Menjelang pertarungan nya melawan Emanuel Navarrete pada 24 Oktober 2026, O’Shaquie Foster membawa cerita hidup yang menusuk, karir nya di bentuk masa kecil yang susah, kehilangan sang ibu, kehidupan di jalanan sampai berurusan dengan penjara.
Semua pengalaman itu menjadi bagian yang tak bisa di pisahkan sampai mampu berdiri di posisi sekarang, Foster merupakan anak ke 2 dari enam bersaudara, ibu nya meninggal ketika dia baru berusia 12 tahun.
Foster masih mengingat bagaimana keluarga nya tidak mengetahui kondisi sang ibu sampai akhir nya diberi tahu bahwa waktu nya mungkin hanya tersisa sekitar dua minggu, lalu keesokan hari nya meninggal dunia, pada hari pemakaman dia berangkat bertanding di ajang Golden Gloves untuk mendedikasikan pertarungan tersebut dan keluar sebagai pemenang.
Tinju kemudian menjadi tempat Foster mencari sesuatu yang tidak dia dapatkan di rumah, namun perjalanan penuh lika liku, dia mulai menjauh dari gym, berselisih dengan salah satu pelatih amatir lalu kembali larut dalam kehidupan jalanan.
Foster menceritakan mungkin sudah sekitar 10 kali keluar-masuk penjara, salah satu periode terberat terjadi setelah dia tertidur di lampu merah karena belum tidur sejak malam sebelum nya, polisi kemudian membangunkan nya membawa masuk karena ada nya surat perintah penangkapan.
Kali itu Foster harus menjalani masa tahanan yang lebih panjang karena tidak ada yang membayar jaminan nya, dia di tempatkan di sebuah unit kecil berisi 12 orang dengan 12 tempat tidur, tidak ada jendela sehingga selama berhari-hari yang terlihat hanya tembok.
Dari tempat inilah Foster mulai melihat kembali hidup nya, para penghuni tahanan mengetahui bahwa dia adalah seorang petarung dan memberikan rasa hormat kepada nya, pengalaman itu membuat nya semakin sadar bahwa dirinya tidak ingin menghabiskan hidup di sana.
“Melihat kembali naik turun nya karir saya, semua itu yang membentuk saya menjadi seperti sekarang, itu membuat saya menghargai segala sesuatu setiap hari, saya berterima kasih kepada Tuhan dan saya akan bekerja keras di gym karena saya tahu saya berada di sini karena suatu alasan, semua yang saya lalui menunjukkan kepada saya bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan saya, selama saya benar-benar menetapkan pikiran pada sesuatu dan percaya apa pun mungkin terjadi, kata Foster di sesi wawancara dengan Top Rank.”
Ada satu momen lain yang ikut mengubah cara pandang nya ketika masih berada di penjara, Foster menonton pertarungan Terence Crawford melawan Julius Indongo melalui televisi kecil di dalam sel.
Dia melihat Crawford menjadi juara dunia tak terbantahkan dan menghentikan Indongo dengan pukulan ke body, kemenangan itu memperlihatkan bahwa seorang petarung dengan latar belakang yang tidak sempurna tetap bisa mencapai puncak.
Foster bahkan mulai membayangkan berada di posisi yang sama, dia kemudian keluar dari penjara, meski hidup nya belum langsung berubah total, baru setelah mengalahkan John Fernandez untuk merebut gelar Silver mulai percaya bahwa memiliki jalan menuju kejuaraan dunia.
Pertarungan melawan Fernandez menjadi titik penting. Untuk pertama kalinya, impian yang selama ini hanya berada dalam pikirannya mulai terasa nyata.
“Saat itulah saya berpikir..Oke, saya bisa menjadi juara, sebelum nya saya hanya berpikir, kalau memang begini jalan nya, saya akan berhasil sampai di suatu tempat, itulah alasan saya bekerja sangat keras belakangan ini, dengan menonton pertarungan Crawford, kemudian keluar dari penjara dan sekarang saya berada dalam posisi untuk melakukan hal yang sama…itu gila bagi saya,”
Dulu Foster hanya bisa membayangkan menjadi juara ketika menonton dari balik jeruji, sekarang dia memiliki kesempatan untuk membuktikan sendiri sejauh apa perjalanan panjang itu telah membawa nya.
Kisah ini mengingatkan penulis pada perjalanan Bernard Hopkins yang juga pernah merasakan kehidupan di balik jeruji sebelum akhir nya mengubah jalan hidup melalui tinju.
Hopkins dijatuhi hukuman 18 tahun penjara saat berusia 17 tahun dan menghabiskan hampir lima tahun di Graterford sebelum bebas pada 1988, di dalam penjara itulah Hopkins menemukan kecintaan nya pada tinju, setelah keluar dia membangun kembali hidup meski sempat kalah dalam debut profesional.
Perjalanan Hopkins kemudian jauh melampaui kisah kebangkitan, pada 1995 dia merebut gelar IBF kelas menengah dan mempertahankan nya 20 kali secara beruntun, menjadi penguasa selama lebih dari satu dekade bahkan menyatukan 4 gelar utama.
Ketika melihat Foster berbicara tentang penjara, masa lalu yang berantakan dan kesempatan untuk mengubah hidup melalui tinju, kisah The Alien atau The executioner menjadi contoh bahwa ring memang bisa menjadi jalan keluar dari kehidupan yang sebelum nya tampak sudah buntu.









