Kelas menengah selalu melahirkan petinju paling berbahaya tidak hanya karena kekuatan pukulan tetapi karena para raja nya selalu datang dari era yang paling keras, di antara nya begitu banyak juara besar yang pernah muncul ada 4 nama yang paling sering di sebut sebagai penguasa sejati di divisi ini.
1. Carlos Monzon.
Pada era 1970 an di tengah persaingan keras itu muncul satu nama yang perlahan berubah menjadi lambang dominasi mutlak nama nya adalah Carlos Monzon, pria asal argentina yang berhasil menguasai kelas menengah selama bertahun tahun tanpa pernah kehilangan gelar nya di atas ring.
Dia merebut gelar dunia pada tahun 1970 mempertahankan nya berkali kali melawan petinju elit dunia lalu pensiun pada tahun 1977 dengan status masih sebagai juara dunia.
Masa awal karir sebenar nya tidak langsung heboh, dia sempat mengalami beberapa kekalahan dan hasil imbang saat masih membangun nama di level domestik, dari masa sulit itulah karakter Monzon terbentuk, dia berkembang menjadi petinju yang sangat disiplin dan hampir tidak kehilangan kontrol emosi di atas ring.
Dari gaya bertarung Monzon bukanlah petinju urakan seperti banyak bintang amerika pada era itu, dia tidak terlalu banyak bergerak sia sia, banyak bicara atau suka mencari perhatian di depan kamera, tetapi kesederhanaan itulah yang membuat nya mengerikan.
Monzon memiliki jab panjang yang sangat akurat, stamina tiada tanding dan kemampuan membaca arah serangan lawan dengan sangat baik.
Momen paling penting dalam karir nya datang pada tanggal 7 November 1970 saat dia pergi ke roma untuk menantang sang juara Nino Benvenuti, banyak pengamat percaya Monzon hanyalah penantang keras dari amerika selatan yang akhir nya akan kalah ketika menghadapi kelas dunia yang sesungguh nya.
Namun yang terjadi membuat penonton tercengang, sejak ronde awal Monzon terus menusuk dengan jab panjang dan perlahan menguras tenaga sang juara pertarungan, dia yang biasa nya elegan mulai terlihat kebingungan menghadapi serangan zig zag dari Monzon.
Akhir nya pada ronde ke 12 Carlos Monzon menjatuhkan Benvenuti lewat hook kanan membuat nya sujud tak berdaya, malam itu kelas menengah memiliki raja baru.
Setelah menjadi juara dunia WBA dan WBC Monzon berubah menjadi penguasa seperti pendekar pilih tanding di kelas ini, dia mendominasi hampir semua penantang nya.
Di era itu pertandingan berlangsung hingga 15, stamina menjadi faktor yang sangat penting di sinilah Monzon sangat unggul, banyak lawan nya mulai melemah di ronde akhir sementara Monzon tetap terlihat stabil seperti lagi sparring.
Walaupun begitu perjalanan karir nya sempat tercoreng, tahun 1974 dia kehilangan sabuk WBC nya karena di cabut akibat persoalan mandatori dan politik organisasi.
Kemudian tahun 1976 dia menghadapi Rodrigo Valdez pemegang sabuk WBC yang dulu jadi milik nya, sang juara ini adalah petunju hebat berasal dari Kolombia dan di anggap salah satu lawan paling berbahaya dalam era Monzon, di pertarungan ini berlangsung ketat dan keras Monzon berhasil merebut kembali gelar nya lewat angka mutlak.
Lanjut Pada tahun 1977 Monzon kembali menghadapi Rodrigo Valdez dalam rematch yang menjadi pertarungan terakhir nya, saat itu usia nya sudah tidak muda lagi tetapi masih mampu menunjukkan kualitas seorang juara besar, Monzon kembali menang tak lama dia membuat keputusan besar pensiun sebagai juara dunia.
Tidak ada kekalahan tragis atau momen di hancurkan oleh generasi baru, dia meninggalkan nya sebagai raja kelas menengah dan itulah yang membuat warisan nya sangat spesial di banding banyak legenda sebelum nya.
Banyak petunju hebat bertarung terlalu lama hingga akhir nya kalah mengenaskan di usia tua namun Carlos Monzon pergi di saat diri nya masih berada di puncak.
Secara statistik pencapaian nya juara dunia kelas menengah selama 7 tahun 14 kali mempertahankan gelar, rekor profesional sebanyak 87 kali kemenangan 3 kali kalah dan 9 kali imbang, para sejarawan tinju menempatkan diri nya dalam daftar middleweight terbesar sepanjang masa.
