Akhir malam yang lesu harus di terima Granit Shala. Petinju kelas berat Jerman bertubuh raksasa itu tumbang di ronde terakhir setelah duel keras melawan Peter Milas.
Sebuah pukulan kanan telak di ronde ke 10 menjatuhkan Shala telentang ke kanvas, meski sempat bangkit, sudut nya melempar handuk sebagai tanda menyerah.
Kemenangan ini mengangkat rekor Milas menjadi 20-1-15 KO, sementara Shala harus menerima kekalahan kedua dalam karir nya 18-2 (7 KO).
Pertarungan berjalan ketat di awal, penuh kehati hatian dan rasa saling menghormati. Milas terus berganti stance, mencari peluang untuk melepas pukulan berat nya, hingga akhir nya menemukan penentu di ronde pamungkas.
Di partai lain, prospek kelas ringan junior Nelson Birchall tampil dominan meski menerima panggilan mendadak.
Petinju kidal bertangan cepat itu mengontrol laga sejak ronde awal melawan Wilbert Pantinn. Tekanan Birchall tak pernah mengendur sampai sudut Pantinn memutuskan menghentikan laga di antara ronde ke lima.
Tak berhenti di sini, Birchall di jadwalkan tampil kembali di Manchester dua pekan ke depan dalam ajang Queensberry Promotions.
Namun sorotan malam itu tertuju pada Jadier Herrera. Petinju Kuba berusia 23 tahun tersebut menampilkan ketangguhan mental dan agresivitas yang membuat nama nya langsung masuk perebutan gelar dunia.
Herrera meraih sabuk interim WBC kelas ringan 135 lbs setelah menghentikan veteran Panama Ricardo Nunez di ronde ke 8 dalam pertarungan yang berlangsung keras dan dramatis.
Nunez datang dengan rekor 26-8 22 KO tampil berani dan bahkan sempat menjatuhkan Herrera lebih dulu lewat pukulan kanan yang sangat telak.
Knockdown itu sempat membuka luka di sisi kiri wajah Herrera, namun tidak mematahkan semangat diri nya.
Di ronde ke 7, dia mulai menancapkan kaki, menekan tanpa ragu perlahan menguras pertahanan Nunez.
Ronde ke 8 menjadi puncak. Meski Nunez masih sempat membalas dengan hook pendek ke tubuh dan kepala, Herrera mengurung nya di tali ring dan mendaratkan pukulan kanan keras yang merusak.
Saat Herrera kembali menyerbu untuk menyelesaikan tugas nya, wasit Daniel Van de Wiele masuk menghentikan laga demi keselamatan Nunez.
Penghentian itu sempat menuai protes, namun melihat kondisi Nunez yang terus menerima serangan tanpa pertahanan memadai, keputusan wasit di nilai tepat. Herrera pun resmi mengamankan kemenangan terbesar dalam karir nya.
kemenangan ini langsung menempatkan Jadier Herrera di jantung persaingan gelar dunia kelas ringan.
Dari knockdown menuju sabuk interim, Herrera tidak hanya prospek tapi penantang haus akan gelar.
Pengamatan saya, gelombang kemenangan KO/TKO yang terjadi di Jerman kali ini bukan cuma hasil pertandingan biasa, tetapi arena Eropa kembali melahirkan petarung yang ganass tanpa kompromi.
Banyak laga berakhir cepat bukan karena lawan lemah, melainkan karena perbedaan kesiapan dan keberanian mengambil resiko di dalam ring.
Jika ini berlanjut, Jerman bisa kembali menjadi panggung penting bagi petinju Eropa yang siap naik kelas ke level internasional.
#Hasiltinju2026 #Jadierherrera #Ricardonunez










Pingback: Santillan vs Reyes, perang WBA interim di kandang sendiri
Pingback: Sejarah hari ini, Marvin Hagler Kalah pada 13 Januari 1976