Teofimo Lopez baru saja merebut gelar WBA kelas welter dari Rolando Rolly Romero, tetapi kemenangan itu membuka keruwetan baru, sang juara sudah memiliki rencana besar untuk mengejar gelar undisputed, belum sempat menikmati status nya tiga kepentingan sudah bertabrakan di sekeliling nya.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Lopez mengungkapkan bahwa dia memiliki tiga pertarungan tersisa bersama DAZN dan ingin seluruh nya di arahkan menuju gelar undisputed, dia menyebut Liam Paro, pemenang pertarungan Ryan Garcia melawan Conor Benn juga Devin Haney sebagai nama yang ingin di kejar nya.
Ambisi nya tidak salah dari sisi bisnis karena Lopez baru saja menjadi juara di kelas ketiga dan sekarang memiliki kesempatan untuk mengumpulkan sabuk sabuk lain di kelas ini.
Yang perlu di catat adalah, ada satu bagian dari rencana itu yang tidak semua nya berada di tangan Lopez sebab Jack Catterall sudah menunggu.
Catterall bukan petinju yang melihat dia memenangkan gelar lalu meminta kesempatan, jalur nya menuju pemegang WBA Super sudah di tetapkan jauh sebelum pertarungan Lopez melawan Romero berlangsung.
Pada Mei lalu, WBA menaikkan Romero menjadi Super Champion dan menggelar pertarungan antara Shakhram Giyasov dan Catterall untuk memperebutkan gelar WBA reguler yang kosong, dalam keputusan tersebut organisasi menetapkan bahwa Romero wajib menghadapi pemenang pertarungan tersebut dalam waktu maksimal 180 hari.
Setelah Lopez mengambil sabuk Super dari Romero, posisi Catterall menjadi semakin kuat.
Persoalan nya bukan apakah Catterall ingin menghadapi Lopez, WBA sudah lebih dulu menempatkannya dalam jalur itu, batas waktu 180 hari yang di hitung sejak pertarungan Catterall melawan Giyasov pada 23 Mei membawa tenggat tersebut ke sekitar 19 November 2026.
Di tengah rencana Lopez dan kewajiban WBA, Romero juga tidak menerima begitu saja hasil pertarunganmenilai dirinya seharusnya memenangkan pertarungan. Ia menunjuk kartu 114-114 sebagai bukti bahwa duel cukup ketat untuk kembali di gelar dan secara terbuka meminta rematch.
Romero bahkan mengatakan bahwa dia merasa berhasil mengungguli Lopez, membuat luka di wajah dan beberapa kali menyakiti nya.
“Rasa nya saya tidak pernah mendapatkan keputusan yang adil, itu sudah jelas, saya benar benar mengungguli orang yang di anggap sebagai salah satu petinju terbaik, seorang Olympian dan segala macam nya, Saya membuat nya terluka, saya menyakiti nya beberapa kali itu udah jelas, saya pantas mendapatkan rematch,” ujar Romero dalam konferensi pers setelah pertarungan.
Ada perbedaan antara memiliki alasan untuk meminta rematch dan memiliki hak untuk mendapatkan nya, tidak ada klausul rematch otomatis yang membuat Lopez wajib langsung memberikan pertarungan kedua kepada Romero, berarti jika tidak ada kesepakatan baru, tuntutan itu tetap harus bersaing dengan kepentingan lain yang sudah lebih dulu berada dalam jalur resmi.
“Saya terkena dua pukulan sepanjang pertarungan yang nyaris tidak membuat saya terpesona, saya tidak pernah dalam masalah apapun, ketika saya mendengar angka 114-114 itu adalah perampokan, kata Romero kecewa.”
Kalau Berdasarkan Aturan, Siapa yang Lebih Kuat?
Di sinilah penulis punya pendapat sendiri, kalau pertanyaan nya adalah siapa yang memiliki posisi paling kuat secara aturan jawaban nya adalah 100% Jack Catterall.
Bukan karena Catterall pasti lebih hebat dari pada Romero, tapi jalur nya sudah di tetapkan WBA sebelum Lopez menjadi juara, dia memenangkan pertarungan yang memang di nuat untuk menentukan lawan pemegang WBA Super berikut nya.
Romero memiliki argumen lain, dia bisa mengatakan bahwa pertarungan melawan Lopez sangat ketat, satu juri bahkan memberikan hasil imbang dan dia merasa telah melakukan cukup banyak untuk memenangkan laga, tetapi itu adalah alasan untuk meminta rematch bukan hak otomatis untuk mendapatkan nya.
Bahkan bila kita mengesampingkan aturan, ada sesuatu dalam klaim Romero yang perlu di beri tanda kutip, dia sendiri membiarkan Lopez mengumpulkan terlalu banyak ronde melalui aktivitas yang lebih konsisten, hasil resmi dan statistik pukulan juga menunjukkan bahwa Lopez lebih produktif sepanjang 12 ronde.
Bila Lopez ingin mengejar undisputed, pertarungan melawan Catterall bahkan bisa menjadi langkah pertama dan bukan berarti dia meninggalkan tujuan nya.
Sekarang kita tunggu apakah semua pihak Lopez, Catterall, promotor, DAZN dan WBA akan menemukan kesepakatan sebelum tenggat yang telah di tetapkan.
Baca juga:
#TeofimoLopez #JackCatterall #RolandoRomero









