Tinju di Copper Box Arena tidak bisa di jelaskan hanya dengan satu kata seperti menang atau kalah, ada banyak lapisan dalam setiap pertarungan yang terjadi.
Lapisan tentang ketahanan, tentang batas kemampuan dan bagaimana seorang petinju bereaksi ketika skenario tidak berjalan sesuai harapan.
1. Ward vs Faure.
Di bagian awal kartu Louie Ward seorang debutan yang masih mencari pijakan di dunia profesional.
Tanpa tekanan besar, tanpa ekspektasi berlebihan dia menjalani pertarungan menghadapi Jahfieus Faure yang jauh lebih berpengalaman, Ward tidak mencoba memaksakan sesuatu yang belum dia miliki.
Dia bertarung dengan memastikan setiap ronde berada dalam kendali nya.
Tidak ada KO yang memancing sorakan tetapi kemenangan 40-36 yang dia raih memperlihatkan sesuatu tentang bagaimana memenangkan pertarungan tanpa kehilangan arah.
2. Mitchell vs Kevin.
Connor Mitchell naik ke atas ring sebagai putra dari Kevin Mitchell ada bayangan besar yang secara otomatis mengikuti setiap langkah nya.
Menghadapi Yuri Zanoli Mitchell menunjukkan kontrol penuh sepanjang empat ronde.
Dia mengumpulkan poin dan menutup pertarungan tanpa memberi kesalahan.
Hasil nya mungkin tidak spektakuler di mata penonton yang mencari drama tetapi bagi seorang prospek muda kemenangan seperti ini sering kali lebih bernilai daripada KO cepat yang datang terlalu mudah.
3. Emmanuel vs Goodwin.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama, Emmanuel Buttigieg masuk ke dalam ring menghadapi Jake Goodwin arah malam langsung berubah drastis.
Ini bukan lagi tentang kontrol tapi bertahan dari tekanan yang hampir menghancurkan.
Goodwin bringas sejak pertengahan laga terutama dengan serangan ke tubuh yang perlahan menggerus stamina Buttigieg.
Situasi menjadi semakin sulit ketika pelindung gigi Buttigieg berulang kali terlepas, bukan sekali tetapi berkali kali hingga akhir nya berujung pada pengurangan poin.
Di sini pertarungan tanpak bergerak menuju satu arah yaitu kekalahan.
Namun di tinju satu ronde bisa mengubah semua, ketika banyak yang mulai melihat penurunan performa Buttigieg dia menemukan momen untuk bangkit.
Ronde ke 8 menjadi awal perubahan dan ronde ke 9 menjadi klimaks yang tidak terduga.
Sebuah hook kiri mendarat dengan kekuatan penuh menjatuhkan Goodwin dengan wajah lebih dulu ke kanvas, kemudian pukulan tambahan menghantam nya.
Goodwin sempat bangkit tetapi tubuh nya tidak lagi mampu mengikuti keinginan nya, dia berlutut di sudut ring dan pertarungan berakhir, dalam hitungan detik cerita berubah dari hampir kalah menjadi kemenangan KO yang akan terus di ingat.
Baca juga:
4. Jimmy vs Osaze.
Setelah drama tersebut suasana tetap panas ketika Jimmy Sains mempertahankan gelarnya melawan Derrick Osaze.
Awal nya Sains terlihat berada di jalur yang benar dengan pukulan tajam dan di ronde ke 3 dia bahkan sempat menggoyahkan Osaze dengan pukulan kanan keras.
Namun lagi lagi malam itu tidak memberikan ruang bagi dominasi yang mudah.
Baca juga:
Osaze bangkit dia mulai memaksakan gaya bertarung nya sendiri, menyerang dengan pukulan looping, menekan tanpa henti dan perlahan menarik Sains ke dalam pertarungan yang lebih fisik dan melelahkan.
Seiring waktu berjalan keunggulan teknis Sains mulai tergerus oleh tekanan tersebut, dia semakin sering berada di tali ring, di paksa bertahan dan mulai terlihat kelelahan.
Di ronde ronde mencoba mencuri kemenangan di detik detik terakhir.
Namun Sains tidak menyerah, dia bertahan, meladeni dan memastikan bahwa setiap momen yang dia menangkan cukup untuk tetap berada di depan dalam penilaian juri.
Ketika skor diumumkan—95-95, 97-93, 96-96, kemenangan memang jatuh ke tangan nya, tetapi itu adalah kemenangan yang menguji batas nya.