2. Marvin Hagler.
Masuk di era 1980 an divisi ini berubah menjadi medan perang paling brutal, tidak ada juara manja atau pertarungan mudah, di tengah era penuh monster itu berdiri satu nama yang perlahan menjadi lambang kekerasan bernama Marvin Hegler.
Banyak legenda lain mendapatkan promosi besar sejak awal karir tapi Marvelous tidak, pernah merasa di curangi dan sulit mendapat perebutan gelar bahkan harus bertarung lama sebelum di akui dunia, namun dari situlah lahir salah satu monster paling brutal dalam sejarah kelas menengah.
Hagler lahir di Newark lalu pindah ke Brockton kota yang juga melahirkan Rocky Marciano, dia memulai profesional nya tahun 1973, dari skill Hagler sebenar nya sudah elite sejak awal tetapi ada satu masalah besar banyak petinju top tidak mau melawan nya karena terlalu berbahaya dan tidak cukup terkenal untuk menghasilkan uang besar.
Akibat nya dia sering bertarung di Venue kecil tanpa sorotan media besar, 2 kali kekalahan nya Hagler merasa keputusan juri tidak adil kepada nya.
Kesempatan besar akhir nya datang tahun 1979 saat Hagler menantang juara dunia bernama Vito Antoufermo yang memegang WBA, WBC, dan The Ring, Kala itu banyak pengamat merasa Hagler menang jelas dalam duel itu tapi hasil akhir hanya draw.
Keputusan tersebut sangat kontroversial dan membuat Hagler semakin marah terhadap sistem tinju, setahun kemudian Hagler akhir nya mendapat kesempatan ke 2 melawan Alan Minter dengan perebutan sabuk yang sama.
Pertarungan itu berlangsung di wembley arena inggris, susana sangat panas karena Minter sempat membuat komentar kontroversial sebelum duel terjadi, tetapi di atas ring Marvelous bertarung dengan brutal, dia menyerang tanpa henti menghancurkan pertahanan Minter lalu menang TKO di ronde ke 3.
Kerusuhan pecah setelah duel penonton marah melempar botol ke dalam ring tak terima melihat sang juara Inggris kalah, di duel ke 50 kali nya Hagler resmi menjadi juara dunia, sejak saat itu Hagler sangat di hormati dan sukses mempertahankan gelar nya sebanyak 12 kali.
Tahun 1983 dia menghadapi legenda 4 divisi Roberto Duran, awal nya orang mengira si tangan batu ini terlalu kecil untuk kelas menengah namun dia memberi salah satu duel tersulit bagi Marvin Hagler.
Pertarungan itu berlangsung dengan teknis selama 15 ronde, sang juara akhir nya menang angka mutlak namun duel itu membuktikan daya tahan Duran luar biasa dan Hagler mampu bertarung cerdas tidak hanya brutal.
Bagian paling di ingat dalam kenangan Hagler terjadi pada tanggal 15 April 1985 saat menghadapi Thomas Hearns.
Duel ini kemudian tercatat salah satu pertarungan terbaik sepanjang masa, tidak ada failing out atau ronde santai, sejak bel pertama kedua nya langsung saling menyerang dengan brutal, pukulan keras masuk tanpa henti, darah mulai keluar namun tetap menjadi perang total.
Ronde pertama saja sering di sebut sebagai ronde terbaik dalam sejarah, meski kepala nya terluka Hagler terus maju menerang, akhir nya di ronde ke 3 dia menjatuhkan Hearns menang KO dan mengukukkan diri nya sebagai monster era 80-an.
Sebelum menghadapi Leonard Hagler harus melawan monster KO asal Uganda bernama John Mugabi, para analisis waktu itu percaya Mugabi akan menjadi penerus baru tetapi Marvin Hagler kembali membuktikan diri nya, setelah duel brutal penuh jual beli pukulan Marvelous menang KO di ronde ke 11, namun banyak orang merasa di duel itu mulai menunjukkan penurunan fisik dari Hagler.
Tanggal 6 April 1987 menjadi malam paling kontroversial dalam karir nya, Sugar Ray Leonard sebenar nya sudah lama vakum dan banyak orang mengira Hagler akan terlalu kuat, tetapi sang penantang sangat cerdas bergerak cepat mencuri ronde dan sukses mempengaruhi judi dengan kombinasi singkat, setelah 12 ronde penuh Leonard menang split decision.
