Headline

Canelo Alvarez Tak 100 Persen, Algieri Prediksi Mbilli Bisa Menang

Canelo bisa kalah atas Mbilli jika tidak 100%

Christian Mbilli tidak harus memiliki pukulan yang lebih keras dari pada Canelo Alvarez untuk membuat pertarungan mereka berjalan sulit, petinju kelahiran Kamerun itu punya senjata yang bisa menjadi masalah besar lewat tekanan tanpa henti dan rentetan pukulan yang memaksa nya terus terdesak.

Inilah yang membuat Chris Algieri meragukan peluang Canelo jika petinju Meksiko itu tidak kembali ke ring dalam kondisi terbaik nya yang hanya berada pada level 80 persen belum tentu mampu melewati Mbilli.

Penilaian itu berbeda dari prediksi Terence Crawford yang sebelum nya menjagokan Canelo untuk menghentikan Mbilli walaupun mengakui bahwa agresivitas nya bisa menjadi ancaman, tetapi dia melihat mantan lawan nya itu lebih mungkin keluar sebagai pemenang.

Algieri melihat kemungkinan untuk menentukan hasil akhir, apakah Canelo masih sanggup mengendalikan pertarungan ketika lawan nya tidak berhenti menyerang.

Di acara bertajuk Saul- The Return Of Canelo Alvarez, Algieri mengatakan bahwa pantas mendapat penghargaan karena berani kembali setelah menjalani operasi dan absen cukup lama, langsung menghadapi lawan dengan karakter seperti Mbilli.

“Bisakah kita sedikit menghargai dia karena kembali setelah lama absen dan menjalani operasi, lalu langsung menghadapi Mbilli? menurut saya, gaya Mbilli sebenar nya cocok dengan gaya Canelo, namun Canelo seperti apa yang akan kita lihat? jika kemampuannya sedikit saja menurun, Canelo dalam kondisi 80 persen mungkin tidak akan mampu mengalahkan Mbilli, dia harus berada dalam kondisi terbaik untuk pertarungan itu,” kata Algieri.

Pada usia 36 tahun, setelah lama menjalani pertarungan tingkat tinggi, dia juga harus membuktikan bahwa tubuh nya masih mampu menghadapi lawan yang memaksakan tempo tinggi sejak bel pembuka.

Canelo sudah berulang kali menghadapi petinju liar, sering mendapat keuntungan ketika lawan berusaha menekannnya karena kebiasaan menyerang itu bisa membuka celah bagi pukulan balasan yang akurat, namun Mbilli punya cara bertarung yang tidak selalu mengikuti cara tersebut, dia akan terus maju melontarkan pukulan dengan kombinasi dan mempertahankan tekanan meskipun lawan nya berhasil mendaratkan serangan.

Super star Meksiko itu biasa nya membuat lawan nya berpikir dua kali setelah menerima pukulan keras, mulai mundur, mengurangi agresivitas atau menunggu kesempatan lebih aman, jeda semacam itu memberi Canelo waktu untuk mengatur lalu menentukan dari arah mana harus kembali menyerang.

Mbilli kemungkinan akan membuat situasi lebih sulit, bila dia tetap maju setelah terkena pukulan balasan, Canelo tidak bisa begitu saja berpikir serangan nya sudah cukup untuk menghentikan momentum lawan, tapi mendaratkan pukulan telak belum tentu mengendalikan jalan nya pertarungan, dia harus bisa menyelipkan serangan nya untuk menghentikan langkah Mbilli tidak hanya mengenai sasaran.

Menghadapi tekanan seperti itu tentu menguras tenaga petinju mana pun termasuk mereka yang masih berada di puncak karir, tantangan Canelo bertambah karena dia baru kembali setelah lama absen sejak kalah dari Crawford.

Canelo memiliki pengalaman panjang dan kecerdasan bertarung untuk mengatur, namun kemampuan membaca nya belum tentu seimbang ketika tubuh tidak lagi mampu menjalankan rencana seperti yang di inginkan, bila gagal membuat Mbilli mengurangi tekanan nya pada ronde awal, pertarungan bisa berubah menjadi ujian ketahanan yang berat.

Mbilli tidak harus selalu mendaratkan pukulan telak ke kepala untuk menguras tenaga lawan, serangan ke tubuh, lengan, bahu, dan rusuk juga dapat menambah beban fisik terutama jika dilakukan berulang kali.

Peringatan Algieri bisa di jadikan bahan diskusi, Canelo yang berada dalam kondisi prima mungkin memiliki cukup kemampuan untuk menghukum Mbilli setiap kali dia terlalu terbuka, tapi bila stamina atau pergerakan nya menurun peluang untuk memanfaatkan nya bisa semakin sedikit.

Canelo membutuhkan pertahanan yang aktif bukan hanya menutup diri dan menunggu kesempatan membalas, dia harus mampu mengubah sudut, memutar posisi dan membuat Mbilli mengatur ulang serangan nya, terlalu lama terjebak di dekat tali ring, berisiko menerima rentetan pukulan sambil kehilangan kesempatan untuk mengembalikan kendali.

Pertarungan ini mengingatkan pada Canelo melawan Sergey Kovalev pada November 2019, saat itu dia menghadapi Kovalev yang sudah berusia 36 tahun dan memiliki banyak pertarungan berat sepanjang karir nya.

Canelo tidak harus terus-menerus bertukar pukulan dengan intensitas tinggi, dia membaca situasi, memanfaatkan kondisi lawan yang mulai kehabisan tenaga lalu mengakhiri pertarungan melalui knockout pada ronde ke-11, Kovalev ketika itu memperlihatkan tanda kelelahan dan pukulan nya mulai kehilangan efektivitas.

Sekarang Canelo berada pada usia yang sama ketika menghadapi Kovalev, beda nya dia berhadapan dengan petinju yang dikenal terus menekan, Mbilli tidak harus menunggu kehabisan tenaga untuk mulai meningkatkan intensitas serangan karena tekanan itu sudah menjadi bagian utama dari permainan nya.

Rangkaian pertarungan melawan Jaime Munguia, Edgar Berlanga, William Scull, dan Crawford juga memperlihatkan bahwa Canelo kerap mengandalkan serangan dalam ledakan singkat, diselingi dengan lebih banyak mengamati atau bertahan, itu tidak berarti kehilangan kemampuan, sebab pengaturan energi adalah strategi seorang petinju berpengalaman.

Prediksi Algieri berbeda dengan Jaime Munguia yang menjagokan Canelo akan menang KO, tetapi tidak menyebutkan ronde yang dia perkirakan menjadi akhir pertarungan.

Algieri tidak mengatakan bahwa Mbilli pasti akan menang, peringatan nya lebih terarah pada kondisi Canelo dan besar nya tuntutan fisik yang akan di hadapi nya, jika tampil mendekati kemampuan terbaik nya, dia masih memiliki akurasi serta kekuatan untuk mengalahkan sang juara WBC itu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top