Di era 1980-an, dunia tinju kelas menengah dan junior menengah lagi panas banget. Nama-nama besar kayak Marvin Hagler, Thomas Hearns, Sugar Ray Leonard dan Roberto Durán jadi sorotan utama.
Tapi kalau saya pribadi ngomongin petinju yang bikin deg degan, ada satu nama yang nggak boleh di lewatkan John Mugabi, alias “The Beast”.
Julukan itu bener-bener pas karena Mugabi itu maju terus, pukulan keras dan selalu ngejar KO.
Kalau liat gaya nya, Mugabi tipe petinju yang bikin lawan nggak bisa santai. Lawan bisa cepat atau kuat, tapi kalo ketemu Mugabi, biasa nya bakal keteteran karena tekanan konstan dan pukulan yang nggak kenal ampun.
Menurut saya, Mugabi ini contoh nyata petinju yang penuh energi bukan teknisi halus kayak Leonard, tapi lebih kayak mesin penghancur yang tidak kenal takut.
John Mugabi lahir tanggal 4 Maret 1960 di Kampala Uganda. Hidup nya waktu itu tidak gampang sama sekali. Uganda lagi kacau karena politik dan ekonomi yang tak stabil. buat banyak anak jaman itu jalan keluar satu satu nya lewat kerja keras atau olahraga.
Tinju jadi pelarian buat Mugabi sekaligus cara dia menunjukkan kalau dia bisa lebih dari lingkungan sekitar nya.
Bakat nya mulai keliatan sejak remaja. Di ajang amatir, Mugabi sudah kelihatan luar biasa.
Tahun 1980 dia meraih medali perak Olimpiade di Moskow di kelas welter ringan kalah tipis dari petinju Soviet Serik Konakbayev.
momen ini bukti nyata kalau Mugabi punya bakat yang bisa di bentuk untuk dunia profesional. Promotor Amerika langsung kepincut dan dari situlah jalan ke ring besar di mulai.
Mugabi memulai karier profesional nya di Florida pada 5 Desember 1980.
Dari pertarungan pertama gaya nya sudah keliatan maju terus, pukulan keras dan tak kenal ampun, dalam 25 pertarungan awal, semuanya berakhir dengan KO atau TKO.
Media Amerika langsung memberi julukan The Beast, Kekuatan dan agresinya bener-bener bikin lawan ciut.
Setelah menang beruntun, Mugabi akhir nya mendapat kesempatan besar menantang Marvin Marvelous Hagler untuk gelar juara dunia WBC kelas menengah di Las Vegas 10 Maret 1986.
Ini pertarungan yang bikin saya selalu inget, Mugabi yang belum pernah melewati 10 ronde tampil berani banget.
Di ronde awal, beberapa pukulan nya bikin Hagler mundur. Saya pribadi waktu nonton rekaman nya mikir…Wow, ini anak Uganda tidak takut sama siapa pun.”
Tapi stamina Mugabi mulai menipis setelah ronde ke-8. Hagler yang pengalaman menghadapi pertarungan panjang akhir nya menutup pertarungan di ronde ke-11 dengan TKO.
Kekalahan ini tidak bikin Mugabi kalah pamor. Justru keberanian nya menghadapi salah satu petinju terbaik sepanjang masa bikin nama nya makin di kenal.
Mugabi tidak menyerah, 8 Juli 1989 dia menantang Rene Jacquot di Prancis buat gelar WBC light middleweight.
Jacquot di kenal solid, tahan banting dan baru saja bikin kejutan dengan mengalahkan Donald Curry, tapi Mugabi datang dengan tekad bulat menang cepat.
Begitu bel berbunyi Mugabi langsung menekan, pukulan demi pukulan menghantam Jacquot, dalam 1 menit 30 detik, left hook dan straight right bikin Jacquot terhuyung.
Mugabi tidak berhenti, kombinasi uppercut kiri kanan bikin Jacquot jatuh duduk di sudut ring, wasit menghitung Jacquot bangkit tapi masih sempoyongan, Mugabi akhir nya meng KO di ronde pertama 1 menit 29 detik.
Simak juga: Perbedaan footwork dan latihan ala petinju profesional
Masih di Amerika, Mugabi menghadapi Terry Norris pada 31 Maret 1990, Norris baru 22 tahun tapi terkenal cepat dan punya kombinasi mematikan.
Begitu bel berbunyi, Norris langsung menyerang, dalam 1 menit 22 detik Mugabi jatuh dua kali dan wasit menghentikan pertarungan sabuk WBC akhir nya berpindah tangan.
Kalau menurut saya, pertarungan ini nunjukin sisi manusiawi Mugabi. Dia kuat, ganas, tapi stamina kadang tidak bisa lawan waktu dan lawan muda yang super cepat. Saya sempat mikir, Ini yang bikin tinju menarik kekuatan saja tidak cukup.
Di era 1990-an Mugabi mulai kesulitan mempertahankan performa, kekalahan makin sering apalagi lawan lawan muda yang haus kemenangan.
Pertarungan terakhir nya 16 Januari 1999 melawan Glen Kelly dengan kalah TKO. Rekor terakhir 42 menang (39 KO), 7 kalah, 1 imbang.
Tapi Mugabi tetap punya aura yang bikin orang ingat, ganas, berani dan tidak takut lawan siapa pun. Dia tipe petinju yang bikin penonton selalu waspada bahkan saat lawan nya lebih teknis.
Setelah gantung sarung tinju, Mugabi hidup sederhana, pernah tinggal di Australia jadi pelatih dan bimbing petinju muda.
Jarang muncul di media, tapi bagi penggemar tinju era 1980-an dia tetap di ingat sebagai petinju yang bikin jantung memompa dengan cepat.
Pengamatan saya, ada beberapa hal yang bisa di ambil dari perjalanan Mugabi.
Keberanian itu kunci – Mugabi tidak pilih lawan, selalu maju, bahkan lawan petinju terbaik dunia.
Kekuatan perlu di kombinasi strategi – Kadang agresi aja saja tidak cukup stamina dan timing juga penting.
Tidak selama nya juara panjang umur – Mugabi cuma beberapa tahun di puncak tapi momen momen itu cukup bikin orang tidak lupa.
meski nama nya sekarang jarang terdengar siapa pun yang nonton pertarungan nya tidak gampang lupa sama The Beast.
#JohnMugabi #TheBeast #TinjuDunia










Pingback: Moses itauma hajar dillian whyte ronde 1.17 agustus 2025
Pingback: Perbedaan Footwork, Defense, dan Conditioning dalam Tinju