Fabio Wardley memasang target tinggi menjelang duel ulang melawan Daniel Dubois, setelah mengalami kekalahan pertama pada pertemuan sebelum nya, dia berani memprediksi mampu menghentikan Dubois hanya dalam 4 ronde.
Ini di sampaikan Wardley setelah launching konferensi pers pertama untuk rematch mereka, pertarungan kedua ini menjadi kesempatan bagi nya untuk membalas kekalahan sekaligus membuktikan bahwa hasil pertemuan itu bukan yang terbaik dari kemampuan nya.
Wardley tidak melihat prediksi nya ini sesumbar tanpa dasar, dia mengacu langsung pada apa yang terjadi dalam pertarungan pertama dengan dua kali menjatuhkan Dubois dalam tiga ronde awal, namun keadaan berubah setelah dia terbawa momentum dan mulai menguras tenaganya sendiri.
Bila dalam kondisi melakukan sejumlah kesalahan saja mampu membuat Dubois dua kali terjatuh, maka perbaikan kecil dalam strategi dan eksekusi di jilid 2 ini seharus nya bisa membawa hasil yang lebih cepat pada pertemuan kedua.
“Saya tidak melihat nya sebagai sesuatu yang terlalu berani untuk di katakan, kalau Anda melihat apa yang terjadi pada pertarungan pertama, saya melakukan beberapa hal dengan benar dan beberapa hal lain nya dengan sangat buruk, saya terlalu bersemangat setelah menjatuhkan nya dan menjadi korban dari kesuksesan saya sendiri, saya terlalu percaya diri, terlalu mengejar penyelesaian dan membuat beberapa keputusan yang salah, jadi kalau saya bisa melakukan beberapa hal dengan salah dan tetap menjatuhkan nya dua kali dalam tiga ronde, saya rasa kalau kali ini melakukan semua nya dengan benar, saya bisa menghentikan nya dalam 4 ronde, ini bukan sekadar prediksi berani tetapi berdasarkan apa yang sudah terjadi di pertarungan pertama.”
Wardley memang memiliki alasan untuk menaruh kepercayaan diri setinggi itu, pertemuan pertama memperlihatkan bahwa diri nya mampu memberikan masalah besar kepada Dubois sejak awal, sayang nya keunggulan tersebut tidak berhasil di pertahankan hingga akhir.
Tak lupa dia juga menjelaskan bahwa secara fisik tidak merasa separah yang terlihat ketika pertarungan berlangsung, masalah utama nya lebih banyak berasal dari pilihan yang di buat di dalam ring dengan terlalu memaksakan tempo, terus memburu kemenangan, berusaha mendapatkan penyelesaian ketika seharus nya lebih mengontrol jalan nya pertandingan.
Hal itulah yang kini ingin diperbaiki Wardley, dia tidak mengungkap secara rinci perubahan apa yang akan diterapkan dalam rematch karena tidak ingin memberikan bocoran mengenai game plan nya, yang pasti perubahan yang akan di lakukan tidak akan bersifat ekstrem.
Beberapa hal yang berhasil pada pertarungan pertama akan kembali di manfaatkan dan kesalahan yang di lakukan akan di kurangi atau di perbaiki, artinya Wardley tidak harus mengubah seluruh gaya bertarung nya untuk mengalahkan Dubois.
“Ada beberapa hal yang saya lakukan dengan benar dan bisa saya tingkatkan lagi, ada juga beberapa hal yang saya lakukan dengan salah dan harus saya sesuaikan, bukan berarti akan ada perubahan besar-besaran atau sesuatu yang benar berbeda, ini lebih kepada mengetahui apa yang harus saya tambahkan, apa yang harus saya kurangi, kapan harus menekan dan harus menahan diri, saya tidak akan duduk di sini dan memberi tahu Anda apa rencana saya secara detail, karena saya rasa itu bukan sesuatu yang perlu di ketahui Daniel, tapi saya tahu apa yang harus saya lakukan dengan lebih baik kali ini.”
Kekalahan pertama dalam karir nya tentu bukan pengalaman menyenangkan, Wardley memilih melihat nya sebagai pelajaran dari pada sesuatu yang harus disesali terlalu lama.
Apalagi kekalahan datang dalam pertarungan kelas berat level tinggi melawan salah satu petinju terbaik dunia dengan gelar juara dunia di pertaruhkan, kesempatan kedua sudah berada di depan mata, Wardley tidak ingin memasuki rematch dengan mental seorang petinju yang hanya mengejar kemenangan angka, targetnya menghentikan Dubois sebelum pertarungan memasuki ronde ke 5.
Di bagian lain wawancara, Wardley juga memberikan pembelaan kepada pelatih nya Ben Davison yang mendapat banyak kritikan keras setelah kekalahan Moses Itauma dari Filip Hrgovic.
Wardley menilai Davison terlalu mudah di jadikan kambing hitam ketika seorang petinju mengalami kekalahan, pelatih memang mempunyai peran penting dalam mempersiapkan petarung tetapi keputusan akhir ketika berada di dalam ring tetap berada di tangan petinju.
Dia menggunakan pengalaman nya sendiri saat melawan Dubois sebagai contoh, tim di sudut ring telah memberikan instruksi yang tepat, tetapi dia sendiri yang kemudian memilih mengambil keputusan berbeda karena terlalu terbawa keinginan untuk mengakhiri pertarungan, itulah alasan kritik terhadap Davison tidak bisa di telan mentah mentah.
“Ben dijadikan kambing hitam setelah pertarungan saya dan dia juga sangat jelas setelah pertarungan Moses, ada banyak peran yang terlibat dalam sebuah kekalahan bukan hanya pelatih, dia tidak memiliki otonomi dan kendali penuh atas pertarungan, contoh nya saya sendiri, dalam pertarungan itu saya melakukan beberapa hal dengan salah, itu bukan berarti mereka tidak memberikan instruksi yang benar, tapi saya sendiri yang mengambil keputusan dan memilih untuk keluar ke sana melakukan hal yang salah, mengejar kemenangan, mengejar KO, memberikan tekanan dan itu justru memberikan dampak buruk, jadi seperti yang saya katakan, saya sangat berpegang teguh pada pandangan bahwa banyak kritik terhadap Ben Davison itu sangat tidak adil sama sekali.”
Menurut pengamatan penulis, pernyataan Wardley memang betul, kita masih bisa melihat cuplikan video saat Davison memberikan instruksi dengan sangat jelas dan keras agar Itauma tidak terburu buru mengejar penghentian karena sudah unggul cukup jauh.
Saat dia kembali bertarung saran dari pelatih nya seolah masuk ke telinga kanan keluar ke kiri, dia merasa masih kuat untuk meng KO Hrgovic padahal separuh dari stamina terkuras habis, ending nya terlihat dia seperti orang mabuk topi miring 5 botol polosan, dari sini Itauma wajib belajar dari pengalaman karena tidak semua lawan bisa dengan mudah di jatuhkan lalu menyerah, petinju Kroasia itu membuktikan ucapan nya bahwa dia tak mampu mengalahkan nya.









