Sabuk WBC kelas welter kini berada di pinggang Ryan Garcia, yang tak kalah menarik dari kemenangan itu bukan hanya gelar tapi arah yang dia pilih setelah nya.
Di atas ring T-Mobile Arena, sesaat setelah skor mutlak di umumkan, Garcia langsung menembakkan tantangan terbuka kepada Shakur Stevenson.
Melawan Mario Barrios Garcia sangat efektif dan terkontrol, dia mencetak knockdown di awal laga dan mengamankan kemenangan angka yang cukup lebar tiga kartu juri berpihak pada nya tanpa perdebatan.
Baca juga:
Ini adalah gelar dunia pertama nya di kelas 147 pound tapi jika melihat gestur nya setelah laga, jelas dia tidak ingin berlama lama menikmati selebrasi fokus nya langsung tertuju pada pertarungan yang lebih besar.
Nama pertama yang dia sebut adalah Shakur Stevenson, tantangan ini tidak serta merta emosional setelah menang.
Garcia menyebut nya dengan tegas seolah sudah menimbang resiko dan konsekuensi nya.
Baca juga:
Stevenson tekenal sebagai petinju dengan IQ tinju tinggi, defensif dan kontrol yang presisi, gaya bertarung nya di anggap anti hiburan oleh sebagian penggemar tetapi efektif dan sulit di tembus.
Di lihat dari gaya meraka, Garcia hidup dari momen kecepatan tangan dan timing counter, sedangkan tevenson hidup dari kontrol, mematikan ritme lawan sebelum ancaman tumbuh.
Jika pertarungan ini terjadi tidak hanya duel popularitas tapi pembuktian bahwa Garcia bisa menembus pertahanan paling rapat di divisi.
Baca juga:
Di luar Stevenson nama Devin Haney tetap berada dalam ancaman besar perjalanan Garcia.
Dalam konferensi pers pasca laga Garcia memastikan bahwa laga ulang melawan Haney masih sangat dia inginkan, secara peta divisi duel ini mungkin justru lebih berat dampak nya.
Rematch Garcia vs Haney gerbang menuju unifikasi sabuk, kedua nya punya sejarah, rivalitas dan basis penggemar yang sudah terbentuk.
Baca juga:
Jika Stevenson adalah tantangan teknis maka Haney adalah pertarungan warisan, duel ulang mereka bisa menentukan siapa yang menguasai arah kompetisi.
Melihat struktur divisi saat ini, pertarungan kedua melawan Haney lebih strategis di banding langsung menghadapi Stevenson, dampak terhadap penyatuan gelar lebih jelas dan tekanan nya terhadap peta juara lebih terasa.
Namun saat ini Garcia ingin semua kemungkinan tetap terbuka, pendek kata jika yang satu tidak terjadi mungkin dengan yang lain.
Baca juga:
Satu nama lain yang tak bisa di hilangkan adalah Conor Benn, meski belum di umumkan resmi sebagai penantang wajib Benn berada dalam posisi teratas ranking WBC, kadang di sinilah sisi politik tinju yang sering kali mengacaukan rencana besar.
Kalau WBC memerintahkan mandatory defense, Garcia bisa di paksa menghadapi Benn sebelum mengejar laga besar lain nya Itu tentu akan mempersulit negosiasi melawan Stevenson atau Haney.
Sejarah menunjukkan bahwa badan tinju kerap memberi ruang kepada juara baru untuk menjalani pertarungan bernilai komersial tinggi terlebih dahulu.
Baca juga:
Benn sendiri membawa daya tarik, gaya agresif dan latar belakang Inggris nya menjadikan laga Garcia vs Benn sangat menjual secara global tetapi dari sisi konsolidasi sabuk duel itu mungkin tidak sekuat opsi Haney.
Jika di susun berdasarkan dampak terhadap divisi.
Haney – unifikasi paling besar.
Stevenson – Tantangan teknis paling menarik.
Benn – Opsi wajib yang bisa di paksakan.
Tapi keputusan akhir tetap di tangan Garcia karena dia yang memegang sabuk dan punya kesempatan membentuk warisan yang lebih serius.
Jika dia memilih Stevenson berarti mengejar pembuktian teknis, kalau melawan Haney dia mengejar legitimasi divisi dan bila harus menghadapi Benn dia di uji oleh sistem.
Dengan menyebut tiga nama besar sekaligus Garcia memastikan bahwa semua mata kini tertuju pada nya.
#Ryangarcia #Shakurstevenson #Devinhaney









