Duel Murad Khalidov melawan Jose Larduet pada 30 Januari di Moskow mungkin tidak langsung memicu kegaduhan global. Tidak ada sabuk dunia utama atau promotor raksasa yang memutar mesin.
Ini adalah laga dua petinju kelas berat yang sama sama sudah lanjut usia sadar bahwa satu kemenangan bisa menghidupkan kembali jalan yang hampir tertutup, sementara satu kekalahan bisa menjadi akhir dari ambisi yang selama ini di pelihara.
Sabuk IBA Pro Intercontinental yang di perebutkan memang bukan mahkota paling bergengsi di kelas berat. Namun Sabuk ini adalah bisa jadi bukti bahwa mereka masih layak di bilang belum Tamat.
Baca juga:
Jose Larduet mengalami kekalahan angka mengejutkan dari Bohdan Myronets pada 2024. kala itu dia datang ke laga tersebut sebagai petinju yang lebih berpengalaman di level amatir, secara teknis di unggulkan. tapi hasil nya justru berbanding terbalik.
Menurut pengamatan saya, kekalahan itu menyingkap masalah lama yang selalu menghantui Larduet sejak awal karir.
Di level amatir, ritme yang lebih terstruktur dan jarak yang lebih terjaga masih bisa menutupi kelambanan kaki nya. tapi profesional terutama kelas berat, waktu bereaksi menjadi mata uang paling mahal.
Sejak kekalahan tersebut, dua kemenangan beruntun memang berhasil dia raih. Tapi jujur saja kualitas lawan nya tidak memberi jawaban apa pun.
Pertarungan melawan Khalidov adalah ujian sebenar nya. apakah Larduet benar belajar atau bertahan hidup dengan jadwal aman.n
Berbeda dengan Larduet, kisah Murad Khalidov tidak di bentuk oleh kekalahan besar tapi oleh ketiadaan. Vakum panjang dari 2014 hingga 2025 membuat nama nya nyaris hilang dari tinju profesional.
Namun comeback Khalidov langsung mengubah persepsi. KO atas Sergej Kuzmin membuktikan dia masih punya siung yang tajam.
Menurut saya, latar belakang kickboxing Khalidov menjadi faktor krusial di akhir karir nya. dia bukan petinju dengan footwork halus ala amatir elit, tapi dia paham timing benturan dan tahu bagaimana memaksimalkan kekuatan tubuh besar dalam ruang sempit. Di kelas berat Eropa, gaya seperti ini selalu berbahaya.
Jika duel ini di lihat secara teknis, Khalidov membawa tekanan konstan sementara Larduet mengandalkan struktur dan pengalaman ring.
Masalah nya, struktur hanya efektif jika tubuh mampu mengeksekusi nya dengan disiplin selama ronde demi ronde.
Khalidov bukan tipe petinju yang memberi ruang untuk berpikir lama. usia Larduet 35 tahun menjadi faktor signifikan. Refleks yang setengah detik lebih lambat bisa berujung petaka di kelas berat.
jika Larduet gagal, pertarungan ini akan berubah menjadi tes fisik yang tidak menguntungkan bagi nya.
Larduet harus siap bertarung dalam kondisi siap perang Hidup atau mati. Dalam laga penentuan seperti ini, faktor mental sering kali menjadi pembeda yang tak tercatat di statistik.
Kita perlu jujur..sabuk IBA Pro Intercontinental bukan jalan pintas menuju gelar dunia utama.
Tapi pemenang laga ini bisa dengan cepat masuk untuk pertarungan regional besar bahkan eliminator sekunder.
ini mungkin kesempatan terakhir bagi khalidov yang sudah 37 tahun untuk membuktikan bahwa kegemilangan masih punya gema di dunia profesional.
Prediksi dan Arah Pertarungan.
Jika duel ini berjalan panjang, peluang Larduet bertahan secara angka memang ada. Namun semakin lama laga berlangsung semakin besar resiko dia kehabisan tenaga dan fokus.
Sebalik nya Khalidov akan mencoba mematahkan seranagan sejak awal, menargetkan tubuh dan memaksa pertarungan fisik.
Jika dia berhasil melakukan nya dalam empat hingga enam ronde pertama, saya melihat peluang KO atau TKO terbuka lebar.
Ini bukan pertarungan tentang siapa yang paling terkenal. tapi dia yang siap menerima kenyataan bahwa karir tinju tidak menunggu siapa pun.
Pada 30 Januari nanti, hanya satu dari mereka yang akan berjalan keluar dengan masa depan yang masih sedikit cerah.
#Muradkhalidov #Larduet #Kelasberat










Pingback: Gervonta Davis Di Buru Polisi, Surat Perintah Sudah Terbit
Pingback: Dante Kirkman Lulusan Stanford menantang Tinju