Tinggal sepuluh hari lagi sebelum Abass Baraou dan Xander Zayas berdiri berhadapan di jantung Puerto Rico pada 31 Januari 2026 Coliseo Jose Miguel Agrelot di San Juan akan menjadi saksi duel penyatuan gelar WBA dan WBO yang sarat makna.
Ini aadalah pertarungan siapa yang benar benar pantas memimpin generasi baru kelas super welter.
Laga ini datang dengan beban ganda untuk zayas, dia adalah juara dunia WBO masih muda belum terkalahkan dan bertarung di hadapan publik sendiri. kondisi seperti ini bisa menjadi penyemangat dan juga bumerang.
Baca juga:
Di usia 23 tahun, Zayas telah menapaki jalur yang jarang di tempuh. Karir amatir nya di sorot oleh gelar Juara Nasional Remaja AS 2018 dan transisi ke profesional berjalan mulus.
Kemenangannya atas Jorge García memastikan sabuk WBO berada di pinggang nya.
Namun duel unifikasi selalu berbeda. Menang berarti naik kelas secara instan. Kalah berarti reputasi muda yang di bangun bisa retak seketika.
Abass Baraou datang dengan kebebasan. Petinju Jerman berusia 31 tahun ini sudah menjalani satu ujian besar dan lulus dengan cara yang tidak banyak di prediksi orang.
Agustus lalu di Orlando Baraou menumbangkan Yoenis Tellez dan merebut gelar WBA sebagai underdog. Sabuk hitam emas WBA kini berada di pinggang nya bukan karena keberuntungan, melainkan eksekusi yang presisi.
Laga di Puerto Rico akan menjadi pertahanan gelar pertama nya, itulah yang membuat Baraou berbahaya. dia sudah membuktikan bahwa tekanan besar tidak membuat nya takut.
kedua petinju menawarkan kontras menarik. Baraou memiliki rekor 17-1 (9 KO) lebih berpengalaman. Zayas unggul dalam kecepatan dengan rekor sempurna 22-0 (13 KO).
Unifikasi jarang di menangkan oleh petinju paling flamboyan tapi di menangkan oleh yang paling disiplin ketika tekanan mencapai puncak nya.
Bertarung di San Juan jelas menguntungkan Zayas, dukungan penonton akan masif. Setiap pukulan akan di sambut tepuk tangan. Namun sejarah tinju juga penuh dengan contoh ketika sorakan berubah menjadi tekanan yang membebani.
Baraou tidak memiliki apa pun untuk di senangkan selain diri sendiri dan tim nya. Situasi ini sering kali menciptakan petinju yang menunggu kesalahan kecil yang bisa mengubah arah laga.
jika zayas menang akan mengangkat nya ke status elite global.
Juara dua sabuk di usia 23 tahun dia tak lagi bisa di posisikan sebagai masa depan tapi akan menjadi masa kini.
Sebalik nya bila Baraou menang akan mengukuhkan kisah underdog mengalahkan juara muda tak terkalahkan di kandang nya sendiri dan menghapus semua kritik yang masih melekat pada namanya.
Dengan hanya sepuluh hari tersisa, masa persiapan telah beralih dari fisik ke mental. Tidak ada lagi peningkatan kondisi drastis Yang tersisa hanyalah fokus, disiplin dan kemampuan menjaga emosi tetap terkendali.
Inilah masa di mana pertarungan sering kali di menangkan sebelum lonceng pertama berbunyi.
Baraou vs Zayas adalah duel yang cerdas pada waktu yang tepat. Dua juara, dua generasi dua pendekatan berbeda terhadap ring.
Satu datang untuk membuktikan bahwa kemenangan nya bukan karena beruntung,
lawan nya datang untuk memastikan bahwa masa depan memang milik nya.
#Abassbaraou #xanderzayas









Pingback: Mike Tyson Invitational Dorong Kebangkitan Tinju Amatir AS
Pingback: Jerry Belmontes Comeback Setelah 10 Tahun Pensiun di Texas
Pingback: Zuffa Boxing Masuk, Matchroom Terancam? Reaksi Eddie Hearn