Zuffa Boxing yang selama ini masih di pandang sebagai proyek eksperimental kini resmi memasuki wilayah yang tidak lagi bisa di anggap main main.
Penandatanganan Jai Opetaia sang juara dunia kelas penjelajah versi lineal, The Ring dan IBF adalah pernyataan paling keras yang pernah mereka buat sejak berdiri.
Selama beberapa bulan terakhir, Zuffa Boxing bergerak dengan pendekatan yang hati hati. Mereka menggelar event tanpa sabuk, afiliasi badan tinju dan tanpa klaim menguasai lanskap olahraga ini.
Baca juga:
Namun semua nya berubah saat nama Jai Opetaia masuk ke dalam kontrak.
Dana White tidak merekrut petinju yang sedang menua. dia tidak mengambil mantan juara untuk nostalgia tapi memilih petinju aktif yang berada di puncak divisi. zuffa tidak lagi mengetes pasar tapi mereka menantang nya.
keputusan opetaia ini jelas terlihat dari kejenuhan bukan karena kenyamanan.
Kelas penjelajah telah lama menjadi divisi yang aneh, penuh talenta namun miskin momentum. Opetaia menguasai nya bukan karena keberuntungan melainkan karena ketekunan brutal.
Sejak 2022 dia mengalahkan Mairis Briedis mengklaim status lineal dan The Ring lalu kembali merebut sabuk IBF setelah sempat di copot karena pilihan pertarungan non peringkat. tak lama setelah semua itu dia berdiri sendirian.
Para juara lain tidak kunjung datang. Jadwal terus bergeser. Unifikasi hanya menjadi wacana.
sepanjang 2025 Opetaia melampiaskan kekesalan nya dengan cara paling kejam menghancurkan lawan lawan yang belum terkalahkan.
David Nyika hanya bertahan empat ronde. Claudio Squeo runtuh dan huseyin Cinkara di singkirkan dengan KO keras.
“Jika mereka tidak datang, aku akan terus menghancurkan siapa pun yang ada…kata opetaia.
Di sinilah konflik mulai terasa, zuffa Boxing secara terbuka menolak kerja sama dengan badan sanctioning. Tidak ada IBF, WBC, WBA, atau WBO dalam rencana jangka panjang mereka. Ini adalah prinsip yang konsisten dengan DNA UFC kontrol penuh atas produk.
Namun Opetaia adalah kebalikan nya. dia adalah petinju yang di besarkan oleh sistem gelar. jelas di sini dia mencari unifikasi dan sejarah.
Yang jadi pertanyaan nya apakah Zuffa membutuhkan Opetaia..?? itu sudah terjawab.
Tiga event pertama Zuffa Boxing sudah tersusun. Callum Walsh, Carlos Ocampo, Ajagba dan Charles Martin namun Tidak ada rival selevel Opetaia.
Sementara itu, para juara lain di kelas penjelajah bergerak di jalur berbeda. Gilberto Ramirez mengejar duel besar. Noel Mikaeljan menghilang dalam ketidakpastian.
Zuffa telah memberinya panggung namun panggung tanpa lawan sejati hanya akan menjadi etalase kosong.
Dengan satu tanda tangan, Zuffa Boxing kini punya juara dunia aktif. Mereka punya kekuatan dan alasan untuk di perhitungkan.
Namun bersamaan dengan itu, mereka juga memikul tanggung jawab besar. memberi makna pada karir petinju yang sudah terlalu lama menunggu pertarungan besar.
Jika Zuffa gagal, Opetaia hanya akan menjadi juara hebat yang terjebak di sistem baru.
Jika berhasil, mereka tidak hanya mengubah namun mengguncang struktur tinju modern.
Inilah taruhan sesungguh nya. Bukan soal debut atau kontrak tapi bisakah Zuffa Boxing memberi Jai Opetaia sejarah bukan hanya panggung??
Bagi pecinta tinju wajib kita tunggu kabar terbaru nya.
#Jaiopetaia #Zuffaboxing #Danawhyte










Pingback: Hasil Tinju Di Jerman 18 Januari 2026
Pingback: Nelson Asofa Solomona KO Cepat, Sejauh Mana Asli nya?