Melihat perjalanan para petinju sering kali cerita paling menyentuh justru muncul bukan saat mereka bertarung tapi ketika mereka menemukan jalan hidup baru.
Salah satu nya keputusan beberapa petinju yang akhir nya memeluk Islam.
Dari luar mungkin kelihatan nya sederhana tapi biasa nya langkah itu lahir dari pergulatan panjang, tekanan hidup, rasa kosong di puncak ketenaran sampai kebutuhan untuk menemukan ketenangan yang selama ini hilang.
Baca juga: Ellyas pical juara dunia pertama dari indonesia
Dalam tulisan ini kita akan melihat bagaimana beberapa petinju akhirn ya memilih Islam sebagai jalan yang mereka rasa paling menenangkan.
Ini cerita tentang orang yang berusaha menemukan diri mereka sendiri dan itu selalu menarik untuk di ikuti.
1. Muhammad Ali.
Lahir sebagai Cassius Clay muda dia tumbuh di Louisville dengan kehidupan sederhana dan mimpi yang kelewat besar.
Awal masuk tinju pun unik gara gara sepeda nya di curi dari situ muncul tekad yang bikin hidup nya berubah total, Prestasi nya melonjak cepat dengan mearih medali emas Olimpiade 1960.
Ali ini seperti sosok yang sudah DI TAKDIRKAN buat jadi besar bahkan sebelum dunia tahu nama nya.
Baca juga: Pertanyaan umur seputar tinju, lengkap untuk pemula dan penggemar
Lompatan besar pertama muncul ketika dia mengalahkan Sonny Liston tahun 1964, Kemenangan itu sudah gila, tapi pengumuman beberapa hari setelah nya jauh lebih mengguncang.
Clay mengumumkan bahwa dia masuk Islam dan mengganti nama nya menjadi Muhammad Ali.
Di Amerika era 60 an keputusan itu bukan cuma berani itu semacam bom, banyak yang marah tapi ada juga yang merasa Ali akhir nya menunjukkan siapa diri yang sebenar nya.
Lalu datang momen paling kontroversial penolakan nya untuk ikut perang Vietnam tahun 1967.
Ali berdiri tegak pada keyakinan nya, Islam melarang membunuh orang yang tidak menyakiti nya.
Ali mengatakan..
“Saya tidak punya masalah dengan orang Vietnam.”
Sikap itu membuat nya kehilangan sabuk juara dan lisensi tinju, seorang juara dunia harus berhenti bertarung selama hampir empat tahun hanya karena mempertahankan iman.
Tapi Ali tetap kukuh, di situ justru terlihat kekuatan sejati nya.
Ketika di perbolehkan kembali bertinju tahun 1971 dia langsung terjun ke laga maha berat, Joe Frazier dalam Fight of the Century, lalu trilogi yang selalu di sebut orang sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa.
Muhammad ali semakin dewasa dan terlihat bagaimana Islam membuat Ali lebih tenang dia menjalani haji dan mulai aktif berdakwah, sering menunjukkan sisi lembut nya yang selama ini tersembunyi di balik suara lantang seorang juara.
Di akhir hidup Ali harus berjuang melawan Parkinson, bahkan dalam kondisi tubuh melemah dia tetap hadir di banyak kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Itu salah satu hal yang bikin saya kagum ketika tubuh nya tidak lagi bisa berlari atau bertarung jiwa nya justru terasa makin kuat.
Muhammad Ali wafat pada 3 Juni 2016, para penggemar berduka kita bukan cuma kehilangan juara tinju tapi seseorang yang menunjukkan bahwa keberanian terbesar manusia bukan hanya mengalahkan lawan di ring tapi melawan ke tidakadilan dan ketakutan di dalam diri.
Baca juga:
2. Mike Tyson.
Jika ada satu petinju yang hidup nya seperti jalan naik turun Mike Tyson lah orang nya.
