Di kelas menengah super telah hadir petinju muda yang karir nya terus di genjot agar segera mendapat jalur menuju perebutan gelar dunia, nama nya Diego Pacheco.
Usia masih muda, posisi nya yang terus merangkak di peringkat dunia membuat nya semakin sering di bicarakan sebagai calon masa depan, dia tumbuh di Los Angeles dengan mimpi besar untuk mengukir nama nya di olahraga yang telah membesarkan banyak legenda.
Lahir pada 8 Maret 2001 di Los Angeles California, Pacheco berasal dari ayah keturunan Meksiko, sang ibu memiliki akar keluarga dari Zacatecas, meski di besarkan di Amerika Serikat budaya Meksiko tetap melekat kuat dalam kehidupan sehari hari nya.
Tinju bukan satu satu nya olahraga yang pernah dia tekuni, saat masih bersekolah Pacheco juga aktif bermain basket, dengan postur tinggi di banding teman seusia nya, olahraga lompat lah yang dia nikmati, seiring waktu kecintaan nya pada tinju tumbuh semakin besar saat menonton bersama keluarga nya di rumah.
Lalu sang ayah mengajak nya berlatih di sasana lokal dengan tujuan agar putra nya memiliki kegiatan positif setelah pulang sekolah, tak ada yang menyangka keputusan itu menjadi awal lahir nya salah satu prospek terbaik di kelas menengah super.
Bakat Diego berkembang sangat cepat, tidak butuh waktu lama hingga ia mulai mengoleksi berbagai gelar di level amatir, di sana beberapa kali menjadi juara turnamen nasional bergengsi di Amerika Serikat, pernah menjuarai USA Silver Gloves dan USA National Junior Championships dan mengumpulkan sejumlah gelar nasional lain nya.
Banyak petinju memilih mengejar mimpi tampil di Olimpiade sebelum beralih ke dunia profesional tapi Pacheco merasa sudah siap menghadapi tantangan yang lebih besar.
Keputusan ternyata menjadi langkah yang tepat, di bawah asuhan Jose Benavidez sr tak lain ayah dari juara 3 divisi David Benavidez, di masa inilah Pacheco melesat sampai ke penantang teratas, dengan rekor tak terkalahkan nya yang memukau membuat promotor Matchroom Boxing milik Eddie Hearn tertarik merekrut nya, setelah bergabung dengan Matchroom menjadi pintu masuk bagi Pacheco menuju panggung bergengsi.
Sejak debut profesional pada akhir 2018, Diego Pacheco tidak hanya mengalahkan lawan yang berada di bawah level nya tetapi juga menunjukkan peningkatan kualitas setiap kali naik ring, perkembangan teknik bertarung nya berlangsung lebih cepat di banding sebagian besar petinju seusia nya.
Salah satu kelebihan Pacheco adalah postur nya yang menjulang dengan tinggi 193 sentimeter dan jangkauan lengan mencapai 201 cm, memiliki keuntungan fisik memudahkan nya melancarkan jab yang akurat untuk menahan laju serangan lawan.
Perjalanan profesional Diego Pacheco juga di hiasi kemenangan atas sejumlah lawan yang cukup di kenal, berhasil menundukkan Jack Cullen, Marcelo Coceres, Manuel Gallegos, Shawn McCalman, Maciej Sulecki, Steven Nelson, Trevor McCumby, sampai yang terakhir melawan Kevin Lele Sadjo pada Desember 2025 lalu.
Atas rentetan hasil positif itu nama nya terus merangkak di berbagai peringkat badan tinju, WBO pernah menunjuk Pacheco melawan Hamzah Sheeraz pada Januari 2026 untuk memperebutkan gelar yang kosong setelah Terence Crawford memutuskan pensiun tak lama ketika menggulingkan Canelo Alvarez lewat angka.
Rencana itu gagal terwujud setelah presiden organisasi resmi menutup purse bid pertarungan mereka, Pacheco tersingkir kemudian Sheeraz mendapat lawan baru pada mei lalu melawan Alem Begic dan sukses mengangkat gelar WBO hanya dalam 2 ronde.
Walaupun sudah berada di jalur yang dekat dengan perebutan gelar tapi tantangan bagi Diego Pacheco baru di mulai, dia akan bersaing dengan para petinju muda dan juara yang baru naik tahta.
Dengan rekor 25-0-(18 KO) dia harus menjaga nya agar tidak tercoreng sebelum pinggang nya di lingkari salah satu dari 4 sabuk dunia, sebab bila itu terjadi maka nasib nya akan sama dengan petinju lain yang awal nya menakutkan lalu suram hanya 1 kelalaian.
Baca juga:
#DiegoPacheco #WBO