Hasil ini sampai sekarang masih di perdebatkan, banyak fans tinju merasa Hagler seharus nya menang atau minimal draw, yang membuat ending ini semakin emosional Marvin Hegler langsung pensiun setelah kekalahan itu.
Biarpun dia sudah menghadap sang pencipta tahun 2021 masih sangat di hormati karena ketahanan mental dan keberanian menghadapi siapa saja, dia tidak memilih lawan mudah sebalik nya mencari pertarungan paling berbahaya, itulah alasan banyak penggemar lama masih menyebut Marvin Hagler sebagai salah satu middleweight paling menakutkan sepanjang sejarah.
3. Bernard Hopkins.
Pada pertengahan 1990 an era kembali berubah, di sini tidak lagi hanya perang brutal dan adu pukulan tanpa henti, muncul seorang petinju yang menang dengan cara jauh lebih cerdas nama nya Bernard Hopkins.
Hampir semua tidak menyukai gaya nya karena menganggap terlalu defensif dan membosankan, tetapi di situlah letak kehebatan nya, Hopkins mampu membuat petinju hebat terlihat biasa saja, sebab itulah dia di juluki The Executioner alias Sang Algojo, bagi penggemar tinju lama Hopkins di cap salah satu petinju paling licik dan sulit di kalahkan dalam sejarah Middleweight.
Sebelum menjadi juara dunia hidup Hopkins sangat jauh dari kemewahan sudah terlibat kriminalitas sejak muda, dia sering berkelahi terlibat kejahatan jalanan hingga akhir nya di penjara.
Di sanalah hidup nya berubah, Hopkins mulai serius memikirkan tinju dan memutuska terjun ke pro setelah bebas, kisah ini kemudian menjadi catatan legenda dari Narapidana menjadi juara dunia.
The Alien julukan lain nya memulai karir profesional tahun 1988, mungkin tidak banyak yang tahu dia langsung kalah, petinju lain mungkin akan berhenti setelah start buruk seperti itu namun Hopkins berkembang perlahan menjadi petinju yang sangat disiplin.
Berbeda dengan Hagler yang liar dan brutal Hopkins lebih suka memperlambat serangan dan membuat lawan nya kebingungan, gaya seperti ini memang tidak selalu enak di tonton tetapi sangat efektif untuk menang.
Malam bersejarah datang tahun 1995 saat dia menghadapi Segundo Mercado, sebelumnya mereka sempat draw dalam pertarungan pertama namun di rematch Hopkins menghajar nya di pojok ring menang lewat TKO merebut gelar dunia versi IBF, dari sinilah era panjan nya di mulai.
Yang bikin istimewa Hopkins mendominasi lewat IQ tinju, dia ahli mengontrol tempo membuat lawan nya terlihat bingung karena selalu berhasil mengacaukan juga memancing pelanggaran lalu mengambil alih pertarungan sedikit demi sedikit.
Hasil nya dia sukses mempertahankan gelar sebanyak 20 kali rekor itu melewati banyak legenda sebelum nya, mungkin bagi pecinta muda menganggap gaya nya terlalu membosankan namun bagi petinju lain dan para analisis dia sangat menghormati karena Hopkins adalah master, sering menggunakan clinch dengan cerdas, menekan kepala lawan, mematahkan posisi kaki, menyerang saat lawan kehilangan keseimbangan bahkan memancing emosi lawan.
Dia tahu bagaimana memenangkan ronde tanpa harus selalu main brutal, terkadang lawan nya terlihat lebih aktif tapi di mata duri Hopkins tetap menang karena kontrol pertarungan ada di tangan nya, inilah yang membuat nya sangat susah di kalahkan.
Kemenangan paling membekas datang saat menghadapi Felix Trinidad tahun 2001, saat itu petinju purtoriko tersebut sudah menjadi superstar besar mempertahankan gelar nya 16x tanpa kalah di kelas welter yang dia lepas setelah naik kelas, dia juga mesin KO yang menakutkan tetapi di hadapan Hopkins dia tak berkutik sampai akhir nya di pukul jatuh di ronde ke-12.
Salah satu pencapaian terbesar nya adalah memecahkan rekor pertahanan gelar milik Carlos Monzon, dia sebelumnya di anggap standar emas selama puluhan tahun namun Hopkins berhasil mempertahankan gelar selama hampir satu dekade.
Tahun 2005 Bernard Hopkins akhir nya menghadapi generasi baru bernama Jerman Taylor yang lebih muda, cepat dan atletis, setelah 12 ronde dia kalah angka split decision.
