Membahas tentang petinju Meksiko kebanyakan orang pasti menyebut nama2 besar seperti salvador sanchez, julio cesar chavez dll.
Tapi nama Clemente Sanchez tidak termasuk bahkan jarang di sebut, dia bukan legenda yang di poles rapi hidup nya berantakan, jalan nya tidak lurus, dan akhir nya tragis.
Karena itulah kisah Clemente Sanchez jauh lebih menarik, ini bukan cerita pahlawan tanpa noda, seorang petinju yang sempat berdiri di puncak dunia lalu jatuh pelan2 karena hal yang kelihatan nya sepele.
Baca juga: anthony joshua di kritik tyson fury atas pernyataan nya
Yang lebih tragis hidup nya berakhir bukan di ring atau karena pukulan tapi di jalan raya tewas di tembak tepat di Hari Natal.
Ini salah satu kisah paling ngerrii dalam sejarah tinju Meksiko.
Clemente Xicotencatl Sanchez lahir pada 9 Juli 1947 di Monterrey, saat itu tinju bukan hanya olahraga tapi adalah alat bertahan hidup, jalan keluar paling nyata dari kemiskinan.
Baca juga: tim tszyu menang angka atas velazquez di kandang sendiri
Clemente mulai bertinju sejak usia sangat muda bahkan sudah menjadi petinju profesional ketika usia nya baru 16 tahun dan sudah naik ring memukul dan di pukul demi uang.
Pandangan penulis ini membentuk mental nya sejak awal, hidup keras dan cara menyelesaikan masalah pun dengan kepala panas, tidak banyak ruang untuk refleksi atau kontrol emosi.
Di atas ring Clemente bukan petinju yang teknis atau penuh gaya, dia bukan orang yang membuat penonton berdecak kagum karena footwork cantik, model seperti ini sangat khas petinju Meksiko era lama.
Bertarung dengan hati bukan dengan kalkulasi rumit, dari statistik saja kelihatan dari 59 pertarungan profesional Clemente menang 45 kali, dengan 29 kemenangan KO.
Puncak hidup nya datang pada 19 Mei 1972, malam itu Clemente bertarung di Tokyo melawan juara dunia kelas bulu WBC Kuniaki Shibata.
Bertarung di Jepang melawan juara lokal jelas bukan posisi yang menguntungkan, hampir semua orang menjagokan Shibata, Clemente hanya di anggap penantang dari Meksiko yang datang jauh2 tanpa status besar.
Clemente tampil tanpa rasa takut dia tidak memberi Shibata ruang membalas serangan, hanya dalam tiga ronde Shibata tumbang KO sabuk juara dunia berpindah tangan.
Di momen itu Clemente merasa dunia ada di genggaman nya, dari anak jalanan Monterrey status berubah, uang datang dan nama mulai di kenal.
Masalah nya banyak petinju tidak siap dengan perubahan itu, merebut gelar juara dunia memang sulit tapi mempertahankan nya sering kali jauh lebih berat terutama secara mental, kesalahan terbesar Clemente bukan soal kemampuan bertinju atau nyali tapi ada pada disiplin.
Saat di jadwalkan mempertahankan gelar melawan Jose Legra pada 16 desember 1972, Clemente gagal memenuhi batas berat badan, kedengaran nya sepele bagi orang awam tapi di level juara dunia ini kesalahan besar.
Akibat nya fatal Gelar WBC di cabut bahkan sebelum pertarungan di mulai.
Ini awal kehancuran karir Clemente, banyak petinju hebat hancur bukan karena kalah pukulan tapi merasa aturan kecil tidak lagi berlaku untuk mereka ada rasa kebal aturan setelah jadi juara.
Pertarungan tetap berlangsung dan Clemente kalah TKO di ronde ke-10, setelah itu tidak ada lagi status juara.
Dia masih bertarung setelah nya sebanyak 8x, tapi lawa2n nya tidak lagi takut, di luar ring hidup nya juga mulai berantakan, temperamen nya keras emosi nya gampang memuncak.
