Pertarungan ulang antara Manny Pacquiao dan Floyd Mayweather Jr adalah duel dua ikon lintas generasi yang kembali di pertemukan oleh sejarah, bisnis dan ego yang belum sepenuh nya selesai.
Bertahun tahun setelah Fight of the Century yang memecah rekor penjualan pada 2015 wacana jilid kedua memantik kembali perdebatan lama apakah hasil nya akan sama atau berbalik arah?
Pertemuan pertama mereka di menangkan Mayweather lewat keputusan mutlak.
Saat itu dia terlalu disiplin dan defensif, Pacquiao agresif tapi kesulitan menembus pertahanan rapat si botak.
Kini waktu telah berjalan, kedua nya menua namun siapa yang lebih baik dalam mengelola usia, ritme dan momentum?
Baca juga:
Mayweather: Efisiensi, IQ Tinju, dan Ritme yang Licin
Floyd Mayweather Jr adalah petinju dengan pertahanan terbaik di era nya, gaya shoulder roll, kontrol dan kemampuan membaca pola lawan membuat nya jarang tersudut.
Dalam laga kedua, satu yang menjadi keuntungan Mayweather adalah minim nya kerusakan perang.
Sepanjang karir nya dia jarang terlibat baku hantam brutal, menang lewat presisi bukan adu nyali tanpa perhitungan, ini berarti secara fisik kemungkinan besar dia datang dengan kondisi yang relatif lebih utuh.
Baca juga:
Tetapi ada sisi lain yang patut di cermati, kurang nya pertarungan profesional serius dalam beberapa tahun terakhir.
Ekshibisi memang menjaga kebugaran tapi tidak sama dengan duel kompetitif 12 ronde melawan petinju elite, refleks dan insting bertahan di level tertinggi hanya terasah dalam pertarungan nyata.
Jika Mayweather bisa menemukan kembali peluang sejak ronde awal dia berpotensi mengontrol seperti dulu, tapi bila dia butuh waktu terlalu lama untuk panas” Pacquiao bisa memanfaatkan kekurangan itu.
Baca juga:
Pacquiao: Volume Pukulan dan Mentalitas Penantang
Manny Pacquiao selalu membawa sesuatu intensitas, gaya kidal dan kombinasi cepat dari berbagai sudut juga lonjakan serangan membuat nya sulit di prediksi.
Bahkan saat usia nya bertambah naluri menyerang nya tak bisa hilang.
Dalam beberapa tahun terakhir Pacquiao masih menjalani pertarungan profesional yang kompetitif, itu memberi keuntungan dari sisi adaptasi terhadap atmosfer laga resmi, dia tidak hadir untuk hiburan tetapi bertarung dengan resiko.
Baca juga:
Kelemahan Pacquiao di masa lalu melawan Mayweather adalah kesulitan memotong ring secara konsisten, dia mengejar sementara Mayweather mengatur kendali.
Jika dalam rematch ini Pacquiao mampu lebih tenang menekan dengan sudut yang lebih cerdas dan tidak terpancing peluang nya terbuka.
Faktor Usia: Siapa yang Lebih Terpengaruh?
Saat ini mereka berada di akhir karir namun efek usia dalam tinju tidak selalu merata, ada petinju yang kehilangan kecepatan ada pula yang kehilangan daya tahan.
Mayweather mengandalkan refleks defensif dan pembacaan situasi, bila refleks nya menurun sedikit saja gaya bertahan nya bisa lebih mudah di tembus.
Sedangkan Pacquiao mengandalkan volume dan mobilitas, jika stamina dan kecepatan nya turun tekanan konstan yang menjadi senjata utama nya bisa berkurang tajam.
Baca juga:
Kalau di lihat dari teori, gaya defensif cenderung menua lebih baik di banding gaya agresif berintensitas tinggi, tetapi kurang nya aktivitas kompetitif bisa menjadi titik lemah bagi Mayweather.
Apapun yang akan terjadi, laga ini sarat unsur bisnis, nama besar, siaran global dan potensi trilogi membuat hasil imbang atau pertarungan ketat menjadi sangat menguntungkan secara komersial.
Namun terlalu mengandalkan kalkulasi bisnis dalam analisis teknis adalah kesalahan, di dalam ring pukulan tetap nyata, ego berbicara kedua nya pasti ingin membuktikan sesuatu.
Baca juga:
Mayweather ingin membuktikan bahwa hasil pertama memang pantas dia dapatkan tanpa ada debat, Pacquiao ingin memperbaiki dan membungkam kritik lama yang menyebut dia datang terlambat di pertemuan pertama.
Apakah Knockout akan terjadi?
Peluang KO tidak terlalu besar, mereka memiliki pengalaman dan pertahanan yang mumpuni tapi bukan berarti mustahil.
Jika Pacquiao berhasil mendaratkan kombinasi keras saat Mayweather lengah karena kurang nya aktivitas kejutan bisa terjadi, sebalik nya jika Pacquiao terlalu agresif tanpa perlindungan counter tajam Mayweather bisa membuat nya rapuh.
Tetapi skenario paling logis tetaplah pertarungan penuh 12 ronde.
Melihat semua faktor gaya bertarung, usia, aktivitas terakhir dan motivasi laga ini berpotensi jauh lebih ketat di banding yang pertama.
Mayweather masih memiliki keunggulan dalam kecerdasan defensif, Pacquiao membawa intensitas dan pengalaman laga yang lebih baru.
Jika Penulis harus memilih hasil akhir adalah pertarungan yang sangat tipis di kartu skor bukan dominasi sepihak seperti tahun 2015, ada satu kemungkinan juga yaitu imbang alias draw.
Jika di paksa ke satu sisi tipis Mayweather sedikit lebih di unggulkan karena gaya bertahan nya, dia tahu bagaimana memenangkan ronde tanpa harus terlihat spektakuler.
Apakah Mayweather kembali membuktikan bahwa kecerdasan mengalahkan agresi atau Pacquiao akhir nya menemukan jawaban yang dulu tak sempat dia berikan?
#Pacquiao #Mayweather









