Headline

Kritikan Liam Paro Atas Haney–Shakur Setelah Gagal Bertarung

Liam Paro kritik Haney dan Shakurusai gagal

Kegagalan Devin Haney dan Shakur Stevenson mencapai kesepakatan mendapat kritik dari Liam Paro, juara dunia IBF itu menyebut negosiasi kedua petinju sesuatu yang memalukan, setelah perselisihan mengenai berat badan dan klausul rehidrasi membuat duel yang mereka bicarakan selama berbulan-bulan tak kunjung terwujud.

“Jelas mereka sebenar nya tidak benar-benar ingin bertarung satu sama lain. Selalu ada masalah kecil yang membuat pertarungan itu tidak terjadi. Dan dalam satu hal, situasi ini memang sedikit memalukan,” kata Paro.

Komentar itu menambah panjang masalah yang sebelum nya sudah ramai setelah saling menyalahkan di media sosial, Haney mengatakan Shakur meminta klausul rehidrasi setelah mereka menyepakati catchweight 145 pon sedangkan Shakur membantah versi itu dan menuduh pihak mereka mengubah kesepakatan menjadi 147 pon menjelang akhir negosiasi.

Sampai sekarang, kedua petinju belum mencapai kesepakatan untuk bertarung, perdebatan mereka justru membuat publik terus membicarakan siapa yang bertanggung jawab atas kegagalan ini sementara pertarungan yang menjadi incaran penggemar belum memiliki kepastian.

Keruwetan ini terasa dekat bagi Paro karena dia juga pernah bernegosiasi dengan Haney untuk pertarungan unifikasi yang akhir nya juga tidak terlaksana, dia membantah sengaja meminta bayaran terlalu tinggi hingga membuat duel tersebut batal tetapi tidak mengungkapkan angka yang di bicarakan dalam negosiasi.

Laporan sebelumnya menyebut tim Paro meminta sekitar 2,5 juta dolar Australia untuk menghadapi Haney, angka itu menjadi salah satu bagian yang belum terselesaikan, meski Paro tidak mengonfirmasi nya secara rinci dalam wawancara terbaru nya ini bersama Fighthype.

Haney dan Shakur sama-sama perlu berhenti membiarkan perundingan menjadi tontonan berkepanjangan, menurut Paro kemampuan di atas ring semesti nya menjadi ukuran utama seorang juara bukan seberapa lama dia bisa mempertahankan argumen nya di luar ring.

Paro juga mengomentari keputusan Shakur yang ingin naik ke kelas welter, dia mengakui kemampuan petinju asal Newark itu karena sudah pernah berbagi ring [Sparing] dengan nya, harus nya dia menerima tantangan di batas berat standar bila ingin membuktikan sebagai petinju kelas welter yang sesungguh nya.

“Shakur adalah petinju yang luar biasa, Saya pernah berbagi ring dengannya, dia memiliki semua kemampuan untuk mengalahkan Haney, bertarunglah di 147 pon lalu sebut dirimu juara sejati kelas welter,”

Pernyataan itu menempatkan Haney dan Shakur dalam bahasan yang lebih luas, perundingan pertarungan besar bukan hanya soal siapa yang lebih dulu menyetujui angka tertentu, tetapi juga kesediaan kedua pihak menerima persyaratan yang memungkinkan duel terjadi, bila setiap tahap berujung pada saling tuding reputasi kedua nya ikut di pertaruhkan.

Dengan adanya seperti ini akan menjadi tantangan bagi Zuffa Boxing, Shakur kini mengincar comeback pada 23 Januari di Prudential Center Newark setelah rencana menghadapi Haney kandas, kalau jadwal dan lawan nya sudah ada dia akan kembali bertarung di kota asal nya setelah lama menjadi penonton di luar ring.

Zuffa perlu menemukan lawan yang sepadan agar comeback Shakur tidak hanya menjadi kesempatan untuk kembali bertanding, tetapi juga pertarungan yang menarik perhatian penonton, nama besar Shakur dapat membantu menjual tiket dengan catatan lawan level elit untuk membangun daya tarik acara.

Gagal nya negosiasi dengan Shakur ini menjadikan Haney 2 kali tak bisa naik ring, sebelum nya sudah di pastikan akan melawan Keyshawn Davis, tapi sang penantang mundur dengan alasan tidak ungkap ke publik, entah karena bayaran kurang besar atau memang punya rencana masuk ke promotor Dana White seperti yang di katakan Timothy Bradley dalam teorinya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top