Dari kecil hidup nya sudah berantakan, ayah pergi ibu kewalahan dan lingkungan sekitar nya penuh kekerasan, tak heran kalau Tyson kecil lebih sering berurusan sama polisi di banding guru olahraga.
Di usia 13 tahun saja catatan tangkapan nya sudah puluhan, kalau bukan karena tinju mungkin hidup nya melenceng jauh sampai akhir nya dia bertemu Cus D’Amato.
Baca juga:
Pertemuan mereka itu semacam TAKDIR BESAR, Cus bukan cuma melatih Tyson tapi juga membentuk mental nya jadi petarung sejati.
Tyson berubah dari remaja pemarah menjadi mesin KO yang disiplin dan menakutkan.
Di usia 20 dia sudah jadi juara dunia kelas berat termuda sepanjang sejarah, namun setelah Cus meninggal Tyson kehilangan figur yang selama ini menahan diri nya.
Dari sini hidup nya mulai tak terkontrol, pesta, hubungan bermasalah uang mengalir seperti air sampai akhir nya dia masuk ke masa tergelap tahun 1992.
Di penjara itu lah Tyson yang dulu seperti tak tersentuh tiba tiba jadi manusia yang harus menghadapi diri nya sendiri.
Dia mulai membaca banyak buku termasuk tentang Islam, dari berbagai wawancara Tyson mengaku bahwa ajaran Islam tentang kedamaian dan pengendalian diri membuat nya merasa PULANG.
Di sana dia memutuskan memeluk Islam mengganti nama nya menjadi Malik Abdul Aziz.
Saat keluar penjara pada 1995 Tyson terlihat berbeda masih menakutkan di ring tapi ada ketenangan yang dulu nyaris tidak pernah terlihat, ada aura lebih dewasa, dia bicara lebih pelan lebih tertata beberapa kali menyebut bahwa hidup nya kini lebih di serahkan kepada Tuhan.
Bukan berarti jalan nya mulus Tyson tetap di hantam masalah finansial, konflik manajemen.,dan beberapa kontroversi.
Tapi ada perbedaan besar Tyson tidak lagi hancur seperti dulu dia punya pegangan.
Dalam beberapa kesempatan Tyson bilang bahwa Islam membantu nya memaafkan diri nya sendiri.
Di masa pensiun nya kita melihat Tyson versi paling manusiawi, dia bicara soal keluarga, penyesalan dan tentang bagaimana dia ingin menjalani hidup lebih sederhana.
Ada satu kalimat nya yang menggambarkan transformasi nya…
“Dulu saya ingin menaklukkan dunia. Sekarang saya hanya ingin menaklukkan diri saya sendiri.”
Kata itu menunjukkan bahwa perjalanan spiritual nya bukan gimmick tetapi perubahan nyata.
Tyson sekarang lebih aktif dalam kegiatan keagamaan beberapa kali berangkat umrah terlihat jauh lebih lembut dari sosok yang dulu menakuti dunia, siapa sangka pria yang dulu seperti MONSTER RING bisa berubah jadi sosok yang menenangkan.
Islam menjadi bagian penting dari hidup nya bukan hanya identitas tapi sesuatu yang mengubah cara dia melihat dunia.
Banyak orang terinspirasi dari perjalanan nya karena Tyson membuktikan tidak ada manusia yang terlalu rusak untuk berubah.
Kini saat orang menyebut nama Mike Tyson ingatan mereka bukan cuma tentang KO brutal atau tatapan mengerikan itu, ada lapisan baru, perjalanan seseorang yang akhir nya menemukan kedamaian setelah bertahun tahun hidup dalam kesengsaraan.
Menurut saya di situlah kemenangan terbesar Mike Tyson bukan ketika dia mengangkat sabuk juara tetapi ketika dia berhasil menenangkan hati nya sendiri.
Baca juga:
3. Dwight Muhammad Qawi.
Apakah ada petinju yang hidup nya berubah 180 derajat???
