Victor Ortiz pernah berdiri sejajar dengan petarung paling berani saat masih aktif di tinju, mantan juara WBC welter ini adalah petarung yang tidak takut berdiri di tengah ring, menatap lawan dan memilih untuk bertukar pukulan.
Namun waktu berjalan ring tinju yang dulu menjadi rumah nya perlahan menjauh, terakhir kali dia naik ring adalah pada 21 Mei 2022 setelah itu nama nya seperti menghilang banyak yang mengira dia akan menjauh dari perjotosan.
Tapi bagi Ortiz kisah itu belum berakhir, di usia 39 tahun saat sebagian besar petinju sudah menutup karir dan menjaga tubuh dari risiko dia mengambil arah yang berlawanan.
Kali ini dia tidak kembali ke tinju profesional tapi memilih jalan yang jauh lebih keras yaitu Bare knuckle Boxing.
Tidak ada sarung tangan atau bantalan yang melindungi tangan untuk meredam, setiap pukulan nyata dan kesalahan bisa berujung luka yang lebih dalam, inilah yang cocok bagi Ortiz sehingga memustuskan masuk walaupun usia sudah tak muda lagi.
Bare knuckle bukan hal baru, jauh sebelum tinju modern berkembang pertarungan tanpa sarung tangan sudah ada sejak abad ke 17 di Inggris.
Pada masa itu aturan masih longgar petarung bisa saling menjatuhkan bahkan menggunakan teknik yang hari ini di anggap ilegal, baru pada tahun 1743 aturan pertama mulai di perkenalkan oleh Jack Broughton kemudian berkembang menjadi London Prize Ring Rules pada 1838.
Walaupun dengan aturan pertarungan tetap brutal tidak ada batas ronde seperti sekarang duel bisa berlangsung sampai salah satu tidak mampu bangkit.
Era itu akhir nya berakhir di penghujung abad ke-19 ketika tinju modern dengan sarung tangan mulai mendominasi, sejak saat itu bare knuckle menghilang dari panggung utama dan sekarang kembali hidup di era modern.
Dengan organisasi seperti BKB dan Bare Knuckle Fighting Championship olahraga ini kembali muncul lebih terstruktur tapi tetap mempertahankan karakter utama nya keras tanpa kompromi.
Ketika seorang petinju kembali bertarung di usia mendekati 40 tahun biasa nya ada satu alasan belum siap berhenti, namun dalam cerita Ortiz ini cerita nya lain, dia tidak kembali ke tempat yang sama malah meninggalkan tinju yang telah membesarkan nama nya.
Dalam sebuah wawancara dia berbicara tidak lagi penuh ambisi seperti dulu tapi eperti seseorang yang sudah melewati banyak hal.
Dia mengaku sudah terlalu sering di remehkan di tempatkan dalam situasi yang tidak dia kendalikan, saat ini dia ingin melakukan semua dengan cara nya sendiri.
Itulah yang dia sebut sebagai redemption atau penebusan bukan kepada publik atau lawan namun kepada diri nya sendiri.
Tidak semua petarung meninggalkan ring dengan cerita indah, di balik gemerlap sabuk juara juga menyimpan sisi gelap, Ortiz tidak berbicara panjang lebar tapi bisa kita pahami.
Dia pernah merasa di manfaatkan berada di jalur yang bukan pilihan nya, ini bukan cerita baru dalam tinju, banyak petarung berbakat yang karir nya terhambat bukan karena kemampuan tetapi karena politik promotor atau keputusan yang berada di luar kendali mereka, bagi Ortiz semua itu sudah cukup.
Saat kesempatan di bare knuckle datang dia melihat sesuatu yang lebih jujur mungkin sesuai dengan diri nya sekarang.
Baca juga:
Ada perbedaan mendasar antara tinju modern dan bare knuckle bukan cuma sarung tangan tapi cara bertarung.
Di tinju sarung tangan memberi perlindungan, etarung bisa melepaskan kombinasi ke kepala dengan lebih bebas resiko cidera pada tangan relatif lebih kecil sedangkan di bare knuckle situasi nya jauh berbeda.
Satu pukulan yang salah bisa membuat tangan patah itulah sebab nya banyak petarung menjadi lebih hati hati.
Ortiz sendiri tidak melihat nya sebagai sesuatu yang lebih berbahaya tapi bagian dari resiko yang sama, jika memilih masuk ke dalam nya maka harus siap menerima konsekuensi nya.
Sepanjang karir Victor Ortiz di kenal sebagai petarung yang liar gaya seperti ini menemukan tempat nya di bare knuckle.
Di sini duel jarak dekat menjadi kunci, ketahanan mental dan keberanian jauh di atas teknik, petarung seperti Ortiz ini adalah lingkungan yang familiar bukan karena mudah tapi sesuai dengan insting bertarung nya.
Ortiz bukan satu satu nya yang beralih ke bare knuckle, dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak nama besar dari tinju yang mencoba jalur ini.
Ada beberapa faktor yang mendorong perubahan ini salah satu nya adalah eksposur, lebih singkat, intens dan mudah viral, selain itu ada juga faktor peluang, petarung yang mungkin kesulitan mendapatkan pertandingan besar di tinju bisa menemukan kesempatan baru di sini.
Masuk ke olahraga sekeras ini di usia 39 tentu bukan keputusan ringan, refleks mungkin sedikit menurun resiko cidera bisa lebih besar namun pengalaman juga memainkan peran penting.
Ortiz bukan orang baru dia sudah merasakan berbagai situasi di atas ring dia tahu bagaimana membaca lawan.
Kita tunggu debut nya pada 18 juli mendatang, apakah Ortiz bisa membutikan ketangguhan nya atau malah pulang babak belur seperti dia di kalahkan dengan curang oleh Floyd mayweather jr di masa lalu.
Baca juga:
#Victorortiz #BKFC









