Kekalahan Conor Benn dari Ryan Garcia ternyata membuat Carl Froch melihat sesuatu yang lebih besar dari pada hanya strategi atau kesalahan dalam satu pertarungan, menurut mantan juara dunia kelas menengah super itu dia memang punya keberanian, kondisi fisik dan keyakinan yang besar terhadap kemampuan sendiri, yang jadi masalah ketika berhadapan dengan petinju elite kekurangan dasar dasar tinju akhir nya terlihat.
Banyak orang tak percaya Benn di hentikan hanya di ronde ke 2 karena duel ini sudah ramai sebelum mereka saling tangkis menangkis di dalam ring, tapi bagi Froch hasil itu bukan kejutan.
Dia melihat Garcia memang berada satu tingkat di atas Benn dalam hal kemampuan teknis, kecepatan, pergerakan kaki dan kemampuan membaca lawan, saat dia memberikan tekanan dari awal, sang juara sudah mampu mengontrol situasi yang kemudian menemukan momen untuk mengakhiri pertarungan.
Froch melihat Benn sebenar nya datang dengan persiapan serius dan kekalahan itu bukan karena tidak berusaha, namun ada bagian yang tidak bisa begitu saja di gantikan oleh latihan keras yaitu pengalaman dan dasar teknik harus di bangun sedari kecil.
“Saya melihat Conor Benn sangat percaya pada diri nya sendiri, seseorang yang bugar, kuat berlatih seperti orang gila, tapi dia kekurangan fundamental dan hal-hal dasar yang dimiliki petinju profesional papan atas, saya pernah melakukan sparring dengan juara dunia dan menjalani pertandingan 12 ronde perebutan gelar dunia secara beruntun, saya bukan sedang membesar besarkan diri sendiri, tetapi ketika melihat Conor, saya melihat dia tidak memiliki dasar-dasar yang cukup untuk berada di level tersebut, kata Froch di youtube nya.”
Froch kemudian menghubungkan itu dengan perjalanan nya sebelum menjadi petinju profesional, Benn memang tumbuh di lingkungan tinju, ayah nya sudah terkenal di seluruh dunia tetapi dia tidak menjalani jalur tinju amatir sejak muda seperti sejumlah petinju elite lain.
Perbedaan inilah yang akhirnya bisa terlihat ketika seorang petinju sudah berhadapan dengan lawan yang memiliki kemampuan lengkap, Ryan Garcia sendiri mulai berlatih tinju sejak usia tujuh tahun, Froch juga mengenang beberapa nama besar lain yang sudah berada di tinju amatir termasuk diri nya sendiri, Joe Calzaghe yang pensiun tak terkalahkan dan Naseem Hamed.
Pengalaman bertahun tahun itu tidak hanya soal jumlah pertandingan amatir, ada banyak situasi yang terbentuk selama proses tersebut, mulai dari membaca gerakan lawan, mengatur jarak, memilih pukulan hingga mengetahui tangan lawan akan di arahkan kemana, Benn bisa saja memiliki kekuatan, stamina dan keberanian tetapi menghadapi petinju seperti Garcia membutuhkan lebih dari itu.
Kritikan Froch ini tidak menganggap Benn petinju yang malas atau tidak punya kemampuan justru memberikan sanjungan karena berani mengambil kesempatan besar walaupun harus mengorbankan tubuh nya di pangkas ekstrem.
Kesempatan melawan Garcia merupakan salah satu bukti bahwa Benn sudah berada di panggung besar, tapi juga bisa memperlihatkan perbedaan antara petinju yang sudah siap menjadi elite dan yang masih berusaha mencapai level tersebut.
Froch dan Adam Smith membahas apa rencana Benn setelah kekalahan ini, pilihan yang paling mudah di jual kepada penggemar adalah trilogi melawan Chris Eubank Jr, rekor pertemuan mereka saat ini masih imbang sehingga memiliki cerita yang cukup kuat.
Mereka melihat Benn-Eubank III masih bisa mengundang penonton ke dalam arena karena rivalitas keduanya sudah di kenal luas di Inggris.
Meski kritik nya keras, Froch tidak mengatakan Benn harus pensiun biarpun sudah menghasilkan uang yang sangat besar, Adam Smith mengatakan bahwa ada petinju yang sudah menjadi juara dunia tetapi tidak mendapatkan pemasukan atau sorotan sebesar dia.
Benn sekarang punya pilihan, dia bisa kembali mengejar Eubank untuk menyelesaikan trilogi tetapi satu pekerjaan harus di perbaiki bagian dasar dalam permainan nya, karena jika dia kembali mengejar gelar dunia tanpa perubahan berarti, maka kejadian ini akan terulang kembali.
“Connor sangat berdedikasi dan dia benar-benar mencurahkan untuk olahraga ini, dia sangat menginginkan kesempatan tersebut dan berlatih sangat keras, jadi saya rasa apa yang terjadi tadi malam itu mungkin juga menjadi kejutan bagi nya ketika dia merasakan sendiri level itu dalam pertarungan yang berlangsung begitu cepat, dia punya nama Benn, punya karisma dan berhasil mendapatkan kesempatan perebutan gelar dunia, tetapi ketika kamu berhadapan dengan seseorang seperti Garcia, dia bisa mengetahui apakah kemampuan nya benarbenar berada di level yang sama, menurut saya Connor sudah menemukan jawaban nya.”
Benn masih punya waktu untuk memperbaiki nya, namun bila target nya tetap menjadi juara dunia dan bertahan di antara petinju terbaik kerja keras saja tidak cukup, Froch sudah menyampaikan pendapat nya, sekarang dia hanya bisa membuktikan apakah penilaian tersebut benar atau tidak.