Dwight Muhammad Qawi itu salah satu nya tidak hanya karena dia pernah jadi juara dunia di dua divisi tapi karena datang di tempat yang biasa nya tidak pernah di pikir orang yaitu PENJARA.
Dari situlah dia menemukan Islam sesuatu yang akhir nya membawanya ke jalan baru, di balik jeruji hidup nya pelan di bentuk ulang.
Baca juga:
Pertama lewat tinju di Rahway State Prison ada program olahraga salah satu pelatih melihat bakat besar yang sebenar nya selama ini tertutup amarah dan masa lalu.
Dwight yang tubuhnya kecil namun padat itu mulai berlatih dengan serius, Tinju jadi tempat pelarian sekaligus cara untuk meredam luka luka lama.
Saya melihat fase ini sebagai masa dia belajar disiplin untuk pertama kali nya tapi yang lebih besar dari tinju adalah hidayah di dalam penjara dia banyak berinteraksi dengan narapidana Muslim.
Dia melihat ketenangan mereka cara mereka beribadah dan saling mengingatkan.
Dari situ rasa ingin tahu nya tumbuh lama lama dia mempelajari Islam akhir nya memutuskan memeluk nya.
Dia mengganti namanya menjadi Dwight Muhammad Qawi, QAWIA sendiri berarti yang kuat, Pas banget untuk seorang petarung. yang sedang mencoba menguatkan diri. bukan cuma di fisik tapi di hati.
Setelah bebas Qawi masuk dunia profesional dengan semangat baru.
Tahun 1978 dia memulai karir nya dan langsung mencuri perhatian karena gaya bertarung nya yang tak ada rem, lawan nya bisa lebih tinggi dan besar tapi Qawi selalu maju memaksa duel jarak dekat.
Dia itu seperti tank mini pendek tapi tidak mundur selangkah pun.
Puncak nya datang pada 1981 ketika mengalahkan Matthew Saad Muhammad dan jadi juara dunia kelas berat ringan WBC.
Pertarungan itu brutal banyak orang bilang Qawi tampil seperti orang yang tidak bisa di hentikan, dua tahun kemudian dia naik kelas ke cruiserweight dan merebut sabuk dunia lagi.
Dari seorang napi yang dulu hidup nya tak jelas kini dia berdiri sebagai juara di dua kelas berbeda, karakter Qawi di luar ring jauh dari gaya bertarungnya.
Kalau di dalam ring dia ganas di luar justru lembut dan penuh hormat, banyak yang bilang Islam menenangkan hati nya.
Dari beberapa wawancara nya dia sering bilang bahwa tanpa Islam dia mungkin sudah kembali ke kriminal atau hancur sebelum sempat mencapai apa pun.
Karir nya memang menurun di akhir 80-an dan akhir nya dia pensiun.
Tapi kali ini meninggalkan tinju bukan dengan amarah atau penyesalan tapi dengan hati tenang.
Setelah gantung sarung tinju dia banyak turun ke komunitas Muslim memberi nasihat ke anak anak muda yang hidup nya mirip diri nya dulu.
saya sendiri melihat. kisah Qawi selalu punya tempat khusus. dia bukan superstar seperti Ali atau Tyson. tapi justru itulah yang membuat ceritanya lebih REAL.
Qawi pernah bilang..
“Dulu saya bertarung melawan semua orang sekarang saya bertarung melawan diri saya sendiri agar tetap berada di jalan Allah.
itu salah satu ungkapan paling kuat yang pernah keluar dari mulut seorang petinju.
4. Bernard Hopkins.
Ada sesuatu yang selalu membuat saya kagum setiap kali membahas Bernard Hopkins, semua orang mengenal nya sebagai legenda yang super disiplin mampu bertarung sampai usia 50 tahun.
Tapi yang jarang di bahas orang adalah fondasi spiritual yang menopang semua itu, perjalanan seorang anak jalanan yang menemukan arah hidup lewat Islam.
Pada usia 17 tahun hopkins di jebloskan ke penjara karena masalah pencurian dan perampokan.