Kekalahan itu mengakhiri pemerintahan nya yang sangat panjang tapi Hopkins belum berakhir, dia tetap bertarung sampai usia sangat tua dan masih mampu menjadi juara dunia di divisi berat ringan bahkan menjadi juara dunia tertua dalam sejarah melewati George Foreman yang mengguncang kelas berat saat menghancurkan Michael Moorer di usia 45 tahun.
Inilah alasan banyak para pengamat menempatkan Bernard Hopkins sebagai salah satu middleweight terpintar sepanjang sejarah tinju.
4. Gennady Golovkin.
Saat dunia modern mulai di penuhi politik promotor, pemilihan lawan aman dan pertarungan penuh perhitungan bisnis, muncul satu petinju yang membawa kembali aura monster jadul ke divisi kelas menengah nama nya Genndy Golovkin.
Dia datang dari Kazakhstan tanpa popularitas besar dan juga promosi mewah namun dengan perlahan satu persatu lawan nya mulai tumbang, banyak yang kalah KO dan terlihat takut bahkan sebelum naik ring.
Di sini banyak petunju elit memilih lawan dengan sangat hati hati Golovkin menjadi sosok yang di takuti hampir di seluruh divisi, promotor menghindari nya juga juara tidak mau menghadapi.
Golovkin tumbuh dalam sistem tinju yang sangat keras, sebelum menjadi bintang profesional dia sudah memiliki reputasi besar di dunia amatir memenangkan banyak turnamen internasional, medali emas kejuaraan dunia dan medali perak tahun 2004.
Di sana karir nya menanjak karena teknik yang halus dan pukulan nya sudah berat bahkan muda, pelatih nya kala itu menganggap Golovkin sebagai produk tanpa cacat dari sekolah tinju Soviet.
GGG memulai profesional nya tahun 2006, berbeda dengan superstar amerika atau mexico nama nya tidak langsung terkenal, dia bertarung lama di Eropa, dari gaya bertarung Golovkin tidak terlalu cepat juga jarang melakukan gerakan berlebihan, kelebihan terbesar nya adalah jap yang sangat keras dan dia tahu cara memaksa lawan bergerak ke arah yang salah lalu menghajar nya sampai ambruk.
Yang paling menakutkan GGG hampir tidak terlihat terluka parah, dia mulai menguasai divisi ini pada awal tahun 2010 an mengumpulkan sabuk WBA, IBF, WBC, IBO lalu di mulailah era dominasi brutal nya mencetak 20 kali pertahanan gelar yang menyamai rekor Bernard Hopkins.
Sewaktu masih muda beberapa nama besar sengaja menjauh karena Golovkin terlalu berbahaya, para penggemar bosan karena banyak super fight tidak pernah terjadi saat dia berada di puncak performa.
Akhir nya duel terbesar datang saat dia menghadapi superstar Mexico bernama Canelo Alvarez, pertarungan pertama mereka terjadi pada tahun 2017 menjadi salah satu duel terbesar era modern dan hasil nya draw kontroversial, para analisis merasa Golovkin seharus nya menang, kekacauan ini semakin membesar setelah salah satu juri memberi skor sangat aneh untuk Canelo.
Duel kedua pun berlangsung pada tahun 2018, kali ini Canelo berani berdiri di tengah ring, setelah 12 ronde penuh keringat dia dinyatakan menang lewat majority decision.
Hasil itu tetap di perdebatkan tetapi kebanyakan orang menganggap duel kedua menjadi awal perubahan generasi, Golovkin masih hebat namun usia mulai terlihat, 4 tahun kemudian pada 2022 dia mengejar Canelo ke menengah super untuk melakukan trilogi sekaligus menutup rival di antara mereka.
Di usia nya yang ke 38 tahun Golovkin masih mampu mengimbangi serangan namun tak cukup untuk memenangkan poin di kartu juri, dia di nyatakan kalah lewat angka mutlak.
Sampai hari ini sejak kekalahan itu Golovkin tidak lagi naik ring juga tak ada pengumuman resmi nya untuk pensiun, namun kabar nya dia sekarang resmi terpilih sebagai presiden world boxing organisasi yang bertugas menyelamatkan posisi olimpiade tinju.
Inilah para raja kelas menengah yang paling dominan dengan pertahanan gelar terbanyak, jika menuruta pembaca masih ada kekurangan selain ini silahkan berkomentar, dengan senang hati kami akan membalas nya.
#CarlosMonzon #GennadyGolovkin #BernardHopkins #MarvinHagler









