Shakur Stevenson baru saja bergembira ria dengan kemenangan spektakuler nya namun kebahagiaan itu terbelah karena ada sesuatu yang hilang dari nya.
Dia baru saja mengalahkan Teofimo Lopez lewat keputusan mutlak merebut gelar WBO junior welterweight sekaligus status juara lineal, Stevenson seharus nya sedang menikmati pengakuan tapi yang terjadi sebalik nya WBC mencabut sabuk kelas ringan 135 lbs milik nya dan dari situlah bara mulai menyala.
Secara administratif WBC berlindung di balik pasal, mereka berbicara soal aturan dan tenggat waktu tapi bagi Stevenson ini bukan karena prosedur tapi uang dan politik lama yang kembali di mainkan dengan wajah baru.
“Ambil Sabuk nya..itu tak mengubah siapa aku”…kata Stevenson
Respons Stevenson di media sosial begitu emosional juga jujur jauh dari bahasa diplomatis yang biasa nya di pakai petinju saat berhadapan dengan badan tinju, dia menolak membayar 100 ribu dolar yang di minta WBC bahkan menyindir bahwa uang itu lebih baik dia berikan kepada putri nya sendiri.
Itu tidak hanya kemarahan sesaat tapi perlawanan, Stevenson seolah berkata sabuk boleh kalian ambil tapi pengakuan kalian tidak otomatis ikut.
WBC tidak punya kepentingan langsung dalam laga Stevenson vs Lopez, tidak ada sabuk mereka yang di pertaruhkan tapi setelah laga besar itu selesai mereka muncul menagih, mencabut dan menjelaskan semua nya dengan bahasa regulasi.
Bagi banyak penggemar ini seperti reaksi terlambat yang lebih di dorong rasa tersisih dari pada penegakan aturan.
Memang secara teknis organisasi ini berada di jalur benar, aturan mereka memberi waktu 15 hari bagi juara untuk memilih sabuk mana yang di pertahankan, aturan lain juga menyebut kewajiban membayar 50 persen biaya sanksi jika sang juara bertanding di laga non WBC.
Yang jadi masalah bukan di apa aturan nya tapi kapan dan kepada siapa aturan itu di tegakkan.???
Dalam sejarah kita sudah terlalu sering melihat fleksibilitas aturan ketika nama besar menguntungkan dan ketegasan mendadak ketika relasi memburuk, stevenson merasa dia sedang berada di sisi yang kedua.
Dia bahkan menyebut konflik lama WBC dengan Terence Bud Crawford karena tudingan serius yang benar atau tidak mencerminkan persepsi bahwa badan tinju sering membawa urusan personal ke meja profesional.
Yang terlihat lucu, sebelum kemarahan Stevenson memuncak WBC sempat merilis pernyataan resmi yang memuji pencapaian nya sebagai juara empat divisi.
Mereka mengangkat sejarah panjang Stevenson bersama WBC seolah ingin menutup cerita dengan senyum tapi pujian tanpa kepercayaan tak berarti banyak, dalam hitungan jam sabuk itu hilang dan pujian tadi kosong bahkan munafik di mata sang petinju.
Jika benar menghargai pencapaian seorang juara apakah langkah pertama yang di ambil adalah mencabut sabuk nya?
Tetapi posisi Stevenson tidak akan pudar hanya karena WBC di cabut, dia baru saja mengalahkan nama besar yang sah secara historis dan bagi banyak penggemar jauh lebih bermakna dari pada sabuk.
Dengan kata lain Stevenson tidak membutuhkan itu untuk membuktikan siapa diri nya mala merekalah yang terlihat kehilangan pijakan di mata generasi baru penggemar yang percaya pada apa yang terjadi di ring bukan di meja rapat.
Media sosial memberi petinju suara langsung, penonton kini lebih paham politik tinju dari pada sebelum nya, ketika seorang petinju berani berkata tidak pada sistem benturan menjadi tak terhindarkan.
Stevenson mungkin terdengar kasar tapi dalam dunia yang terlalu lama di bungkus bahasa formal dan rilis pers, kejujuran kasar kadang terdengar lebih menusuk.
Hingga kini Presiden WBC Mauricio Sulaiman belum memberikan respons atas pernyataan Stevenson, diam bisa berarti banyak hal antara badan dan petinju yang mereka klaim wakili.
Shakur Stevenson sudah melangkah ke jalan berikut nya, dia menang naik kelas dan dia masih tak terkalahkan mereka mungkin masih memegang sabuk hijau mereka tapi kendali atas cerita untuk saat ini ada di tangan Stevenson.
Baca juga:
#Shakurstevenson #WBC