Di balik tembok itulah dia mulai melihat hidup dengan perspektif baru.
Banyak napi Muslim yang menunjukkan kedisiplinan yang sebelum nya tidak pernah dia lihat di lingkungan asal nya.
Dari mereka Hopkins belajar shalat, membaca Al-Qur’an dan memahami arti tanggung jawab, pelan pelan dia memperbaiki diri, latihan tinju, dia jalani bukan cuma untuk membangun fisik tapi juga sebagai cara meninju masa lalu nya sendiri.
Saat bebas pada 1988 banyak orang mengira dia akan kembali ke kehidupan lama tapi Hopkins yang keluar bukan lagi remaja yang tanpa arah.
Hopkins kalah di partai debut justru kekalahan itu yang menguatkan nya, latihan gila gilaan menghindari hal hal yang bisa menjerumuskan semua itu dia jalani karena memandang tubuh nya sebagai amanah.
Karir nya pun naik pada tahun 1995 dia merebut gelar dunia IBF lalu mempertahankan nya selama satu dekade.
Prestasi gila yang sulit di tiru zaman sekarang, di puncak performa nya tahun 2001 dia mengalahkan Felix Trinidad dan menjadi raja kelas menengah sejati.
Tapi yang bikin saya salut bukan sabuk nya tapi bagaimana dia tetap rendah hati di tengah popularitas.
Tidak minum alkohol, pesta, tidur teratur, gaya hidup yang konsisten dengan prinsip Islam yang dia yakini, dia tetap kompetitif hingga umur 49 tahun dan memecahkan rekor sebagai juara dunia tertua dalam sejarah.
Setelah pensiun dia jadi mentor banyak terlibat di kegiatan sosial dan hidup jauh lebih tenang di banding masa muda nya.
Yang tersisa dari Hopkins tidak hanya highlight kemenangan atau sabuk juara tapi kisah seseorang yang berubah dari inti diri nya.
Dari remaja tersesat menjadi legenda yang hidup dengan prinsip, dari penjara menuju masjid lalu ke puncak tinju, Hopkins mengingatkan bahwa iman kadang datang dari tempat paling gelap dan saat seseorang memegang nya dengan sungguh sungguh hidup nya PASTI akan berubah.
5. Eddie Mustafa Muhammad.
Eddie lahir sebagai Eddie Gregory di Brookly kawasan yang selalu menuntut penghuni nya untuk kuat atau tertelan keadaan.
Dari kecil dia sudah menghadapi lingkungan yang penuh tekanan sosial tak heran bila sisi KERAS begitu melekat dalam diri nya.
Di akhir 1970-an karir nya mulai stabil, dia mengalahkan petarung-petarung besar termasuk Marvin Johnson dan Matthew Saad Muhammad nama yang kelak berjalan di jalur spiritual serupa.
Puncak karirnya tiba pada 1980 saat dia merebut gelar juara dunia WBA kelas berat ringan.
Orang mulai melihatnya sebagai kekuatan baru, di momen kejayaan inilah perubahan besar itu datang, Eddie secara terbuka menyatakan diri nya masuk Islam dan mengganti nama nya menjadi Eddie Mustafa Muhammad perubahan nama itu terasa bukan formalitas.
Dia membawa makna baru dalam cara hidup dan cara berpikir nya, ketertarikan Eddie pada Islam sudah tumbuh sebelum nya.
Dia mulai banyak berdiskusi dengan petinju Muslim lain, membaca Al-Qur’an dan merasakan ketenangan yang selama ini hilang dalam kehidupan glamor yang dia jalani.
Mungkin inilah momen di mana seseorang sadar bahwa sukses material tidak selalu menenangkan batin, dari situ muncul keinginan untuk hidup lebih tertata dan penuh makna.
Setelah menjadi mualaf gaya hidup nya berubah drastis dia meninggalkan malam panjang yang dulu dia nikmati.
Eddie lebih disiplin fokus menjalani hidup yang sehat dan terarah.
