pernah saling bertarung bahkan tidak pernah hidup di era yang sama tapi secara mental mereka berada di satu garis lurus yang mengatakan bahwa petinju sejati tidak berhenti hanya karena dunia sedang libur.
Inilah pelajaran paling menyentuh, bukan siapa yang lebih hebat atau berani tapi tentang konsistensi sesuatu yang tidak bisa di latih dalam seminggu dan juga di beli dengan uang.
Pengamatan saya petinju zaman dulu tidak di ajarkan untuk memisahkan hidup pribadi dan profesi, ring masuk ke dalam hidup mereka bahkan hari berkabung semua nya bisa tergeser oleh jadwal pertandingan.
Dalam hal itu keputusan Harry Greb dan Sugar Ray Robinson memang beda, bukan karena mereka tidak peduli pada keluarga atau makna Natal tapi tinju tidak memberi ruang untuk kompromi emosional.
Kisah ini membuat saya bertanya seberapa besar kita bersedia mengorbankan hari penting demi pekerjaan kita dan seberapa banyak yang rela melakukan itu tanpa keluhan??
Baca juga:
#Sugarrayrobinso #Harrygreb #Natal









