Pertarungan Unifikasi WBA Antara Romero Melawan Haney Membawa Luka Bagi Giyasov

Romero akan melawan haney pada 30 mei 2026

Pertarungan unifikasi kelas welter antara Devin Haney dan Rolly Romero pada 30 Mei 2026 di Barclays Center New York menghadirkan drama panjang yang melibatkan sabuk juara, hak mandatory, klaim resmi WBA dan ketegangan antara ambisi petinju dan aturan organisasi.

Romero sang juara WBA kelas welter akhir nya menandatangani kontrak pertarungan, sementara Haney pemegang sabuk WBO di divisi yang sama sedang dalam tahap pembicaraan serius untuk menyelesaikan kesepakatan.

Ini pertarungan yang sarat kontroversi karena Romero sebelum nya menolak menghadapi WBA mandatory challenger Shakhram Giyasov meski dia telah menyelesaikan dua eliminator dan berhak mendapatkan pertarungan wajib.

Alasan Romero mengaku belum pernah mendengar nama Giyasov dan lebih tertarik bertarung dengan bintang besar seperti Manny Pacquiao, Shakur Stevenson, dan Conor Benn.

Romero dan Haney: Jejak Pertarungan Terakhir.

Rolly Romero memiliki rekam jejak hanya kalah dari dua nama besar, juara tiga divisi Gervonta Davis dan juara sementara WBC 140 lbs Isaac Pitbull” Cruz

Kemenangan terakhir nya atas Ryan Garcia di Times Square pada 2 Mei menjadi momen puncak, Romero menjatuhkan Garcia dan menang melalui keputusan mutlak.

Sementara itu Devin Haney baru saja mengalahkan mantan juara bersatu 140 lbs Jose Ramirez melalui keputusan mutlak.

Haney sendiri memiliki sejarah panjang rivalitas dengan Garcia, pada 2024 dia kalah melalui keputusan setelah di jatuhkan tiga kali namun hasil itu di batalkan menjadi no contest karena Garcia di nyatakan positif Ostarine.

Pertarungan ini menjadikan Haney memiliki motivasi ganda, membuktikan dominasi di kelas welter sekaligus menambah sabuk unifikasi.

Kontroversi Mandatory WBA.

Di balik gemerlap spotlight unifikasi ada drama yang tak kalah panas, shakhram Giyasov petinju yang berhak mendapatkan pertarungan mandatory WBA merasa di anak tirikan.

Manajer nya secara terang terangan menyatakan frustrasi nya:

“Mereka sudah bicara dengan sekitar 10 orang, menerima pemberitahuan mandatory 30 hari pada Oktober, ada pelelangan uang pertarungan, mereka bisa meminta pengecualian tapi itu tidak berarti mereka bisa membuat kami menunggu.”

Giyasov bahkan telah melalui dua eliminator resmi untuk menantang Romero namun WBA belum menegakkan pertarungan wajib nya.

“Kami sudah menunggu jawaban dan tidak ingin bertarung dengan orang lain sementara ini.

Manny, Shakur, Conor Benn dan sekarang Haney berapa banyak orang lagi yang akan mereka sebut sebelum melawan Giyasov? Dia berhak mendapat kesempatan sekarang.

Kami sudah menunggu dua tahun, dia tidak ingin melakukan step-aside agreement tambah Kornilov.

Step-aside agreement sendiri adalah kesepakatan di mana seorang petinju bersedia menunggu atau menunda hak pertarungan wajib nya agar lawan lain bisa bertarung lebih dulu.

Drama ini menunjukkan di lema besar antara mempertahankan hak mandatory petinju lain dan ambisi Romero untuk pertarungan yang lebih menguntungkan secara finansial dan populer.

Mengapa Romero lebih memilih bertarung melawan Haney ketimbang Giyasov?

Alasan utama nya adalah visibilitas dan nilai komersial, Haney bukan hanya juara WBO kelas welter tapi juga petinju tak terkalahkan dengan rekam jejak mengesankan.

Pertarungan unifikasi melawan Haney otomatis akan menarik perhatian media, sponsor dan platform streaming seperti Prime Video.

Romero bahkan menegaskan secara gamblang di akun X:

“Tidak ada lagi lempar tanggung jawab ke pengadilan mana pun saya sudah tandatangan kontrak semua beres dan resmi, Keluarga Haney selalu lemah dan penuh kebohongan saya akan menyelesaikan semua untuk selama nya.”

Dalam bahasa awam Romero menekankan bahwa kontrak nya sudah sah dia siap bertarung dan memberi tekanan psikologis kepada Haney.

Pertarungan ini adalah kesempatan untuk haney menambah sabuk unifikasi di kelas welter.

Jika menang dia tidak hanya mempertahankan sabuk WBO nya tapi juga menguasai divisi dengan dua sabuk juara, ini menunda kemungkinan rematch dengan Ryan Garcia dan memberikan peluang bagi Haney membangun posisi dominan di divisi.

Namun kemenangan Romero atau Haney juga akan menimbulkan pertanyaan besar terkait Giyasov dan hak mandatory WBA.

Bagaimana WBA menegakkan regulasi wajib nya jika juara memilih lawan yang lebih populer dari pada challenger resmi?

Ini menjadi di lema etis dan administratif bagi badan pengatur,yang berpotensi menimbulkan kekacauan bagi pertarungan sabuk wajib di masa depan.

Menurut saya pribadi keputusan Romero memilih Haney sebagai langkah cerdas secara karir dan finansial tapi kontroversial secara aturan.

Dari bisnis pertarungan unifikasi pasti lebih menguntungkan dan memberi exposure yang jauh lebih besar, namun dari sportivitas Shakhram Giyasov sudah menunggu selama dua tahun dan berhak mendapat kesempatan sehingga keputusan ini sangat tidak adil bagi petinju yang sudah memenuhi syarat mandatory.

Jika kita menilik sejarah konflik antara hak mandatory dan pertarungan populer bukan hal baru.

Banyak juara memilih lawan dengan profil lebih tinggi demi nilai komersial meskipun ini sering memunculkan ketegangan dengan badan pengatur.

Romero vs Haney pasti akan menjadi pertarungan yang seru tetapi juga akan terus menimbulkan kontroversi terkait mandatory WBA.

Kita sebagai pecinta tinju akan menunggu bukan hanya siapa yang menang di ring tapi juga bagaimana WBA menangani tekanan aturan dan untuk Giyasov.

#Devinhaney #Rolandoromero #Giyasov

1 komentar untuk “Pertarungan Unifikasi WBA Antara Romero Melawan Haney Membawa Luka Bagi Giyasov”

  1. Pingback: Kematian tragis para petinju legendaris

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top