Leo Atang akan tampil dalam partai tambahan duel Dalton Smith vs Alberto Puello di Sheffield Inggris melawan Jonathan Vergara, petinju kelas berat berusia 19 tahun tersebut ingin melanjutkan awal karir profesional nya yang menjanjikan, tetapi dia sadar bahwa perjalanan menuju level tertinggi tidak cukup hanya dengan mengandalkan kemenangan KO.
Atang sudah menjalani 8 pertarungan tanpa kalah, sejauh ini dia mampu melewati nya dengan meyakinkan, namun tidak menganggap hasil itu begitu mudah karena menyadari tantangan akan semakin berat ketika mulai berhadapan dengan lawan yang memiliki kemampuan lebih tinggi.
Pertarungan awal ini menjadi kesempatan bagi nya untuk belajar sekaligus mempersiapkan diri menghadapi peningkatan level persaingan.
“Sejauh ini semuanya berjalan baik, terutama karena saya bisa memperkenalkan diri kepada dunia tinju, namun saya juga tidak berilusi bahwa semua nya akan terus semudah ini, ketika nanti menghadapi lawan yang level nya lebih tinggi, saya sudah siap, itulah yang saya gunakan dari pertarungan-pertarungan ini, saya mendapatkan pengalaman dan belajar, tetapi pada saat yang sama, saya juga sedang mempersiapkan diri agar benar-benar siap ketika mencapai level tersebut,” kata Atang dalam wawancara bersama Boxing King Media.
Di tengah proses perkembangan nya, Atang ternyata mengagumi Oleksandr Usyk, mantan juara tak terbantahkan itu akan dia jadikan panutan terutama karena kemampuan nya menghadapi lawan yang secara fisik lebih besar, sebut saja seperti Tyson Fury 2 kali tak mampu mengalahkan nya.
Atang tidak ingin meniru gaya bertinju Usyk secara langsung, dia sadar bahwa kedua nya memiliki karakteristik berbeda, termasuk dari sisi kuda-kuda, hal yang lebih penting untuk di pelajari adalah bagaimana Usyk mengendalikan pertandingan dan menjaga ketenangan sepanjang pertarungan.
“Saya banyak mengagumi Usyk, seperti yang Anda bilang, dia termasuk petinju kelas berat yang lebih kecil di bandingkan petinju-petinju lain nya, namun dari semua yang sudah dia menangkan, kita bisa melihat bahwa ukuran tubuh sama sekali tidak menghalangi nya, bukan berarti saya ingin meniru gaya bertinju nya, karena dia kidal sedangkan saya tidak, saya lebih melihat bagaimana dia mengendalikan ring dan bagaimana dia tidak mudah terpengaruh oleh apa pun, pola pikir itulah yang ingin saya kembangkan lebih jauh karena ini bukan pertarungan satu ronde, melainkan 12 ronde,”
Tinju profesional menuntut seorang petinju untuk mempertahankan konsentrasi, membaca situasi dan mengambil keputusan yang tepat selama pertandingan berlangsung, ketika menghadapi lawan yang lebih tangguh, ketenangan dan kemampuan mengelola tekanan bisa menjadi sama penting nya dengan pukulan keras, terakhir Atang bertarung melawan Glen Williams yang dimenangkan nya lewat TKO ronde ke 2 di Amerika Serikat.
Atang juga menceritakan keputusan nya meninggalkan pelatih lama nya dan sekarang bersama Steven Smith di Liverpool, di tempat latihan baru nya ini, dia berada di lingkungan yang sama dengan sejumlah petinju papan atas termasuk Callum Smith dan Liam Smith.
Berada di sekitar petinju berpengalaman membuat nya bisa melihat langsung standar kerja yang harus di pertahankan untuk mencapai level tertinggi.
Perubahan itu tidak hanya berganti pelatih, Atang ingin membiasakan diri dengan lingkungan yang menuntut nya terus berkembang, sekaligus belajar dari para petinju yang sudah lebih dulu membuktikan nya di panggung besar.
Dia juga memahami bahwa semakin besar perhatian publik kepada nya, semakin tinggi pula ekspektasi yang harus di hadapi, kritik bisa datang bahkan ketika tetap memenangkan pertandingan seperti saat melawan Viktar Chvarkou, makanya Atang berusaha tetap menjadi diri sendiri dan tidak menjadikan penerimaan semua orang sebagai ukuran keberhasilan.












