Wilkens Mathieu masih memegang gelar NABF tetapi kemenangan angka terbelah atas Vladimir Shishkin masih menyisakan perdebatan, dia di nyatakan menang setelah 10 ronde satu panggung dengan Iglesias vs Zaren, banyak penonton menilai pengalaman dan teknik sang penantang seharus nya cukup untuk membawa nya pulang dengan kemenangan.
Dua juri memberi Mathieu kemenangan telak 98-92, sementara juri ketiga justru memenangkan Shishkin dengan skor 97-93, perbedaan penilaian itu menjadi pusat kontroversi terutama karena dua kartu skor pertama relatif berat sebelah padahal dia mampu memberikan perlawanan serius sepanjang laga.
Mathieu terlalu sering menunggu kesempatan untuk melepaskan pukulan hanya berusaha memaksimalkan tenaga dalam setiap serangan tetapi kurang konsisten melontarkan pukulan cepat dan kombinasi untuk menjaga tekanan sehingga mudah dibaca memberi Shishkin kesempatan memotong arah pertarungan.
Petinju Rusia berusia 35 tahun itu memanfaatkan pengalaman bertanding nya untuk terus menekan, dia tidak hanya bertahan menghadapi kecepatan dan kekuatan petinju tuan rumah namun kuga mampu membalas dengan pukulan dan bisa meredam sorakan penonton, Mathieu memiliki keunggulan usia juga tenaga, tetapi lawan nya memperlihatkan bahwa pengalaman di level tinggi bisa membaca serangan ketika lawan terlalu mudah ditebak.
Mathieu memang menutup ronde ke 10 dengan penampilan kuat, namun di pengujung laga belum cukup untuk menutupi ronde sebelum nya, Shishkin bukan petinju yang baru mengenal persaingan kelas dunia, dia pernah bertarung selama 12 ronde melawan William Scull dalam perebutan gelar IBF kelas menengah super sebelum kalah angka pada Oktober 2024 dan menghadapi Osleys Iglesias tapi mengalami kekalahan KO pada ronde ke 8 pada September 2025, dua kekalahan itu datang ketika berhadapan dengan petinju yang kemudian bersaing di level perebutan gelar dunia.
Pengalaman itu seharus nya menjadi ukuran untuk menguji Mathieu, sebelum menghadapi Shishkin petinju Kanada itu menghentikan peraih medali perak Olimpiade Esquiva Falcao pada ronde ke 8 pada Juni lalu di arena yang sama.
Kemenangan itu meningkatkan ekspektasi terhadap Mathieu tetapi duel melawan Shishkin ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju level elite membutuhkan lebih dari kemampuan menghasilkan pukulan keras.
Rekor tak terkalahkan nya masih aman tapi cara kemenangan itu di peroleh bisa menjadi bahan evaluasi bagi tim nya, ketika menghadapi lawan yang lebih tajam dalam membaca serangan, dia harus mampu menjaga volume pukulan, menyusun kombinasi lalu mengambil ronde tanpa terus bergantung pada satu serangan bertenaga.
Mathieu masih memiliki waktu untuk berlatih keras tetapi ujian berikut nya perlu memperlihatkan kemajuan yang nyata, bila ingin melangkah menuju perebutan gelar dunia kemenangan yang di perdebatkan seperti ini belum memberikan jawaban meyakinkan tentang kemampuan nya menghadapi petinju papan atas.
Pertarungan Mathieu dan Shishkin merupakan bagian dari malam tinju Eye of the Tiger yang sama dengan kemenangan cepat Imam Khataev atas Padraig McCrory. Berbeda dari Khataev yang menyelesaikan tugas nya lewat KO ronde pertama.









