Masuk nya Zuffa Boxing ke dunia tinju profesional tidak hanya kabar burung.
perusahaan baru yang berada di bawah kendali Dana White itu langsung membuat gebrakan besar dengan mengamankan tanda tangan Jai Opetaiajuara dunia IBF kelas cruiserweight.
Keputusan Opetaia meninggalkan Matchroom menjadi pertanda Zuffa Boxing tidak datang sebagai pelengka tetapi sebagai penantang serius di industri yang selama puluhan tahun di kendalikan promotor-promotor lama.
Baca juga:
tentu saja reaksi dari kubu Matchroom tidak bisa di hindari.
Pekan lalu Jai Opetaia secara resmi mengumumkan bahwa diri nya akan bekerja sama dengan Dana White dan Zuffa Boxing, tetap di dampingi oleh Tasman Fighters sebagai mitra lama nya.
Langkah ini langsung menyita perhatian karena Opetaia bukan petinju biasa.
Sebagai juara dunia IBF kelas cruiserweight, Opetaia di pandang luas sebagai calon juara undisputed di kelas 200 pon, bahkan di sebut punya potensi besar untuk menjadi kekuatan berbahaya di kelas berat jika suatu hari naik divisi.
Dana White mengamankan Opetaia adalah sebuah kudeta strategis, untuk pertama kali nya Zuffa Boxing tidak hanya mengorbitkan petinju muda tetapi langsung mengambil petinju elite yang sudah memegang sabuk dunia versi badan tinju utama.
Matchroom Boxing mulai bekerja sama dengan Opetaia dan Tasman Fighters sejak Juli 2023, dalam periode tersebut Matchroom terlibat dalam beberapa pertarungan penting Opetaia termasuk laga laga pertahanan gelar dunia.
Meski Matchroom tidak terlibat dalam pertahanan gelar terakhir Opetaia melawan Huseyin Cinkara, hubungan kerja kedua nya sudah cukup panjang untuk membangun fondasi profesional.
Karena itu, kepindahan Opetaia ke Zuffa jelas bukan kehilangan kecil bagi Matchroom.
Menanggapi kepergian Opetaia Frank Smith selaku CEO Matchroom Boxing memilih nada yang relatif tenang.
Dalam wawancara Smith menegaskan bahwa dinamika seperti ini adalah bagian dari dunia tinju.
“Begitulah ada nya. Petinju datang, petinju pergi.
Dalam tinju yang di butuhkan adalah seseorang yang benar-benar berkomitmen pada Anda dan mau melakukan apa pun bersama Anda.. ujar Smith.
Smith juga menekankan bahwa tinju pada akhir nya adalah bisnis komersial bukan hanya soal emosi atau loyalitas.
“Ini bisnis jangka panjang dan tidak semua orang berpikir sejauh itu, Ini bukan pertama kali nya terjadi dan jelas bukan yang terakhir.”
Meski mengakui ada rasa kecewa smith mengatkan Matchroom tidak akan larut dalam kehilangan satu nama besar.
Frank Smith menyebut bahwa Matchroom saat ini masih memiliki lebih dari 90 petinju di bawah kontrak mereka. Menurut nya tidak masuk akal jika sebuah promotor berhenti bergerak hanya karena satu petinju hengkang.
“Kami punya begitu banyak peluang, tapi ini juga bukan kantong uang tanpa dasar. Kalau begitu kami tidak akan bisa menjalankan bisnis ini.”
Smith mengakui kualitas Opetaia sebagai petinju elite, namun membuka kemungkinan bahwa ada petinju lain yang mungkin tidak sekelas Opetaia secara teknis tetapi punya nilai komersial lebih besar.
“Jai Opetaia petinju luar biasa. Tapi apakah ada petinju lain yang mungkin tidak selevel dia, namun punya potensi komersial lebih besar? Ya.. tentu ada.”
Jika Frank Smith memilih jalur diplomatis, maka Eddie Hearn justru jauh lebih frontal. Promotor utama Matchroom itu menilai Zuffa Boxing masih terlihat bingung dengan identitas dan arah mereka sendiri.
Dalam wawancara di Las Vegas, Hearn tidak menahan kritik nya.
