Devin Haney dan Liam Paro akan memperebutkan dua gelar dunia kelas welter pada 19 Desember 2026, meski berstatus pertarungan unifikasi WBO dan IBF, duel yang akan berlangsung di Chase Center San Francisco ini justru banyak orang khawatir karena kesulitan menarik pembeli pay-per-view (PPV).
DAZN telah menetapkan pertandingan tersebut sebagai tayangan berbayar di luar biaya langganan reguler, keputusan itu menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara, mengingat Haney sudah lebih dari satu tahun tidak bertanding sementara Paro belum memiliki popularitas besar di pasar Amerika Serikat.
Pertandingan ini memiliki nilai yang jelas karena perebutan gelar, Haney akan mempertahankan sabuk WBO yang dia rampas dari Brian Norman jr sedangkan Paro membawa gelar IBF yang baru saja di rebut dari Lewis Crocker.
Pemenang nya akan menguasai dua gelar utama di divisi welterweight, meskipun masih harus mengejar dua sabuk lain nya untuk mencapai status undisputed, Paro mengatakan akan mampu kembali membuat kejutan, dia pernah membuktikan kemampuan nya ketika merebut gelar dari Subriel Matias di Puerto Rico versi IBF kelas ringan super, meskipun saat itu harus bertarung di kandang lawan.
Petinju Australia ini juga tidak pernah menghindari tantangan, menghadapi Haney di San Francisco justru menjadi kesempatan untuk merebut gelar di wilayah lawan dan menambah pencapaian dalam karir nya.
Saat ini yang di angkat bukan terletak pada kualitas Paro sebagai tamu, tantangan nya adalah seberapa besar daya tarik pertandingan ini bagi penonton yang harus membayar biaya PPV.
Haney sendiri belum memiliki momentum yang cukup kuat setelah kemenangan terakhir nya pada November 2025, pertandingan tersebut justru mendapat kritik karena gaya bertarung nya yang lebih mengutamakan keselamatan, bisa di bilang MEMBOSANKAN dengan banyak bergerak, menggunakan jab lalu menghindari pertukaran pukulan melalui clinch.
Gaya seperti itu memang bisa menghasilkan kemenangan, tetapi belum tentu menjadi tontonan yang membuat penonton bersedia mengeluarkan uang tambahan, apalagi Haney kini kembali setelah jeda panjang yang membuat perhatian terhadap nya tidak sebesar ketika masih aktif bertanding.
Paro juga menghadapi masalah popularitas, kemenangan atas Crocker juga tidak membuat penggemar berkata ” Woow…luar biasa” karena hanya menang angka mutlak, nama nya belum cukup di kenal luas oleh sebagian besar penonton Amerika.
Kekhawatiran terhadap daya jual acara ini semakin besar ketika melihat pertandingan pendamping utama nya, Brian Norman Jr yang kehilangan gelar dari Haney akan kembali bertanding menghadapi Abel Ramos dalam duel 10 ronde.
Ramos di kenal sebagai petinju yang tangguh dan sulit di hentikan, namun rekorbnya sudah mencatat enam kekalahan dan tiga hasil imbang, pertemuan ini dinilai belum cukup kuat untuk menjadi alasan tambahan bagi penonton membeli paket PPV, terutama bila di bandingkan dengan standar kartu pertandingan premium.
Dengan dua pertandingan utama yang belum tentu menawarkan aksi agresif, penyelenggara masih membutuhkan daya tarik tambahan dari dua laga lain yang belum di umumkan, tanpa nama besar atau pertarungan dengan potensi aksi yang tinggi, penjualan acara ini bisa menghadapi hambatan.
Haney sendiri memiliki ambisi besar untuk mempertahankan gelar nya di hadapan pendukung sendiri sekaligus merebut sabuk IBF milik Paro, dia ingin menjadikan San Francisco sebagai tempat untuk menambah gelar dan memperkuat posisi nya di kelas welterweight.
Akan tetapi, ambisi di atas ring dan kemampuan menjual sebuah acara kepada penonton merupakan dua masalah lain, unifikasi gelar memang penting bagi perjalanan karir kedua petinju tetapi status tersebut belum tentu cukup untuk membuat publik bersedia membeli tayangan PPV.

















