Setelah serangkaian kekalahan yang merobohkan aura Deontay Wilder, dia memutuskan mengganti Malik Scott dengan Don House sebagai pelatih utama jelang duel melawan Derek Chisora.
Saat di tanya Wilder menyebut Scott sebagai saudara, dia menolak menyalahkan siapa pun bahkan mengakui bahwa masalah utama nya dulu adalah mental bukan taktik, tapi di balik semua itu apakah ini reset yang di butuhkan atau cara halus untuk menggeser tanggung jawab???
Wilder dulu bukan petinju teknis atau ahli footwork juga bukan master defensif namun dia punya satu senjata paling mematikan yaitu tangan kanan nya itu saja sudah cukup untuk membuat nya jadi juara WBC selama bertahun tahun senjata itu kini tidak lagi terlihat sama.
Setelah trilogi brutal melawan Tyson Fury, Wilder memang sempat bangkit dengan KO cepat atas Robert Helenius tapi dua kekalahan berikut nya dari Joseph Parker dan Zhilei Zhang menunjukkan sesuatu yang lebih dalam dari kekalahan angka.
Wilder terlihat lambat, ragu dan tidak lagi percaya penuh pada pukulan nya sendiri, ini jelas bukan soal pelatih tetapi kondisi mental dan fisik seorang petarung yang sudah melewati perang besar.
Ketika Wilder memecat Mark Breland usai kekalahan kedua dari Fury keputusan itu penuh kontroversi, breland adalah pelatih berpengalaman, mantan juara dunia dan figur teknis yang kredibel.
Mengganti nya dengan Malik Scott mantan lawan yang dia KO dalam satu ronde terlihat lebih emosional dari pada strategis.
Saat itu scott bukan hanya sebagai pelatih dia adalah orang kepercayaan, orang yang ada di sisi Wilder saat dia merasa dunia mulai berbalik, mungkin memang itu yang di butuhkan Wilder saat itu loyalitas bukan kritik tapi loyalitas tidak selalu menghasilkan perbaikan teknis.
Dalam pertarungan ketiga melawan Tyson Fury, Wilder tampil lebih berani tapi tetap kalah, dalam laga setelah nya kebiasaan lama muncul lagi mengandalkan momen bukan membangun sistem.
Wilder kini mengatakan bahwa bahkan jika Emanuel Steward berada di sudut nya, hasil nya tetap akan sama karena secara mental dia tidak ada di sana.
Kata ini seperti membela Scott dan dia secara tidak langsung mengakui bahwa seluruh masa itu berjalan tanpa fondasi mental yang kuat, kemudian masuklah Don House seorang pelatih yang pernah menangani banyak juara di tinju dan MMA figur ini lebih teknis dan lebih keras.
Wilder mengatakan dia butuh perubahan arah sebuah pengakuan bahwa jalur sebelum nya tidak lagi efektif.
Di usia 40 tahun dengan rekor 44-4-1 dan 43 KO, Wilder tidak punya banyak waktu untuk eksperimen, duel melawan Derek Chisora tidak hanya laga comeback namun ujian apakah dia masih bertaring atau hanya nama besar yang perlahan memudar.
Dalam kondisi seperti ini mengganti pelatih bisa dilihat dua cara, Langkah profesional untuk reset total atau cara untuk menunjukkan bahwa ada yang berubah tanpa menyentuh akar masalah.
Apakah Wilder Sedang Mencari Kambing Hitam??
Secara terbuka dia tidak menyalahkan Scott bahkan memuji kontribusi nya, dia berkata mereka sama sama menang.
jika benar masalah nya murni mental mengapa tidak mempertahankan pelatih yang membantu nya secara emosional dan fokus memperbaiki aspek itu??? kenapa mengganti figur yang di sebut nya sebagai saudara?
Jawaban nya mungkin karena Wilder tahu bahwa untuk bangkit, dia tidak bisa lagi bertarung dengan gaya lama.
Pertarungan melawan Derek Chisora di O2 Arena akan jadi pembuktian, jika Wilder tampil meyakinkan, bergerak lebih sabar, membangun serangan, tidak hanya menunggu tangan kanan maka keputusan menunjuk Don House akan terlihat seperti reset yang berhasil.
Tapi jika dia kembali terlihat statis, lambat dan mengandalkan satu momen KO yang tak kunjung datang maka publik akan tahu bahwa masalah nya bukan di sudut ring.
Masalah nya ada pada tubuh yang menua dan pikiran yang telah terlalu banyak melalui rintangan.
Menurut saya pribadi inti persoalan Wilder bukan pada Scott atau House ini soal identitas, selama ini dia bertarung dengan keyakinan bahwa dia hanya butuh satu pukulan dan itu gagal saat Fury bangkit dari kanvas dan mengalahkan nya, sejak saat itu aura menakutkan nya mulai hilang.
Mengganti pelatih adalah langkah untuk membangun ulang identitas tersebut, tapi itu tidak cukup Wilder harus menerima bahwa versi lama nya mungkin sudah tidak ada.
Jika dia ingin bertahan harus menjadi petinju yang berbeda lebih lengkap dan itu jauh lebih sulit dari pada mengganti nama di sudut ring.
Jadi apakah Wilder sedang mencari kambing hitam? seperti tidak dia malah terdengar cukup jujur mengakui bahwa mental nya remuk tapi juga tidak yakin bahwa perubahan pelatih otomatis menjadi solusi.
Jika jawaban nya iya maka Don House bisa menjadi arsitek kebangkitan terakhir nya, bila tidak maka duel melawan Chisora mungkin hanya menjadi penurunan yang sudah lama di mulai.
Baca juga:
#Deontaywilder









