Karir seorang petinju sering kali di ukur dari gelar yang di raih dan cara dia meninggalkan ring, Anthony Cacace akan melawan James Jazza Dickens di Dublin bisa menjadi titik pertemuan dari kedua nya.
Jika semua berjalan sesuai rencana nya petinju asal Belfast itu tidak hanya akan merebut sabuk juara dunia kelas junior lightweight versi WBA tetapi juga menutup perjalanan panjang nya di dunia tinju profesional.
Pertarungan yang akan di gelar di 3Arena Dublin menjadi kesempatan emas bagi Cacace untuk menambah koleksi gelar dunia kedua nya di kelas 130 pon.
Baca juga:
Sebelum nya dia pernah mencatatkan salah satu kemenangan terbesar ketika menaklukkan Joe Cordina pada 2024 dan merebut sabuk IBF.
Kini di usia 37 tahun Cacace berada dimasa yang tidak biasa bagi sebagian besar petinju, banyak petarung mulai menurun ketika memasuki usia tersebut tetapi bagi Cacace momentum terbaik malah datang belakangan.
Namun jalan menuju ini tidak pernah mudah, jika menengok kembali ke masa lalu perjalanan Cacace sempat berada di titik yang cukup rapuh.
Baca juga:
Pada 2017 dia harus menerima kekalahan pahit dari Martin J. Ward, kekalahan itu tidak hanya menghapus peluang nya untuk naik lebih cepat ke level elit tetapi juga menimbulkan keraguan besar terhadap masa depan nya.
Banyak pengamat saat itu menganggap Cacace mungkin tidak akan pernah mencapai level juara dunia.
Cacace kemudian mengakui bahwa pada masa awal dia tidak selalu menjalani profesin ya dengan disiplin penuh, ada saat ketika dia tidak berlatih maksimal atau mengambil jalan pintas dalam persiapan.
Kekalahan dari Ward menjadi semacam pertanda keras yang memaksa nya menilai ulang pendekatan nya terhadap olahraga ini.
Baca juga:
Sejak saat itu dia mulai memperbaiki dari pola latihan hingga mentalitas nya di dalam ring dan perubahan itu perlahan mulai terlihat dalam performa nya.
Dalam beberapa tahun terakhir Cacace menikmati periode paling sukses dalam hidup nya sebagai petinju profesional, tiga pertarungan terakhir nya menjadi bukti bahwa dia belum kehilangan ketajaman nya.
Kemenangan atas Joe Cordina pada 2024 mengangkat nama nya kembali ke puncak perhatian dunia.
Tidak hanya merebut sabuk IBF kemenangan itu juga mengukuhkan Cacace sebagai salah satu petarung paling berbahaya di divisi junior lightweight.
Baca juga:
Setelah itu dia melanjutkan performa dengan mengalahkan dua mantan juara dunia lai yaitu Josh Warrington dan Leigh Wood, kedua pertarungan tersebut memperlihatkan versi Cacace yang tampil disiplin juga cukup cerdas dalam mengatur ritme pertarungan.
Namun keputusan untuk menghadapi Leigh Wood pada 2025 justru membuat nya kehilangan sabuk IBF.
Saat itu Cacace memilih duel besar yang lebih menarik secara komersial dari pada menjalani kewajiban menghadapi penantang resmi Eduardo Nunez hasil nya membuat gelar itu di cabut.
Baca juga:
Tetapi langkah tersebut tetap sepadan dia mendapatkan pertarungan besar sekaligus bayaran yang lebih baik, kini peluang untuk kembali memiliki sabuk dunia terbuka sekali lagi.
Lawan yang akan di hadapi Cacace di Dublin bukanlah petarung kemarin sore, James Dickens datang sebagai juara dunia WBA yang sedang berada di puncak, pertarungan ini menjadi benturan dua petinju berpengalaman yang memahami betapa berharga nya kesempatan ini.
Kemenangan dickens akan semakin mengukuhkan status nya sebagai salah satu nama penting di kelas 130 pon.
sedangkan untuk cacace ini bisa menjadi bab terakhir dalam karir nya, sebelum duel ini di umumkan Dickens sebenar nya bukanlah nama yang ada dalam radar Cacace.
Kini fokus nya hanya satu membawa sabuk itu pulang ke Belfast.
Baca juga:
Sudah lebih dari satu dekade sejak dia tampil di tanah Irlandia, terakhir kali hal itu terjadi adalah pada 2015 ketika dia tampil di laga pendukung pertarungan Carl Frampton melawan Chris Avalos di SSE Arena Belfast.
Kini dia kembali ke panggung Irlandia sebagai petinju yang jauh lebih di kenal dan di hormati.
Sempat beredar kabar bahwa pemenang duel ini akan menghadapi Ryan Garner dalam pertarungan berikut nya, garner sendiri di jadwalkan tampil pada kartu yang sama melawan Cristian Bielma.
Namun Cacace memilih untuk tidak terlalu memikirkan kemungkinan tersebut, dia menyadari bahwa dalam tinju rencana bisa berubah dalam hitungan detik.
Satu pukulan saja bisa mengubah seluruh masa depan seorang petarung, karena itu bagi nya yang terpenting saat ini hanyalah fokus pada Dickens.
Jika menang baru dia akan memikirkan langkah selanjut nya, namun ada satu kemungkinan yang cukup sering dia sebutkan yakni pensiun.
Baca juga:
Tidak banyak petinju yang memiliki kesempatan untuk memilih kapan mereka ingin berhenti, banyak di antara nya terpaksa bertahan terlalu lama hingga karir mereka berakhir dengan cara yang kurang menyenangkan.
Cacace tanpak nya ingin menghindari hal tersebut, dia mengakui bahwa jika mampu mengalahkan Dickens dan merebut sabuk WBA itu bisa menjadi saat yang tepat untuk menggantung sarung tinju.
Perjalanan ini sudah jauh melampaui mimpi masa kecil nya.
Dia telah merasakan bagaimana rasa nya menjadi juara dunia, bertarung di panggung besar dan menghadapi nama terkenal dalam olahraga ini.
Karena itu menutup karir dengan kemenangan besar di depan pendukung sendiri akan menjadi penutup yang membanggakan.
Baca juga:
Menurut penulis perjalanan karir Anthony Cacace kisah nya cukup unik, banyak petinju mencapai puncak karir di usia akhir 20-an atau awal 30-an.
Namun Cacace menemukan momentum terbaik nya ketika usia nya sudah mendekati 40 tahun ini menunjukkan bahwa pengalaman, disiplin dan perubahan mentalitas bisa menjadi faktor yang sama penting nya dengan kekuatan fisik.
Jika dia berhasil merebut sabuk WBA dan kemudian memutuskan pensiun maka kisah Cacace akan di kenang sebagai salah satu contoh bagaimana seorang petinju bisa bangkit dari masa sulit dan akhi rnya meninggalkan ring dengan kehormatan.
#Dickens #Cacace









