Nama besar lahir terkadang bukan dari hasil promosi besar besaran tapi dari keuletan dan kesabaran seorang anak muda yang tidak pernah berhenti memukul samsak di sudut kecil gym.
Itulah yang menggambarkan sosok Vergil Ortiz Jr petinju muda asal Texas yang kini di kenal sebagai salah satu pemukul paling menakutkan di kelas super welter.
Tanggal 8 November 2025 nanti Ortiz akan naik ring lagi membawa sabuk WBC Super Welterweight yang baru dia dapatkan tahun lalu.
Baca juga: Prediksi duel seru antara David benavidez vs Anthony yarde di arab saudi
Lawan nya kali ini bukan petinju ecek ecek. Erickson Lubin seorang petinju berbakat dengan tangan kiri beracun yang sudah lama mencari kesempatan kedua untuk menjadi juara dunia.
Jika menyinggung tentang Ortiz, kita sedang bicara tentang seseorang yang tumbuh dengan semangat pantang menyerah.
Dia bukan tipe yang banyak bicara di depan kamera Justru yang menarik dari Ortiz adalah bagaimana dia membiarkan tangan nya yang berbicara di atas ring. Latar belakang nya sanak dari keluarga Meksiko Amerika yang hidup nya berputar di antara kerja, keluarga dan tinju.
Dari kecil Ortiz sudah sering ikut sang ayah ke gym memukul samsak besar yang bahkan nyaris setinggi diri nya dari situlah tekat nya tumbuh.
Baca juga:
Salah satu duel paling mantaaap dalam karir Ortiz datang pada 10 Agustus 2024 ketika dia bertemu petinju Ukraina tangguh Serhii Bohachuk, Waktu itu banyak yang mengira duel itu akan jadi akhir dari kesempurnaan rekor Ortiz.
Bohachuk datang dengan gaya liar di cap sebagai petarung yang tak pernah mundur. Namun Ortiz membuktikan kalau dia bukan hanya pemukul keras tapi punya hati seorang juara sejati.
Di ronde pertama Ortiz sempat di jatuhkan. Penonton sempat terdiam, beberapa bahkan mengira itu awal dari kejatuhan sang bintang muda.
Namun Ortiz bangkit dengan ekspresi tenang Tak ada rasa panik atau ada raut takut.
Ronde demi ronde berjalan penuh tekanan Bohachuk terus maju menghantam tubuh dan kepala mencoba memecah pertahanan Ortiz. tapi perlahan Ortiz menyesuaikan dengan gerak gerik bohachuk, dia mulai membalas dan semakin sering memukul tepat sasaran.
Baca juga:
Di pertengahan laga ortiz sempat di jatuhkan lagi, tapi entah dari mana pukulan itu datang. Ortiz bangkit menatap lawan nya dengan tatapan dingin dan dari situlah pertarungan berubah arah.
Di ronde ronde akhir Ortiz sudah seperti mesin yang tak bisa di hentikan. Setiap kali Bohachuk mendekat serangan balik Ortiz datang beruntun, cepat dan akurat.
Penonton di arena berdiri, berteriak, dan tahu mereka sedang menyaksikan sesuatu yang istimewa. Setelah 12 ronde penuh juri memberikan kemenangan mayoritas untuk Ortiz.
Menurut saya pribadi, itulah yang membedakan petinju hebat dari petarung biasa. Ortiz tidak menang karena teknik sempurna atau strategi rumit tapi karena dia punya hati baja. kemampuan bangkit setelah jatuh sering kali lebih penting dari kemampuan memukul keras.
Setelah kemenangan itu banyak analis mulai mengubah pandangan mereka tentang Ortiz.
Dulu dia hanya di anggap petarung muda dengan tenaga besar. Sekarang dia sudah lengkap, punya power, stamina dan ketenangan seorang veteran.
Sabuk WBC Interim Super Welterweight yang dia bawa pulang malam itu seolah menjadi pengakuan bahwa perjuangan nya selama bertahun tahun akhir nya terbayar.
Kalau melihat gaya bertarung nya, Ortiz ini seperti kombinasi antara determinasi petarung lama dan efisiensi petinju modern. Dia suka menekan lawan sejak awal, mengincar tubuh lebih dulu sebelum naik ke kepala, Pukulan ke badan itu seperti tanda tangan khas nya.
Banyak lawan yang mulai kehilangan tenaga di ronde tengah karena gaya itu, tapi yang menarik Ortiz jarang tampil sembrono.
Dia selalu menjaga tempo dan fokus. Mungkin karena dia sudah belajar banyak dari pengalaman melawan Bohachuk bahwa terlalu grusah grusuh bisa berbahaya.
Tapi yang paling saya kagumi dia tetap sederhana., dalam beberapa wawancara Ortiz sering bilang kalau motivasi terbesar nya bukan uang atau popularitas tapi rasa ingin tahu seberapa jauh dia bisa melangkah kalau terus berusaha.
kini langkah berikut nya membawa nya ke pertarungan melawan Erickson Lubin lawan yang bisa di bilang beresiko yang pernah dia hadapi sejauh ini.
Kalau Vergil Ortiz di kenal karena karakter nya yang keras dan fokus maka Erickson Lubin adalah gambaran dari perjuangan panjang seorang petinju yang pernah jatuh tapi menolak untuk berhenti.
Tidak banyak petinju yang punya perjalanan sekeras dia, Lubin bukan nama baru di ring dia sudah mencicipi asam manis dunia tinju sejak remaja.
Banyak yang menyebutnya sebagai The Chosen One waktu itu julukan yang terdengar lebay tapi memang pantas di sematkan pada nya saat memulai karir profesional.