Di atas ring perubahan itu tanpak jelas, Eddie bertarung dengan kesabaran yang sebelumnya tidak dia miliki lebih taktis, ketenangan spiritual itu membantu memperbaiki kualitas mental nya sebagai petarung.
Dia sering mengatakan bahwa Islam membuat nya tidak takut kalah.
Bagi nya setiap pertandingan hanyalah salah satu bentuk ujian hidup, kemenangan datang dari kerja keras tetapi hasil akhir tetap dia serahkan pada Tuhan.
Pola pikir seperti ini membuat nya jauh lebih stabil baik sebagai atlet maupun sebagai manusia.
Pensiun tidak membuat nya kehilangan arah, Eddie melanjutkan hidup sebagai pelatih dan manajer membimbing petinju muda agar tidak mengulang kesalahan masa lalu nya.
Dia di kenal tegas tidak suka alasan. sangat menekankan pentingnya karakter.
Kata eddie petarung yang kuat adalah mereka yang mampu menaklukkan ego sendiri, ucapan itu sangat pas karena dia sendiri sudah membuktikan nya.
Eddie bukan hanya juara dunia di ring tetapi juga juara dalam menata ulang hidup nya. mungkin itulah sebuah kenangan terbesar nya.
6. Matthew Saad Muhammad.
Hidup nya seperti rangkaian ujian panjang yang tidak pernah berhenti tapi dia selalu menemukan cara untuk bangkit, ketenangan yang dia cari bukan datang dari sabuk juara atau sorakan penonton tapi dari Islam.
Sesuatu yang di temukan setelah hampir seluruh hidup nya terseret berbagai masalah sejak kecil.
Mungkin karena masa kecil yang keras itu Matthew tumbuh jadi pribadi yang tidak pernah mau kalah, dia sering berkelahi bukan karena sombong tapi karena itu satu satu nya bahasa bertahan hidup yang dia tahu.
Dari situlah mulai belajar tinju, ternyata bakat nya jauh di atas rata rata, gaya bertarung nya brutal penuh tekad dan stamina nya seperti tidak ada habis nya.
Pada 1979 dia mengalahkan Marvin Johnson dalam pertarungan epik dan merebut gelar WBC kelas berat ringan.
Duel itu di anggap salah satu pertarungan terbaik dekade 70 an, justru di titik itu Matthew mulai mempertanyakan banyak hal, Popularitas datang, uang mengalir tapi hati nya tetap kosong.
Mungkin sebagian dari kita juga pernah merasakan hal itu, kejar ini, kejar itu tapi tetap merasa ada ruang yang tidak bisa di tutup apa pun.
Di masa pencarian itu dia makin sering bergaul dengan petinju Muslim termasuk Eddie Mustafa Muhammad.
Dari merekalah dia mengenal konsep hidup yang lebih terarah, Matthew mulai tertarik mempelajari ajaran ini akhir nya pada 1979 dia memutuskan masuk Islam dan mengganti nama nya menjadi Matthew Saad Muhammad.
Sejak menjadi Muslim dia terlihat lebih kalem dan lebih sadar diri.
Dia tetap bertarung brutal di ring tapi di luar matthew mulai banyak bicara soal disiplin, syukur dan bagaimana iman membantu nya menemukan bagian hidup yang selama ini hilang.
Dia pernah bilang sesuatu yang menurut saya sangat dalam..
Saya kehilangan segala nya sejak kecil. tapi saya menemukan kedamaian yang tidak bisa di beli.
Rasa nya kalimat itu yang cuma bisa keluar dari seseorang yang sudah kenyang di hajar hidup.
Karir nya sempat stabil lagi mempertahankan gelar 8 kali tapi kemudian datanglah Dwight Muhammad Qawi yang menghentikan dominasi nya.
Setelah kekalahan itu karir Matthew perlahan turun, masa pensiun nya keras dia sempat jatuh miskin bahkan jadi tunawisma, banyak orang di posisi nya mungkin sudah patah dan menyalahkan keadaan tapi Saad Muhammad tidak.
