Menjelang pertarungan penting melawan Caoimhin Agyarko, Brandon Adams tidak lagi berbicara tentang potensi atau rencana jangka panjang tapi bicara tentang perubahan, menerima luka dan berhenti bersembunyi di balik teknik dan mulai berdiri di depan lawan.
Bagi petinju yang sudah lebih dari satu dekade hidup di dunia profesional perubahan seperti ini tidak datang tiba tiba biasa nya itu lahir dari rasa kecewa yang dalam.
Saat ini Brandon Adams memiliki rekor 26 kemenangan dan 4 kekalahan, tapi satu kekalahan itu jauh lebih membekas di banding yang lain yaitu split decision dari Andreas Katzorkis di final turnamen OTX Boxing kelas junior middleweight.
Adams datang ke turnamen itu setelah tiga tahun tidak aktif, petinju mana pun yang vakum selama itu tubuh nya tidak lagi bereaksi seperti dulu namun Adams merasa dia sudah melakukan cukup untuk menang.
Ketika hasil di umumkan dan nama nya tidak di sebut sebagai pemenang, pasti ada rasa kecewa terhadap cara bertarung yang selama ini dia pegang.
Selain itu nama Serhii Bohachuk punya tempat khusus dalam perjalanan Adams, pertemuan pertama terjadi saat Bohachuk masih petinju muda belum terkalahkan dengan pukulan keras, Adams datang sebagai underdog dan secara mengejutkan menghentikan nya meski tertinggal di semua kartu juri.
Itu kemenangan besar tapi bukan dengan dominasi penuh, saat laga ulang terjadi situasi nya terbalik, Bohachuk sudah di anggap bukan petinju kacangan sementara Adams datang dengan beban kekalahan di turnamen OTX.
Bandar taruhan bahkan menempatkan Adams sebagai underdog yang lebih besar di banding pertemuan pertama, di sinilah perubahan mulai terlihat.
Adams tidak lagi terlalu sibuk bergerak menjauh dia berdiri di depan Bohachuk sengaja berada di ruang berbahaya dan mengajak nya bertarung.
“Bahkan ketika dia menutup mata, dia tetap melihat saya,” kata nya.
Adams ingin lawan nya tahu bahwa dia tidak ke mana mana, inspirasi nya tidak datang dari petinju modern dengan footwork canggih atau pertahanan licin tapi dia menyebut legenda lama seperti Marvin Hagler, Roberto Duran dan James Toney.
Mereka adalah petinju yang tidak takut berada di jarak dekat yang rela menerima satu pukulan demi membalas dua juga bertarung dengan tubuh bukan hanya kepala.
Adams mengakui bahwa selama bertahun tahun dia sebena rnya mampu bertarung seperti itu tapi selalu menahan diri karena takut salah dan kalah, kini ketakutan itu di buang, dia menyebut era baru nya sebagai era hukuman untuk lawan juga untuk diri nya sendiri.
Ini pengakuan bahwa bertinju di level tertinggi memang menyakitkan namun akhir nya siap menerima itu.
Perubahan Adams tidak berhenti di ring, dia juga memilih jalan lain di luar sana, setelah lama menjadi petinju profesional dia menandatangani kontrak dengan DMG Promotions promotor yang relatif baru, keputusan ini bukan soal uang atau popularitas sebab Adams tahu promotor besar sudah lama punya kesempatan merekrut nya tapi dia ingin perhatian juga keselarasan visi dan rasa memiliki.
Dia ingin bekerja dengan tim yang percaya pada nya bukan hanya mengisi kartu pertandingan, dalam urusan pelatih Adams juga melakukan penyesuaian, dia kini berlatih bersama Trevor Sambrano meski pelatih lama nya Dub Huntley masih tetap berada di sudut ring saat laga Adams tidak memutus masa lalu tapi dia juga tidak terjebak di dalam nya.
Manajemen nya pun kini di pegang oleh Mark Habibi yang mulai terlibat sejak 2023, semua perubahan ini seperti satu paket besar membersihkan ulang fondasi karir.
Di usia yang tidak lagi muda untuk standar kelas menengah ringan Adams merasa ini saat terbaik nya, dia percaya petinju seusia nya punya sesuatu yang sering tidak di miliki generasi baru yaitu tenang saat kacau.
Adams bahkan melihat diri nya sebagai perlawanan kecil terhadap tinju modern yang terlalu berhitung, dia ingin membuktikan bahwa keberanian masih punya tempat.
Semua perubahan ini akan di uji saat Adams menghadapi Caoimhin Agyarko petinju tak terkalahkan asal Belfast dengan rekor 18-0 terlihat garang dia belum pernah bertarung di luar Inggris dan Irlandia, di laga terakhir nya sempat di jatuhkan di ronde ke 12 oleh Ishmael Davis.
“Dia belum tahu rasa nya kalah, banyak hal akan berubah saat dia berada di ring bersama saya kata Adams.”
Pertarungan ini adalah eliminator IBF dan pemenang nya akan berada di jalur langsung menuju sabuk juara dunia, sabuk itu saat ini di pegang oleh Bakhram Murtazaliev yang di jadwalkan bertarung melawan Josh Kelly, Adams paham peluang seperti ini tidak datang dua kali.
Karena itu Brandon Adams tidak lagi ingin menang dengan cara juri tapi ingin menang dengan KO agar tidak ada lagi yang meremehkan nya, di sini adalah pembuktian bahwa perubahan yang dia pilih bukan terlambat tapi tepat waktu.
#Brandonadams #Agyarko #Beritatinju