Lubin adalah southpaw alami punya tangan kiri yang keras dan tajam seperti cambuk.
Di awal karir nya dia tampil seperti calon juara yang tidak bisa di hentikan. Setiap kali naik ring membuat lawan tanpak kesulitan menghadapi gaya menyerang nya.
Tahun tahun awal itu berjalan mulus sampai akhir nya datang malam buruk menipa nya, tanggal 14 Oktober 2017 Lubin mendapat kesempatan besar menantang Jermell Charlo untuk sabuk WBC Super Welterweight.
Saat itu usia nya baru 22 tahun Media Amerika ramai membicarakan nya. Banyak yang mengira Lubin akan jadi bintang baru menggantikan nama besar seperti Canelo atau Lara tapi takdir berkata lain.
Baru saja ronde pertama di mulai Charlo menunggu dan ketika Lubin sedikit menurunkan pertahanan nya sebuah uppercut kanan menghantam dagu dengan telak.
Dalam sekejap tubuh Lubin kaku dan jatuh ke kanvas pertarungan selesai dalam waktu kurang dari tiga menit.
Menurut saya ini titik yang paling menentukan dalam karir Lubin, kalah itu wajar tapi kalah secepat itu di laga terbesar dalam hidup itu bisa menghancurkan siapa pun apalagi bagi petarung muda.
Setelah kekalahan itu, Lubin menata ulang cara bertarung nya memperbaiki pertahanan nya. dia juga mengganti pelatih mencari sudut pandang baru agar bisa menutupi kelemahan yang dulu membuat nya rentan terhadap serangan mendadak.
Selama beberapa tahun berikut nya Lubin mengumpulkan kemenangan demi kemenangan pelan tapi pasti memperbaiki reputasi nya.
Lalu datang lagi kesempatan besar berikut nya pada 9 April 2022 melawan Sebastian Fundora si raksasa bertangan panjang dengan gaya bertarung unik.
Pertarungan itu berlangsung brutal dari awal. Fundora menggunakan tinggi badan nya dengan lihai agar tidak tersentuh sementara Lubin mencoba masuk ke dalam menekan dengan kombinasi pukulan kiri kanan ke tubuh.
Di ronde kedua Lubin sempat jatuh tapi seperti Ortiz di laga laga nya Lubin juga punya daya juang tinggi.
Dia bangkit dan bertarung lagi bahkan membalikkan keadaan dengan menjatuhkan Fundora di ronde ke 7.
Penonton bersorak banyak yang berharap comeback besar sedang terjadi malam itu namun kenyataan kembali kejam.
Di ronde ke 9 wajah Lubin bengkak parah dan pelatih nya memutuskan menghentikan laga untuk keselamatan nya dan duel pun di menangkan fundora lewat RTD.
Saya masih ingat banyak pengamat memuji keberanian nya malam itu, meskipun kalah Lubin menunjukkan mental luar biasa, di usia yang lebih matang Lubin kembali mendapat kesempatan menebus semua nya.
Tapi kali ini lawan nya adalah Ortiz petarung bukan tipe yang akan memberi nya ruang berpikir, dia akan menekan sejak bel pertama dan itu bisa jadi masalah besar kalau Lubin tidak disiplin.
Kalau kita lihat secara gaya duel ini sangat menarik. Ortiz adalah tipikal petarung yang selalu maju, mengandalkan tekanan konstan dan serangan ke tubuh.
Sedangkan Lubin lebih ke arah teknikal counter-puncher dia menunggu momen, membaca gerakan lawan lalu melancarkan pukulan kiri lurus yang bisa mengubah arah pertarungan.
Teori sederhana gaya southpaw Lubin bisa jadi kunci. Ortiz belum terlalu sering menghadapi petarung kidal di level atas.
Biasa nya southpaw memanfaatkan kelemahan dari pukulan kanan lawan yang terlalu terbuka. Tapi agresivitas Ortiz bisa membuat Lubin kesulitan kalau dia tidak bisa menjaga posisi kaki dan serangan nya, Ortiz bisa dengan mudah menekan sampai sudut dan memukul tanpa henti.
Saya pribadi merasa, pertarungan ini akan jadi duel mental lebih dari duel teknik. Ortiz dia baru saja memenangkan laga besar melawan israil madrimov.
Sedangkan Lubin meskipun sudah memperbaiki banyak hal masih membawa beban masa lalu dua kekalahan KO di laga besar.
Tapi pengalaman Lubin juga bisa jadi senjata nya, dia tahu bagaimana rasa nya berada di titik terendah dan itu bisa membuat nya lebih berani, sering kali petinju yang sudah pernah kalah malah jadi lebih berbahaya karena mereka tahu apa yang harus di hindari.
Lubin bukan anak muda polos lagi seperti saat melawan Charlo dulu, sekarang dia lebih tenang dalam menghadapi tekanan.
Kalau duel ini berjalan panjang, saya rasa stamina dan kesabaran akan jadi faktor besar. Ortiz punya tenaga besar tapi gaya menyerang nya yang terus menekan juga menguras banyak energi.
Kalau Lubin bisa bertahan sampai ronde ronde akhir sambil memanfaatkan jangkauan dan timing nya bukan tidak mungkin dia bisa mencuri ronde di setiap pukulan, tapi kalau di tengah laga dia mulai kewalahan dan membiarkan Ortiz memukul bebas ke tubuh hasil nya bisa menelan obat pahit lagi.
#VergilOrtizJr #EricksonLubin #WBC









