Joshua Buatsi sebenar nya menutup pertarungan dengan tekanan lebih meyakinkan, sayang nya kebangkitan nya datang terlambat, keunggulan yang telanjur di bangun Willy Hutchinson pada paruh pertama pertandingan menjadi penentu hasil akhir sekaligus mengantarkan petinju Skotlandia itu meraih gelar juara dunia kelas berat ringan WBC di Manchester.
Hutchinson menang melalui keputusan angka mutlak setelah melewati 12 ronde, dua hakim memberikan skor 115-113, sedangkan satu hakim lain mencatat keunggulan lebih lebar 117-112, hasil ini membuat Hutchinson membalas kekalahan nya dari Buatsi dalam pertemuan mereka sebelum nya.
Sejak awal pertandingan, Hutchinson tidak berniat meladeni Buatsi dalam adu pukulan terbuka, dia memilih bergerak lalu menyelinap ke arah lawan nya dengan pukulan balasan saat masuk ke area serang.
Buatsi terlihat kesulitan mengikuti nya, beberapa kali mengejar Hutchinson mengitari ring tetapi tidak cukup cepat menutup ruang, saat akan melepaskan pukulan keras lawan sudah lebih dulu berpindah posisi.
Petinju Skotlandia itu juga cukup cerdik membaca kesempatan, ketika Buatsi mulai mengerahkan tenaga untuk melancarkan pukulan, Hutchinson langsung menyambut nya dengan serangan ke kepala sebelum kembali menjauh, cara bertarung seperti ini membuat nya tak bisa membangun tekanan dengan leluasa.
Buatsi berusaha mengubah keadaan dengan mengincar tubuh tetapi sasaran yang terus bergerak membuat pekerjaan nya tidak mulus, Hutchinson tidak banyak memberikan kesempatan untuk berdiri lama untuk melepaskan kombinasi pukulan.
Memasuki ronde tengah, Buatsi seperti nya mulai menemukan jalan keluar, dia tidak lagi terlalu sibuk mengejar dari jarak jauh, mulai memaksakan pertarungan hanya berjarak sejengkal, di sinilah kekuatan fisik nya mulai terlihat.
Pukulan hook Buatsi mulai menghantam bagian rusuk Hutchinson, dampak nya perlahan terasa, footwork nya tidak lagi selincah sebelum nya sementara Buatsi semakin tenang maju ke depan.
Hutchinson menghentikan laju lawan nya pada ronde ke 7 dengan mengandalkan jab untuk mengatur dan membuat Buatsi mundur, namun upaya tersebut tidak bertahan lama karena tekanan fisik yang di berikan petinju London itu semakin berat.
Situasi semakin ak terkendali bagi Hutchinson ketika memasuki ronde terakhir, serangan nya mulai berkurang, dia tidak lagi bergerak seperti pada awal pertandingan, Buatsi melihat kesempatan itu dengan terus memburu tubuh juga kepala.
Beberapa kali Hutchinson harus bertahan di dekat tali ring mengangkat kedua tangan untuk menutup pertahanan, menggunakan clinch ketika Buatsi mulai melancarkan serangan beruntun.
Buatsi lebih ganas dengan melepaskan pukulan dengan tenaga penuh berusaha mengejar ketertinggalan sebelum bel terakhir berbunyi tapi kebangkitan itu belum cukup untuk membalikkan hasil pertandingan.
Keputusan hakim setelah 12 ronde juga masih di perdebatkan, salah satu catatan tidak resmi di sisi ring memberikan kemenangan 115-113 kepada Buatsi, penilaian itu di dasarkan pada tekanan dan serangan keras yang dia hasilkan sepanjang paruh kedua laga.
Apapun itu dua hakim resmi tetap memberikan kemenangan 115-113 kepada Hutchinson, mereka tampak nya lebih menghargai keunggulan pada paruh pertama pertandingan, skor 117-112 dari hakim lain nya membuat hasil akhir semakin menjadi bahan pembicaraan.
Kemenangan ini memang sudah lama di tunggu, pada pertemuan September 2024 dia harus menerima kekalahan dari Buatsi, sekarang dia mampu menyelesaikan pertarungan selama 12 ronde tanpa menyentuh kanvas dan membawa pulang gelar WBC.
Sedangkan Buatsi harus memikirkan kembali gaya bertarung nya, dia baru memberikan tekanan besar ketika sudah berlalu, penampilan pada paruh kedua sebenarnya mampu menyulitkan Hutchinson tetapi waktu yang tersisa tidak cukup untuk mengejar seluruh ketertinggalan nya, ini hampir mirip dengan hasil pertarungan antara Ben Whittaker melawan Conor Wallace bulan lalu.

















