Vanes Martirosyan mungkin bukan petinju yang paling sering muncul di headline mainstream, tapi buat para penggemar tinju terutama yang mengikuti kelas menengah dan junior menengah sejak pertengahan 2000 an nama nya adalah salah satu yang susah di lupakan.
Bukan hanya karena prestasi nya tapi juga karena perjalanan karirn ya yang penuh drama dan pada akhir nya di tutup oleh kabar duka yang bikin banyak orang patah hati, di usia yang terbilang muda untuk mantan atlet profesional baru 39 tahun Martirosyan meninggal dunia setelah berjuang selama dua tahun melawan kanker kulit.
Kisah ini bukan cuma tentang seorang petinju yang pergi tapi juga tentang seorang manusia yang menjalani hidup nya dengan keberanian sampai MALAIKAT MAUT menjemput.
Kabar kematian nya pertama kali di konfirmasi oleh bernie bahrmasel dan Presiden WBC Mauricio Sulaiman menyampaikan berita tersebut.
Yang membuat nya sedih Martirosyan tidak meninggal tiba tiba seperti Paul Mccullagh jr, dia bertarung selama dua tahun melawan kanker sel skuamosa squamous cell carcinoma penyakit yang tidak semua orang tahu bisa se ganas itu.
Petinju yang selama hidup nya di kenal punya nyali besar ternyata harus bertarung lagi di ring melawan penyakit yang tidak pandang bulu.
Dia lahir di Armenia namun Martirosyan pindah bersama keluarga nya ke Glendale California, sejak muda sudah menunjukkan bakat besar di ring, prestasi paling gemilang nya di level amatir sudah terlihat saat dia menembus Tim Olimpiade Amerika Serikat dan bertanding di Athena pada tahun 2004.
Ini bukan hanya jadi kontestan pelengkap Martirosyan bahkan mengalahkan Andre Berto di kualifikasi sesuatu yang cukup besar kalau kita ingat bagaimana karier Berto berkembang selanjut nya.
Di Olimpiade 2004 Martirosyan terhenti di babak kedua setelah kalah angka dari Lorenzo Aragon dari Kuba tapi penampilan nya sudah cukup untuk menarik perhatian banyak promotor.
Tak lama setelah itu dia terjun ke tinju profesional, ini dia yang bikin orang kagum jika ada perjalanan karir yang MULUS di awal Martirosyan salah satu nya.
Rekor 32 pertandingan tak terkalahkan 20 menang KO, Satu satu nya NODA hanya hasil imbang melawan Erislandy Lara yang nanti nya menjadi juara WBA.
Martirosyan punya gaya bertarung yang mengandalkan volume pukulan dan stamina ajib, tidak mengherankan kalau akhir nya dia mendapat kesempatan bertarung memperebutkan gelar dunia.
Sayang nya di sinilah karir nya mulai diwarnai TRAGEDI kecil, salah satu yang bikin banyak fans merasa bersimpati pada Martirosyan adalah nasib kurang beruntung nya di partai gelar dunia.
Dia total tiga kali menantang sabuk juara namun ketiga nya berakhir tidak sesuai harapan melawan Demetrius Andrade 2013 dalam perebutan gelar WBO junior middleweight kalah tipis via split decision, banyak yang menilai pertarungan ini super ketat bahkan beberapa fans merasa Martirosyan HARUS NYA menang.
Melawan Erislandy lara 2016 lagi lagi kalah angka, dia yang kemudian menjadi salah satu petinju paling dominan di divisi ini harus bekerja keras menghadapi Martirosyan.
Kemudian melawan Gennadiy Golovkin 2018 raja kelas menengah dan ini adalah yang paling dikenal karena menjadi pertarungan terakhir Martirosyan, saat itu menggantikan Canelo secara mendadak dalam promosi besar kalah dalam dua ronde.
Walaupun tidak pernah menyentuh gelar dunia Martirosyan tetap di hormati, tidak banyak petinju yang tiga kali menantang gelar dan semua kekalahan nya datang dari juara dunia di masa keemasan mereka.
Jangan lupakan ini martirosyan pernah mengalahkan Kassim Ouma dan juga Ishe Smith, dua mantan juara dunia yang bukan lawan seperti ROTI sisir yang lembut dan sedaap.
Sang presiden WBC Mauricio Sulaiman jelas kehilangan seorang teman, dia menyebut Martirosyan sebagai sosok baik dan punya hati besar bahkan ada cerita yang mungkin tidak di ketahui banyak orang, di tengah kesulitan finansial yang dia hadapi sendiri masih menyumbang uang untuk keluarga Israel Vazquez mantan juara dunia yang sedang berjuang menghadapi masalah kesehatan.
Berbicara siapa yang ikut berjasa besar membentuk karier Martirosyan Wild Card Boxing Club harus masuk daftar, ini adalah rumah bagi banyak petinju kebanggaan dunia termasuk Manny Pacquiao.
Wild Card mengunggah pesan panjang yang emosional, mereka menyebut Martirosyan bukan cuma atlet tapi ayah, suami, anak, teman yang berjuang habis habisan untuk tetap hidup demi keluarga, kata terakhir itu yang paling mengena.
Gone far.. far too soon.
Tidak berlebihan usia 39 terlalu muda untuk siapa pun, pada tahun 2024 tepat saat kondisi nya semakin berat Martirosyan berbicara dalam wawancara, di sana dia cerita jujur bagaimana keras nya perjuangan melawan kanker.
Setiap komentar, DM, doa dan dukungan fans begitu berarti buat dia, ini mengingatkan kita pada hal yang sangat manusiawi, setiap orang bahkan petarung setangguh apa pun tetap membutuhkan dorongan moral.
Dia bahkan memberikan pesan untuk orang lain yang sedang sakit berharap yang terbaik untuk semua yang sedang berjuang melawan penyakit, kata2 ini simpel tapi terasa tulus, seorang petarung di tengah penderitaan masih memikirkan orang lain.
Setiap orang yang terlihat kuat sering kali diam diam sedang menahan sakit yang besar, dia adalah contoh manusia yang berjuang sampai akhir, dalam ring maupun di luar ring, seorang atlet yang tidak hanya mengayunkan pukulan tapi juga memberikan contoh karakter dan empati.
Selamat beristirahat Vanes Martirosyan semoga tenang di sana perjuanganmu sudah selesai.
Buat penggemar yang membaca ini semoga hidup kita bisa punya setidak nya sedikit dari keberanian yang sama AMIIIIN.
Baca juga: Kisah lengkap rivalitas Humberto gonzalez vs michael carbajal.
#Vanesmartirosyan









