Kabar duka menyelimuti dunia tinju, Denis milton mantan penantang gelar dunia kelas menengah meninggal dunia pada usia 64 tahun, dia menghembuskan nafas terakhir nya sekitar pukul tiga dini hari setelah hampir satu tahun terakhir hidup di sebuah pusat rehabilitasi.
John Zervos mantan perwira Departemen Kepolisian New York yang kini mengelola organisasi nirlaba Friends of the Champ, sebuah komunitas yang secara khusus membantu para mantan petinju bertahan hidup di masa pensiun yang serba kekurangan.
Bagi mereka yang mengenal nya, Dennis Milton adalah pribadi hangat, rendah hati dan nyaris mustahil untuk di benci.
“Dennis adalah salah satu pria paling baik yang pernah saya temui dalam hidup saya,” kata Zervos.
Dia tipe lawan yang bisa kamu hormati, bahkan kamu jadikan teman..kenang Michael Olajide rival nya di ring pada 1989.
Baca juga:
Kisah Dennis Milton di tinju di mulai dengan cara yang nyaris tidak di rencanakan. Pada usia 16 tahun, remaja Bronx ini masuk ke sebuah pusat rekreasi lokal dengan niat mengikuti kelas karate namun hari itu kelas karate tidak tersedia yang ada hanya tinju.
Keputusan untuk tidak langsung pulang memberikan pengalaman yang takjub.
“Aku langsung jatuh cinta saat melihat nya secara langsung,” kata Milton dalam wawancara tahun 1984. “Sejak saat itu, aku berusaha sekeras mungkin untuk menjadi petinju terbaik yang aku bisa.”
Bakat Milton berkembang cepat, Di level amatir nama nya segera di kenal luas.
Dia meraih empat gelar New York Golden Gloves, sebuah pencapaian prestisius yang menempatkan nya di jajaran elit amatir Amerika Serikat. Pada final Golden Gloves 1981 di kelas 165 pon, Milton bahkan mengalahkan sahabat dekat nya sendiri Iran Barkley yang kelak menjadi juara dunia.
Tak berhenti di situ, dia juga menundukkan Frank Tate di final Kejuaraan Amatir AS 1982 dan mengalahkan Michael Nunn di National Sports Festival 1983.
Tiga nama itu kemudian di kenal sebagai juara dunia, sebuah fakta betapa tinggi kualitas Milton di masa mudanya.
Di level internasional, Milton meraih medali perak di Pan American Games 1983 di Venezuela. dia kalah tipis 3-2 dari petinju Kuba Orestes Solano.
Kegagalan itu kembali hadir setahun kemudian, dalam seleksi Olimpiade 1984 Milton kembali tersingkir lewat keputusan tipis di perempat final, mimpi Olimpiade pun pupus.
Dua kekalahan tipis itu membuat Milton memilih jalan profesional sebagai pelarian sekaligus harapan baru.
Milton beralih ke profesional pada 1985. Lima kemenangan beruntun di awal karir sempat memberi harapan bahwa dia akan menjadi bintang berikut nya dari New York.
Kekalahan split decision dari Ismael Negron menjadi yang pertama dan TKO dari Angel Sindo pada 1987 memperparah situasi. Perlahan, Milton mulai di cap sebagai stepping stone, petinju yang di siapkan untuk menguji prospek atau calon juara.
Namun 1989 menjadi tahun pembuktian terbesar dalam hidup Dennis Milton.
Dia mengalahkan Pedro Rivera yang kala itu memiliki rekor mentereng lalu membuat kejutan besar dengan memberi Gerald McClellan kekalahan profesional pertama lewat majority decision. dia menutup tahun itu dengan kemenangan atas Robbie Sims dan Michael Olajide.
“Aku tahu aku tidak kalah kualitas. Aku hanya tidak pernah diberi kesempatan,” ujar Milton setelah kemenangan nya yang di siarkan ESPN.
Pertarungan ulang hidup Milton tidak berjalan mulus. Duel melawan Olajide di Albany di warnai kontroversi aneh, wasit menghentikan laga tiga detik sebelum ronde terakhir berakhir karena mengira bel sudah berbunyi. Hasil sempat di ubah menjadi no-contest sebelum akhir nya di pulihkan kembali dua minggu kemudian.
Setelah dua kemenangan lanjutan, Milton mencapai puncak karir nya. dia menjadi penantang nomor satu WBC kelas menengah dan mendapat kesempatan emas melawan sang juara Julian Jackson di Las Vegas.
Tetapi mimpi itu hancur Milton KO di ronde pertama.
Setelah malam itu, karir nya merosot, Kalah TKO dari Bernard Hopkins, lalu kekalahan terakhir dari Aaron Davis pada 1995 menjadi penutup perjalanan ring nya dan pensiun tanpa sabuk atau kejayaan finansial.
Dennis Milton memiliki julukan yang unik yaitu The Magician, dia benar benar seorang pesulap jalanan bukan karangan.
Naik kereta ke Midtown Manhattan mengenakan jas dasi kupu-kupu dan memainkan trik sulap demi recehan penonton.
“Saya menghasilkan uang dari itu Hingga 80 dolar sehari Cukup untuk bertahan…katanya.
Setelah pensiun, Milton menjadi pelatih petinju amatir bahkan membawa Arnold Gonzalez finis runner up di New York Golden Gloves 2015.
Di luar ring, dia bekerja sebagai petugas keamanan gedung perkantoran di New York, pekerjaan yang jauh dari gemerlap masa lalu.
Di tahun terakhirnya, tanda tanda demensia mulai muncul. Tubuh nya melemah ingatan nya memudar.
Dennis Milton tidak akan di kenang sebagai legenda besar atau sabuk yang di pajang. Tapi kisah nya menjadi tanda dari generasi petinju yang memberi segala nya lalu perlahan di lupakan.
#Denismilton #julianjackson










Pingback: Gervonta Davis Di tangkap, Terancam 21 Tahun Penjara.
Pingback: Utang Properti Menghantui Oscar De La Hoya