Beberapa bulan lalu, Nico Ali Walsh berdiri berseberangan dengan para pendukung Muhammad Ali American Boxing Revival Act, cucu The Greatest itu bahkan datang langsung ke hadapan Senate Commerce Committee pada April 2026 untuk menyampaikan keberatan nya.
Saat itu Nico menilai rancangan tersebut berpotensi memberikan terlalu banyak kekuasaan kepada sebuah sistem baru yang bisa mengurangi posisi tawar petinju, namun sekarang sudah berubah, dia yang sebelum nya menjadi salah satu suara paling keras menentang rancangan itu justru menulis surat dukungan terhadap versi terbaru Revival Act.
Surat bertanggal 10 September itu kemudian menjadi salah satu perkembangan penting sebelum Senate Commerce Committee membawa RUU tersebut maju pada 16 September, selama beberapa bulan terakhir, Nico mengaku terus berdiskusi dengan senator, pembuat kebijakan, pengacara dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam penyusunan aturan, tujuan nya tetap sama seperti yang dia sampaikan dalam hearing April lalu, yakni memastikan perubahan tidak membuat petinju kehilangan perlindungan dan kendali atas karir mereka.
Dalam surat dukungan nya, Nico mengakui secara terbuka bahwa dia memang pernah berada di posisi sebalik nya.
“Saya akan terus terang, saya sangat menentang versi awal RUU ini karena saya percaya petinju layak mendapatkan sesuatu yang lebih baik.”
Apa yang berubah?
Salah satu perubahan yang paling berkaitan dengan kekhawatiran Nico adalah masalah kontrak, dalam versi terbaru, sistem Unified Boxing Organization atau UBO tidak hanya mendapat ruang untuk membangun struktur liga sendiri tetapi juga dibebani sejumlah ketentuan mengenai hubungan kontrak dengan petinju.
Ada batas terhadap lama nya kontrak, termasuk ketentuan berbeda untuk kontrak pertama seorang petinju, RUU tersebut juga memberikan ruang bagi petarung untuk berkomunikasi dengan UBO atau promotor lain menjelang berakhir nya kesempatan.
Bagian seperti ini bagi Nico sangat berarti karena dari awal dia mengkhawatirkan posisi tawar petinju apabila mereka hanya terikat pada satu sistem.
Masalah berikut nya adalah free agency, Versi terbaru memberikan jalan bagi petinju untuk memiliki kesempatan meninggalkan sistem tersebut dan mencari pilihan lain setelah memenuhi ketentuan kontrak nya, inilah salah satu perubahan yang di sebut Nico dalam alasan dukungan nya terhadap RUU terbaru, konsep UBO yang sebelum nya di khawatirkan dapat membuat petinju terlalu bergantung kepada satu entitas kini disertai mekanisme yang memberikan lebih banyak pilihan.
Ranking juga menjadi perhatian, Nico sebelum nya mempermasalahkan potensi terkonsentrasi nya kekuasaan dalam sebuah sistem baru, sebab itu transparansi ranking menjadi salah satu poin penting dalam versi terbaru.
UBO yang menggunakan sistem ranking harus memiliki kriteria dan kebijakan yang jelas, informasi mengenai sistem itu juga harus di sampaikan kepada regulator termasuk prosedur yang dapat di gunakan ketika terjadi masalah atau keberatan terhadap ranking.
Perubahan ini juga sangat penting karena ranking dalam tinju bukan hanya daftar nama, posisi seorang petinju dapat menentukan siapa yang mendapatkan kesempatan bertarung, siapa yang berpeluang mengejar gelar dan seberapa besar nilai sebuah pertandingan.
Dengan adanya kewajiban transparansi, keputusan ranking tidak sepenuh nya di biarkan menjadi urusan internal organisasi.
Perubahan lain nya menyangkut potensi konflik kepentingan, versi terbaru memberikan pemisahan antara UBO dan manajer petinju, tujuan nya agar pihak yang memiliki kekuasaan terhadap pertandingan dan karirbseorang petinju tidak sekaligus memiliki kepentingan finansial tertentu dalam pengelolaan sang petarung.
Hal itu menjawab salah satu kekhawatiran besar mengenai kemungkinan sebuah sistem baru menguasai terlalu banyak bagian dari karir petinju sekaligus.
Selain itu terdapat ketentuan mengenai pengungkapan informasi finansial terkait pemilik manfaat sebenar nya atau ultimate beneficial owners.
Dari semua itu ada satu bagian yang paling penting bagi Nico, petinju yang bergabung dengan UBO tetap dapat mengejar dan bertarung untuk gelar, dia secara khusus menyebut bahwa salah satu perubahan terbesar yang dia perjuangkan adalah memungkinkan petinju yang berada di dalam UBO untuk tetap bertarung memperebutkan gelar WBC, WBA, IBF, WBO dan organisasi lain nya.
Ini menjawab salah satu kekhawatiran yang dia sampaikan nya, sebelum nya Nico khawatir terbentuk nya sistem yang terlalu tertutup dapat membuat petinju terjebak dalam jalur nya sendiri, bila seorang petinju UBO tetap dapat mengejar gelar dari organisasi dunia lain maka batas antara sistem dan tinju tradisional bisa berdampingan.
Walau begitu, perubahan sikap Nico tidak berarti seluruh kritik terhadap RUU otomatis hilang, versi yang lolos dari Senate Commerce Committee pada 16 September merupakan S. 5188 yang sudah di amendemen, termasuk Cruz-Rosen substitute dan sejumlah amendment dari Senator Maria Cantwell, teks yang sekarang maju memang bukan hanya salinan rancangan awal yang dulu di tentang Nico.
Sampai sekarang masih terdapat perdebatan di kalangan tinju mengenai apakah perlindungan tersebut sudah cukup, ada pihak yang tetap menilai keberadaan UBO berpotensi menciptakan konsentrasi kekuasaan, kekhawatiran seperti itu juga masih muncul setelah Nico menyatakan dukungan nya.
Saat ini perubahan sikap Nico lebih tepat dipahami sebagai hasil dari proses negosiasi, bukan tiba-tiba berubah pikiran, dari sini perjuangan nya mendapatkan babak baru, tidak lagi berdiri di luar sambil menolak rancangan tapi ikut mendorong perubahan dari dalam proses pembuatan nya.









