Bicara soal keberanian menantang arus nama Abass Baraou seperti nya wajib di sebut, petinju asal Jerman ini bukan tipikal juara yang menikmati zona enak enak tapi seseorang yang malah tumbuh ketika berada di wilayah lawan.
Tak banyak petarung yang rela bertarung di tempat orang lain demi membuktikan diri namun Baraou seperti nya memang punya naluri yang berbeda.
Sementara Xander Zayas wajah muda dari Puerto Rico yang sedang naik daun di elu elukan sebagai pewaris baru kejayaan tinju pulau itu.
Baca juga: Profil lengkap michael conlan sang mantan juara dunia
Kini kedua nya akan di pertemukan dalam duel penyatuan gelar WBA dan WBO kelas 154 pon pada 31 Januari 2026 di Coliseo de Puerto Rico Jose Miguel Agrelot San Juan.
Kalau menengok perjalanan karir Abass Baraou tidak ada yang instan.
Dia menempuh jalur yang berliku, penuh hambatan dan nyaris terhenti setelah kekalahan pertama nya lebih dari lima tahun lalu.
Baca juga:
Banyak petinju yang setelah itu kehilangan arah tapi Baraou menemukan kekuatan baru.
Secara mengejutkan dia mengalahkan Yoenis Tellez pada agustus lalu di Orlando, saat itu semua orang memfavoritkan Tellez petinju tak terkalahkan dan ANAK KANDUNG promotor lokal Boxlab Promotions.
Baraou datang tanpa beban dan pulang membawa kemenangan angka mutlak yang membuka jalan menuju sabuk WBA.
Baca juga:
Yang membuat kemenangan itu makin istimewa dia sempat menjatuhkan Tellez di ronde ke-12 ronde yang biasa nya jadi tempat bertahan bukan menyerang.
Dari situ semua orang tahu bahwa petinju Jerman berdarah Afrika ini bukan petualang biasa.
Dia punya nyali dan stamina yang langka dan kombinasi yang membuat nya berbahaya di mana pun dia bertarung.
Tak lama setelah itu keberuntungan berpihak kepada nya ketika Terence Crawford memutuskan untuk naik kelas dan melepaskan sabuk WBA penuh.
Baraou pun resmi di angkat sebagai juara bukan lagi pemegang sabuk interim.
Baca juga:
Sedangkan Xander Zayas menjalani kisah yang lebih manis tapi tak kalah menarik, dia lahir di San Juan Puerto Rico pindah ke Florida Selatan pada usia 13 tahun.
Sejak kecil Zayas memang sudah di cetak untuk menjadi the next Puerto Rican star, bakat nya terlihat teknik nya mumpuni dan kepribadian nya ramah kamera.
Zayas merebut sabuk WBO lowong pada Juli lalu setelah menang angka telak atas Jorge Garcia di New York.
Kemenangan itu seperti pembuka jalan baru bukan hanya karena gelar dunia pertama tapi juga karena dia menjadi juara termuda aktif saat ini hanya enam minggu sebelum ulang tahun nya yang ke 23.
Kini dia akan melakukan sesuatu yang lebih besar mempertahankan gelar di kampung halaman nya sendiri.
Bagi banyak petinju lain bertarung di rumah bisa jadi tekanan lebih besar dari pada keuntungan, beban menjadi kebanggaan nasional serta sorotan media lokal bisa menjadi beban psikologis tersendiri.
Tapi Zayas terlihat santai, dalam berbagai kesempatan dia menegaskan bahwa pertarungan melawan Baraou adalah tantangan yang dia butuhkan.
Dia bahkan meminta Top Rank promotor nya untuk mencari lawan terbaik yang tersedia. bukan yang paling aman.
Menurut nya melawan petinju tangguh seperti Baraou akan mempercepat proses pendewasaan karir nya.
Kabar yang beredar kedua petinju ini pernah berlatih bersama, mereka sudah berbagi lebih dari 80 ronde sparring dalam beberapa kamp sebelum nya.
Jadi secara teknis mereka sudah cukup mengenal gaya satu sama lain ini membuat pertarungan nanti seperti kelanjutan dari rivalitas alami yang sudah lama tertunda.
Baraou di kenal dengan gaya menekan dari awal memadukan jab tajam dengan serangan kombinasi cepat, dia tidak spektakuler tapi efisien dan ulet.
Baca juga:
Sementara Zayas lebih modern, cepat, disiplin dalam menjaga serangan balik lawan dan tahu kapan harus mengubah tempo.
Baraou akan menghadapi ribuan penonton Puerto Rico yang tentu mendukung Zayas.
Dia harus melawan atmosfer yang hampir seperti laut biru yang bersorak setiap kali Zayas melepaskan jab.
Tapi melihat pengalaman Baraou yang terbiasa menjadi tamu mungkin situasi itu yang membuat nya berbahaya.
Baca juga:
Dalam konferensi pers di San Juan Baraou terlihat santai…
Saya datang bukan hanya untuk merebut sabuk tapi juga untuk membawa pulang beberapa penggemar Puerto Rico kata nya.
Kata itu terdengar seperti lelucon ringan tapi punya makna dalam, baraou ingin di akui bukan hanya sebagai juara tapi juga sebagai petarung yang layak di hormati di mana pun dia bertarung.
Dia menyebut duel melawan Zayas sebagai misi pribadi dan menegaskan tidak akan meninggalkan apa pun di atas ring.
Dari sisi pengalaman Baraou memang lebih jauh di atas zayas.
Usian ya 31 tahun dengan segudang pengalaman menghadapi lawan kuat di luar negeri nya sendiri.
Kalau boleh menebak pertarungan ini bisa berjalan 12 ronde penuh, Zayas mungkin akan menguasai ronde awal dengan kecepatan dan kelincahan nya.
Sementara Baraou akan mencoba memperpendek jarak di paruh kedua laga, kemungkinan besar ini akan menjadi adu teknik dan ketahanan.
Jika Zayas mampu mempertahankan disiplin tidak terjebak dalam perang jarak dekat dia bisa menang angka.
Tapi kalau Baraou berhasil menyeret nya ke pertarungan keras di sudut ring kejutan bisa saja terjadi.
Yang membuat pertarungan ini spesial bukan hanya dua sabuk yang di pertaruhkan tapi juga semangat nya.
ini tentang dua petinju dari latar berbeda yang di pertemukan oleh ambisi yang sama. untuk menjadi yang terbaik di kelas 154 pon.
Zayas akan membawa kebanggaan Puerto Rico negara yang melahirkan legenda seperti Felix Trinidad dan Miguel Cotto sementara Baraou datang membawa semangat petarung Jerman Afrika yang tidak takut menembus batas.
Apapun hasil nya duel ini sudah menang sebelum di mulai.
Dia mengembalikan esensi sejati tinju keberanian untuk menghadapi tantangan tanpa syarat.
#TinjuDunia #AbassBaraou #XanderZayas









