Headline

Zuffa Tak Perlu Beli Promotor Lain, Dana White Punya Target Lebih Besar

Dana White tak perlu beli promotor lain

Spencer Brown melihat satu jalan pintas bagi Zuffa Boxing untuk mempercepat ekspansi nya dengan membeli perusahaan promosi yang sudah memiliki banyak petinju, Dana White akan kesulitan membangun kekuatan dari nol selama para petinju elite masih terikat kontrak dengan promotor lain.

Dalam wawancara di The Ariel Helwani Show yang berdurasi 3 jam lebih, Brown menilai perekrutan satu per satu membutuhkan waktu panjang bahkan menyinggung kemungkinan Zuffa mengakuisisi perusahaan yang sudah berjalan agar bisa langsung mendapatkan kumpulan petinju sekaligus lengkap dengan tenaga operasional yang berpengalaman.

Pendapat itu masuk akal jika hanya di lihat bagaimana memperbesar roster dalam waktu singkat, tapi ada pertanyaan yang lebih mendasar, apakah membeli promotor lain memang sesuai dengan tujuan yang dari awal ingin di capai oleh bos botak itu?

Dana White tidak menggambarkan Zuffa sebagai perusahaan baru yang ingin merebut petinju dari tangan Golden Boy, Top Rank, Matchroom atau Queensberry, dia sudah berulang kali mengatakan pada perubahan cara tinju di jalankan dan bagaimana olahraga ini bisa menarik perhatian penonton yang lebih luas yang di sampaikan setelah acara di Bournemouth Inggris.

White menyebut NFL, NBA, Major League Baseball dan NHL sebagai kompetitor yang dia perhatikan, juga menjelaskan bahwa di luar Amerika Serikat, sepak bola menjadi bagian dari persaingan memperebutkan perhatian publik.

“Para pesaing yang saya lihat saat ini adalah NFL, NBA, MLB, dan NHL, tak satu pun dari orang-orang ini menjadi perhatian saya,” kata White.

Bukan berarti White tidak perlu berurusan dengan promotor tinju lain, Zuffa tetap berada di industri yang sama, berhadapan dengan kontrak petinju, jadwal pertandingan, hak siar dan persaingan mendapatkan bintang, namun target yang dia sebut sudah jelas ambisi nya tidak berhenti pada memenangkan persaingan antar promotor.

Perhatian penonton merupakan bagian penting dari bisnis yang ingin di bangun nya, pada malam pertandingan tinju bukan hanya bersaing dengan acara tinju lain tapi mereka juga memiliki pilihan untuk menyaksikan pertandingan NFL, NBA atau menikmati hiburan lain.

Karena itu, ukuran keberhasilan Zuffa jangan hanya di lihat dari berapa banyak petinju milik promotor pesaing yang berhasil direkrut, yang perlu kita tanyakan adalah apakah mereka mampu menghadirkan pertandingan yang membuat orang bersedia menonton, membangun pengikut dan kembali menyaksikan acara berikut nya.

Dalam analisis yang membahas wawancara Brown, ada sejumlah kemungkinan akuisisi, Golden Boy Promotions milik Oscar De La Hoya paling bagus di lirik karena memiliki petinju dan jaringan promosi di pasar Amerika Serikat, Premier Boxing Champions atau PBC menawarkan kumpulan petinju yang luas, sedangkan Top Rank melalui jaringan pencarian dan pengembangan bakat yang di bangun selama 60 tahun, Matchroom dan Queensberry juga di bahas meskipun pengambilalihan penuh pada kedua perusahaan tersebut dinilai jauh lebih rumit.

Semua itu masih berupa skenario bisnis, tidak ada dasar dari wawancara Brown saja untuk menyimpulkan bahwa White sedang menyiapkan pembelian terhadap salah satu perusahaan tersebut.

Penulis melihat bahwa membeli promotor memang dapat mempercepat penambahan petinju, tetapi tidak semudah membeli perusahaan lalu seluruh kekuatan nya pasti menjadi milik Zuffa karena kontrak setiap petinju memiliki ketentuan tersendiri, ada masa berlaku, kewajiban pertandingan dan kemungkinan petinju memilih tidak melanjutkan kerja sama setelah perubahan kepemilikan.

Belum lagi harga akuisisi, urusan hukum, hubungan dengan pemegang hak siar, serta penyatuan sistem operasional, perusahaan yang memiliki banyak petinju belum tentu bisa memberikan keuntungan sesuai nilai pembeliannya.