“Saya rasa mereka akan mengejar banyak petinju, tapi jujur saja, semua nya terlihat sangat membingungkan. Narasi mereka berantakan, Saya bahkan tidak yakin mereka tahu apa yang sedang mereka lakukan.”
Salah satu kritik utama Hearn adalah inkonsistensi pesan dari Zuffa Boxing. di satu sisi Zuffa sempat mengklaim ingin membuat sistem sendiri dengan peringkat dan sabuk internal.
Namun di sisi lain mereka merekrut Opetaia yang jelas mengincar pertarungan unifikasi sabuk dunia resmi.
“Di satu sisi mereka bilang tidak mengakui sabuk, di sisi lain mereka bicara unifikasi dengan Jai, Padahal mereka tidak akan mendapatkan itu.. ujar Hearn.
Hearn bahkan menyebut kemungkinan Opetaia hanya akan mendapatkan pertarungan acak, mengingat juara cruiserweight terpadu saat ini Gilberto ‘Zurdo’ Ramirez berada di bawah promosi Oscar De La Hoya rival lama Dana White.
Zuffa Boxing sendiri akan menggelar debut resmi nya di UFC APEX, di siarkan oleh Paramount+ dengan Callum Walsh sebagai bintang utama namun Hearn mempertanyakan konsep acara tersebut.
“Apa sebenar nya yang terjadi Jumat malam itu? Apakah itu awal liga mereka atau hanya pertarungan acak?”
Menurut Hearn tanpa dorongan menuju gelar dunia yang di akui sebuah pertarungan kehilangan arah cerita.
“Kalau tidak mendorong sabuk, kamu tidak mendorong akan cerita. Lalu apa yang di kejar petinju?”
Hearn mengaku sering berbicara dengan petinju baik yang terikat kontrak maupun yang bebas untuk membaca atmosfer soal Zuffa Boxing.
“Ada campuran antara rasa penasaran dan kebingungan,” kata nya.
Menurut Hearn Zuffa mungkin cocok bagi petinju yang karir nya stagnan. Namun bagi petinju yang mengejar legacy dan sejarah Hearn justru menyebut nya sebagai pilihan berisiko.
“Kalau kamu punya otak dan ingin sabuk serta warisan, ini bisa jadi bencana.”
Salah satu poin paling sensitif adalah soal uang. Zuffa Boxing di sebut mendapat sokongan dana sekitar USD 10 juta per tahun dari Turki Alalshikh di tambah kekuatan finansial TKO yang menaungi UFC dan WWE.
Namun Hearn menilai ini justru bisa menjadi bumerang.
“Masalah besar mereka adalah potensi pemberontakan dari petarung UFC ketika petinju di bayar jauh lebih besar padahal daya tarik mereka lebih kecil.”
Sebagai contoh, Hearn menyinggung pernyataan Justin Gaethje yang mengaku belum menghasilkan USD 1 juta dari bonus sepanjang karir nya di UFC.
“Gaethje di bayar lebih kecil dari Jai Opetaia. Padahal dia menjual habis T-Mobile Arena.”
Menurut nya pada tahap awal Zuffa Boxing memang membayar petinju relatif kecil. Namun masalah akan muncul ketika mereka mulai merekrut juara dunia dengan bayaran jutaan dolar.
“Saat itu terjadi, petarung UFC akan bertanya ‘Apa-apaan ini?’”
Untuk saat ini kehadiran Zuffa Boxing jelas mengguncang ekosistem tinju. Kepindahan Jai Opetaia menjadi tanda bahwa promotor lama tidak lagi aman dari kompetisi baru.
Namun di sisi lain kritik dari Frank Smith dan Eddie Hearn menunjukkan bahwa Zuffa masih harus membuktikan arah dan konsistensi nya.
Apakah Zuffa Boxing akan menjadi kekuatan revolusioner atau justru proyek ambisius yang kehilangan arah. jawaban nya masih akan di tentukan di bulan bulan ke depan.
#Eddiehearn #Franksmith #Zuffaboxing










Pingback: Chocolatito Gonzalez operasi bahu dan spekulasi pensiun
Pingback: Callum Walsh Menang di Debut Zuffa Boxing Tanpa KO