Baca juga:
5. Visioli vs Giles.
Lalu datanglah salah satu penampilan paling terkontrol saat Giorgio Visioli menghadapi Levi Giles.
Berbeda dengan pertarungan sebelum nya yang penuh tekanan dan perubahan momentum, laga ini berjalan dengan pola yang jauh lebih stabil.
Visioli tidak membaca lawan menyerang dengan presisi, Giles terus maju mencoba menciptakan tekanan tetapi hampir setiap langkah nya berakhir dengan counter dari Visioli.
Baca juga:
Di ronde ke 5 sebuah pukulan ke tubuh menjatuhkan Giles memperjelas arah pertarungan.
Namun yang menarik bukanlah knockdown itu tetapi bagaimana Visioli mengelola sisa pertarungan, dia tidak terbawa emosi untuk mencari KO tetap bermain dalam ritme yang dia kendalikan.
Dia menyerang lalu keluar dari jangkauan, kembali mengatur tempo dan mengulang yang sama hingga ronde terakhir.
Giles bertahan dengan keberanian tetapi tidak pernah mengancam, ketika skor di umumkan—99-90, 100-89, 99-90—kemenangan itu mutlak.
Namun muncul pertanyaan baru, seberapa jauh kemampuan Visioli ketika menghadapi lawan yang tidak hanya bertahan tetapi mampu membalas dengan serius?
Baca juga:
6. Liddard vs Tyler.
George Liddard mempertahankan gelar nya sekaligus menambah sabuk IBF Intercontinental setelah menundukkan Tyler Denny dalam 12 ronde penuh yang jauh lebih berat dari yang di perkirakan banyak orang.
Skor akhir tiga juri kompak memberi angka 116-112.
Sejak awal Liddard seperti petinju yang ingin mengakhiri malam lebih cepat.
Baca juga:
Ronde pertama menjadi pernyataan niat pukulan kanan mendarat di ikuti kombinasi yang keras memaksa Denny bermain sesuai yang dia inginkan.
Di sini semua nya berjalan sesuai ekspektasi, Liddard terlihat lebih tajam dan lebih kelas.
Masuk ke ronde berikut nya Denny perlahan mengubah duel, dia tidak mencoba menandingi teknik Liddard dari jarak jauh itu bukan permainan nya sebalik nya dia memilih jalur yang lebih keras, mendekat, dan memaksa pertarungan menjadi kotor.
Dia masuk meningkatkan volume pukulan dan menghapus kenyamanan Liddard sedikit demi sedikit.
Tidak ada pukulan besar Denny tidak datang untuk menghancurkan dia datang untuk mengganggu dan dia berhasil.
Baca juga:
Ronde selanjut nya mulai menjadi lebih sulit untuk di nilai bukan karena ada dominasi tapi karena kedua petinju saling mencuri momen dalam durasi singkat.
Liddard mendaratkan pukulan lurus namun Denny membalas dengan aktivitas tanpa henti.
Untuk pertama kali dalam karir nya Liddard terlihat harus ekstra keras dari biasa nya untuk mempertahankan kendali.
Rekornya hanya mencatat satu kemenangan KO dan itu terlihat di atas ring, pukulan nya tidak cukup keras untuk menghentikan Liddard tapi cukup untuk membuat nya tidak pernah tenang.
Ekspektasi sebelum laga ini cukup tinggi, banyak yang memperkirakan Liddard akan menang dominan bahkan mungkin menghentikan Denny di tengah jalan.
Baca juga:
Memasuki ronde akhir Liddard menyadari situasi tersebut, dia kembali ke dasar memastikan setiap pukulan yang dia lepaskan memiliki nilai di mata juri.
Ketika bel terakhir berbunyi tidak ada drama besar hanya dua petinju yang menyelesaikan selama 12 ronde.
Juri memberikan kemenangan kepada Liddard dengan skor 116-112 tiga kali.
Rekor liddard menjadi 14-0 kini semakin solid, sabuk bertambah, nama semakin di kenal.
Sementara itu Tyler Denny mungkin keluar sebagai pihak yang kalah tapi tidak sepenuh nya kalah dalam cerita, dia datang tanpa banyak yang menjagokan namun memaksa petinju tak terkalahkan itu sampai ngos ngosan.
#Georgeliddard #Giorgiovisioli