Golden Boy, PBC, dan Top Rank juga mempunyai sejarah serta cara kerja berbeda, mengambil alih salah satu nya berarti Zuffa harus mengelola warisan bisnis yang sudah ada bukan membangun seluruh sistem sesuai konsep Dana White dari awal.

Bila tujuan Zuffa adalah menciptakan model promosi yang berbeda, akuisisi besar bisa membawa pekerjaan tambahan yang belum tentu di perlukan, White bisa saja memilih memperluas roster melalui kontrak baru, membangun petinju muda dan meningkatkan jumlah pertandingan secara bertahap.

Gagasan Brown berangkat dari satu masalah nyata, mendapatkan petinju yang masih terikat kontrak bukan perkara mudah, akan tetapi kesulitan tersebut tidak otomatis membuat akuisisi menjadi satu satu nya jalan, Zuffa bisa terus merekrut petinju yang bersedia join memberikan mereka jadwal bertanding, lalu membangun nilai komersial melalui hasil pertandingan, petinju yang berkembang di bawah promotor baru juga bisa menjadi daya tarik tersendiri tanpa harus di datangkan bersama sebuah perusahaan besar.

Model ini memang membutuhkan waktu, Zuffa tidak bisa berharap seluruh divisi langsung di penuhi bintang dalam waktu singkat, terlebih jika ingin membangun identitas dan sistem kompetisi sendiri, namun proses bertahap memberikan jalan bagi perusahaan untuk menentukan arah roster, format pertandingan dan cara memasarkan petinju nya.

Dalam wawancara dengan Sky Sports pada Maret 2026, White menjelaskan keinginan nya agar penonton mengenali para juara di setiap kelas dan memiliki alasan untuk mengikuti pertandingan sejak awal acara bukan hanya menunggu partai utama. 

Visi itu membangun kebiasaan menonton dan menciptakan bintang baru menjadi bagian dari rencana Zuffa, bila sistem itu berjalan, nilai sebuah promotor tidak hanya terletak pada banyak nya nama besar yang sudah di miliki tetapi juga pada kemampuan nya menghasilkan petinju yang di minati publik.

Sekarang ini sudah banyak petinju yang bergabung dengan Zuffa, paling terbaru ada Denzel Bentley juara WBO, Carlos Adames baru tadi malam di umumkan join dan masih banyak lagi lain yang tidak bisa kita tulis satu persatu.

Brown juga mengakui bahwa Tyson Fury memiliki pandangan optimistis terhadap masa depan nya, dalam percakapan mereka, Gypsy King meyakini proyek ini dapat berjalan dan memuji cara Zuffa menangani Jai Opetaia, meskipun dia tetap meragukan apakah organisasi baru bisa membangun kekuatan secara menyeluruh hanya dalam beberapa tahun.

Keraguan itu tetap bisa di perhitungkan karena mengembangkan bisnis tinju memang tidak sama dengan hanya menambah jumlah petinju dalam daftar kontrak, Zuffa harus membuktikan bahwa mereka mampu menyelenggarakan pertandingan secara rutin, menjaga kualitas lawan dan membuat penonton tertarik mengikuti perkembangan para petinju.

Dari pemikiran penulis disini, ukuran itu justru memperkuat alasan untuk tidak buru buru menyimpulkan bahwa White harus membeli promotor lain, akuisisi bisa menjadi pilihan apabila ada perusahaan yang tepat dan nilai nya sebanding tetapi bukan syarat mutlak untuk membangun bisnis tinju yang kuat.

White sendiri meminta publik menilai hasil kerja Zuffa setelah mereka memiliki lebih banyak waktu untuk berkembang, dalam konferensi pers resmi UFC pada Maret 2026, dia juga menyatakan bahwa organisasi nya masih berada pada tahap awal dan memperkirakan jumlah acara serta kekuatan roster akan terus bertambah. 

BTT memandang nya sebagai salah satu opsi bukan keharusan, bila Zuffa mampu membangun petinju, menghasilkan pertarungan yang bagus dan menarik penonton secara konsisten, mereka tidak harus memiliki Golden Boy, Top Rank atau Matchroom untuk membuktikan bahwa model bisnis nya bisa berjalan.

Dana White tidak perlu mengalahkan promotor lain hanya dalam perlombaan mengumpulkan petinju, tantangan yang lebih besar adalah membuat Zuffa Boxing menjadi tontonan yang di pilih publik di tengah persaingan dengan liga olahraga dan hiburan lain, itulah tujuan yang pernah dia nyatakan sendiri dan keberhasilan mencapai tujuan itu lebih penting dari pada nama perusahaan yang berhasil di beli.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top