Mungkin ini dampak dari hidup yang sejak kecil terbiasa menyelesaikan segala nya dengan kekerasan lalu tiba2 kehilangan panggung utama tempat dia menyalurkan itu.
Agustus tahun 1975 Clemente memutuskan pensiun usia nya masih muda tapi tubuh dan mental nya sudah lelah, dia mencoba hidup normal di Monterrey menjalankan bisnis kecil menjadi warga biasa tapi hidup tanpa ring ternyata tidak mudah bagi mantan juara dunia.
Dari status juara ke identitas menjadi orang biasa, ini masa paling berbahaya bagi banyak mantan petinju, lalu datanglah Hari Natal 1978.
Tanggal 25 Desember hari yang seharus nya damai dengan keluarga dan perayaan, tapi bagi Clemente Sanchez hari itu menjadi akhir hidup nya, insiden bermula dari cekcok lalu lintas, hampir terjadi kecelakaan, emosi naik, adu mulut terjadi. Clemente mengejar mobil lawan.
Hal2 ringan seperti ini yang sering berakhir fatal ketika emosi tidak terkontrol, beberapa saat kemudian terdengar tembakan Clemente Sanchez tewas di tempat di usia 31 tahun.
Kalo saya bilang ini kejadian paling kejam dalam hidup nya, seorang mantan juara dunia yang selamat dari puluhan ronde keras malah mati karena emosi sesaat di jalan raya, semua itu terjadi di Hari Natal.
Kematian Clemente tidak mengguncang dunia tinju internasional, tidak ada upacara besar tapi di Monterrey nama nya tetap di kenang sebagai anak daerah yang pernah menaklukkan dunia sebagai bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang keras.
Banyak orang menyebut Clemente Sanchez sebagai contoh bakat besar yang tidak di barengi kedewasaan, penilaian itu tidak sepenuh nya salah namun juga tidak sepenuh nya adil.
Dia tumbuh di lingkungan yang tidak mengajarkan kontrol emosi, belajar bertahan dengan kekerasan, ketika dunia berhenti memberi nya ring untuk melampiaskan itu dia tidak siap.
Tinju memberi nya jalan keluar dari kemiskinan, sabuk juara dunia dan identitas tapi tinju tidak bisa menyelamatkan nya dari diri nya sendiri, Clemente pergi terlalu cepat dia meninggal di hari yang seharus nya penuh damai.
Ada satu fakta yang sering luput di bahas hampir seluruh karir profesional nya berlangsung di Meksiko.
Dia bukan petinju pengembara yang keliling dunia, ring yang di kenal membesarkan nama nya mayoritas ada di tanah kelahiran nya sendiri dia hanya dua kali bertarung di luar Meksiko.
Pertarungan luar negeri pertama Clemente Sanchez terjadi pada 19 Mei 1972 saat dia terbang jauh ke Tokyo Jepang mengambil sabuk Kuniaki Shibata.
Pertarungan kedua Clemente Sanchez baru terjadi bertahun2 kemudian tepat nya pada 8 Juli 1978 melawan Victor Ortiz di San Juan Puerto Riko.
Saat itu Clemente bukan lagi juara dunia, usia nya masih muda tapi karir nya sudah kelelahan, bertarung di Puerto Riko seperti upaya terakhir untuk mencari arah, mungkin untuk membuktikan bahwa diri nya masih mampu atau juga hanya mencari uang.
Menurut pendapat saya Clemente adalah contoh petinju yang besar di lingkungan yang membesarkan nya tapi juga terperangkap di situ, dia tahu cara bertarung tapi tidak pernah belajar cara berhenti bertarung mungkin di situlah tragedi nya.
Clemente Sanchez bukan korban pukulan terakhir di ring tapi korban dari hidup yang terlalu lama keras dan tidak di ajari cara menurunkan tensi.
Baca juga kisah pertarungan terakhir legenda tua di usia 51 tahun
#Clementesanchez #kisahtragis #petinjumexico









