Riyadh sudah terbiasa dengan pertarungan besar, sabuk juara dunia, duel tak terbantahkan bahkan pertarungan yang dulu hanya hidup di angan2 penggemar tinju kini satu per satu mendarat di Arab Saudi.
Tapi akhir pekan ini sangat istimewa, tidak hanya gelar atau rekor tak terkalahkan ini soal harga diri dua budaya, di satu sudut berdiri dari Jepang yang mematikan, lawan nya dari Meksiko emosional dan tak pernah mundur selangkah pun.
Semua itu bertemu dalam satu panggung bertajuk The Ring V Night of the Samurai sebuah malam yang lebih seperti bentrokan filosofi ketimbang duel tinju.
Naoya Inoue tidak datang ke Riyadh untuk mempertahankan sabuk, petinju yang di juluki monster itu sudah berada di puncak karir di mana setiap pertarungan bukan lagi tentang bisa menang atau tidak tapi bagaimana dia menang dan apa dampak nya.
Di hadapan nya berdiri Alan Picasso petinju muda yang membawa sesuatu yang tidak bisa di ukur dengan statistik.
Keyakinan penuh bahwa malam itu bisa menjadi terbesar dalam hidup nya, Picasso tahu jika dia bisa merusak pesta nama nya akan langsung naik satu tingkat dari penantang berani menjadi pembunuh raksasa.
Konferensi pers final tidak hanya formalitas, aura tegang nya nyata, Inoue tenang seperti biasa tidak berisik atau berjanji KO ronde sekian tapi kata kata nya simple sabuk itu tidak akan ke Meksiko.
Picasso sebalik nya dia berbicara dengan api, tentang darah Azteca, rakyat Meksiko dan harga diri, dia tidak datang untuk menjadi figuran dalam kisah kejayaan Jepang.
Baca juga: Kisah muhammad Ali minta george foreman kalahkan ken norton
Yang membuat malam ini semakin padat adalah fakta bahwa Inoue bukan satu satu nya samurai yang turun ke ring, jepang datang ke Riyadh dengan rombongan penuh ambisi, ada Junto Nakatani mantan juara dunia tiga divisi WBC dan IBF yang memilih naik ke kelas super bantam bukan karena kehabisan lawan tapi karena ada satu nama yang berdiri di puncak gunung yaitu Naoya Inoue.
Langkah Nakatani seperti jalan seorang pendekar yang tahu betul ke mana arah takdir nya, debut nya di kelas baru melawan Sebastian Hernandez bukan ujian ringan.
Hernandez bukan petinju yang datang untuk bertahan tapi untuk mengacaukan rencana besar, jika Nakatani ingin membuktikan bahwa duel impian sesama Jepang layak terjadi maka tidak boleh ada keraguan di laga ini.
Lalu ada Kenshiro Teraji, seorang juara dunia yang Naik kelas, melawan Wilibaldo Garcia petinju yang datang dengan satu niat PERRANG, tidak ada strategi rumit Garcia datang dengan satu kata KO.
Bagi Teraji ini bukan hanya mempertahankan status tentang membuka bab baru membuktikan bahwa nama nya belum selesai di tulis, jika Jepang membawa ketenangan dan rencana jangka panjang Meksiko datang dengan misi merusak pesta orang lain.
Alan Picasso mengatakan nya dengan jelas malam itu bukan malam samurai, sejarah tinju sudah terlalu sering menunjukkan bahwa petinju Meksiko paling berbahaya saat mereka tidak di unggulkan.
Sebastian Hernandez, Wilibaldo Garcia, Leobardo Quintana mereka semua datang dengan peran yang sama spoiler, tidak ada tekanan besar yang ada hanya kesempatan.
Baca juga: Menang tanpa pesta, okolie kalahkan tetteh di lagos
Arab Saudi dengan sengaja memposisikan diri sebagai pusat gravitasi baru, dari kelas berat hingga kelas ringan dari duel Eropa hingga asia semua nya kini bisa terjadi di satu tempat.
Eddie Hearn menyebut nya dengan nada bercanda tapi pesan nya jelas invasi Jepang akhir nya tiba.
Bukan lagi satu nama tapi satu generasi, petinju Jepang kini tidak cuma teknisi hebat mereka punya mental juara dan keberanian untuk melawan siapa pun di mana pun, Rick Reeno dari The Ring Magazine bahkan menyentuh poin yang jarang di bahas mentalitas matchmaking Jepang.
Di sana tidak ada karir yang di manjakan terlalu lama entah bisa berenang atau tenggelam didikan keras ini yang melahirkan banyak pertarungan besar dan kandidat Fight of the Year dalam beberapa tahun terakhir.
Yang membuat Night of the Samurai spesial bukan hanya karena nama besar di atas poster tapi karena setiap pertarungan punya implikasi lanjutan.
Jika Inoue menang meyakinkan diskusi pound-for-pound akan semakin mengerucut dan Nakatani tampil dominan duel sesama Jepang akan berubah dari wacana menjadi tuntutan publik.
Bila mana Teraji sukses di kelas baru satu jalur besar terbuka lebar dan salah satu petinju Meksiko mencuri kemenangan kata2 malam ini bisa hancur total.
Tinju selalu berkemban, dulu pusat nya Amerika lalu eropa kini timur tengah menjadi simpul pertemuan, sabtu malam nanti semua klaim akan keluar kebenaran nya, semua kata akan di tagih hanya satu yang tersisa setelah bel terakhir berbunyi kenyataan di atas kanvas.
Baca juga:
#naoyainoue #Alanpicasso #juntonakatani #Riyadh