Dia tetap shalat tetap dekat dengan komunitas Muslim menganggap setiap cobaan sebagai bagian dari perjalanan iman.
Dia meninggal pada 25 Mei 2014 meninggalkan yang jauh lebih besar dari sabuk juara, dia adalah contoh bahwa seseorang bisa bertarung habis- habisan di ring tapi tetap lembut dan tegar ketika menghadapi kenyataan hidup.
7. Gervonta Davis.
Gervonta Davis bukan petinju yang bangun pagi lalu tiba tiba menemukan hidayah, perubahan nya datang pelan melewati jalan yang penuh luka dan kekacauan yang dia ciptakan sendiri.
Davis tumbuh di lingkungan yang jarang memberi kesempatan kedua, orang tua nya tenggelam dalam narkoba, sejak kecil berpindah pindah rumah seperti barang titipan.
Tinju muncul sebagai satu satu nya ruang aman, Calvin Ford pria yang jadi mentor utama nya melihat potensi besar di bocah yang pemarah itu.
Begitu masuk dunia profesional Davis seperti roket bukan hanya karena talenta tapi karena dia bertarung seperti orang yang merasa hidup nya di pertaruhkan setiap ronde.
Publik menyukai nya KO demi KO mengangkat nama nya dalam waktu singkat dia sudah mengoleksi gelar juara dunia di beberapa divisi.
Tapi biasa nya makin terang lampu sorot makin terlihat retakan dalam seseorang, keberhasilan tidak otomatis mengikis sisi liar Davis, masa lalu nya masih menempel kuat dan beberapa kali terseret kasus hukum.
Setiap kali muncul berita buruk tentang nya seperti konfirmasi bahwa TANK memang tidak akan pernah berubah.
Bahkan sebagian penggemar mulai menganggap nya bakat besar yang kelak akan hancur oleh diri nya sendiri.
Sekitar 2021 Davis mulai menunjukkan perubahan kecil tidak di umumkan besar besaran.
Dia hadir di acara keagamaan mulai bergaul dengan komunitas Muslim terlihat lebih sering merenung seperti orang yang sedang mencoba memahami diri nya sendiri.
Lalu pada 2022 dia memutuskan memeluk agama Islam dia memilih nama Abdul Wahid, nama yang melambangkan mengingat satu satu nya tempat bergantung, dari situ arah hidup nya mulai berubah.
Bukan tiba tiba jadi sempurna tapi jelas dia bicara lebih kalem dan latihan lebih disiplin.
Davis pernah menulis sesuatu yan jujur..
“Allah memberi saya kesempatan kedua.”
Di tengah karir yang selalu di kelilingi drama, ungkapan itu terdengar seperti pengakuan bahwa dia lelah melawan diri nya sendiri.
Orang orang terdekat nya mengatakan Davis kini lebih banyak beramal tanpa ingin di ketahui, masjid bukan lagi tempat singgah sesekali tapi bagian dari rutinitas nya.
yang paling terasa dia mulai menjaga diri dari hal hal yang bertentangan dengan keyakinan nya sesuatu yang tidak mudah untuk seorang superstar dengan gaya hidup serba terbuka.
Jika dia terus berada di jalur ini Davis bisa lebih dari daftar KO dia bisa di kenang sebagai contoh bahwa perubahan itu mungkin bahkan untuk seseorang yang masa lalu nya di penuhi kekacauan.
Dari jalanan kasar Baltimore menuju cahaya Islam mungkin itu yang membuat nya begitu menarik.
Dia tidak sedang berusaha menjadi malaikat davis hanya ingin menjadi manusia yang lebih baik dari kemarin.
8. Devin Haney.
Saat banyak petinju muda di Amerika sibuk mengejar hingar bingar dan drama Haney justru berjalan dengan lebih hening.
Tidak butuh waktu lama untuk melihat bahwa semua itu berasal dari satu sumber keyakinan nya pada Islam.
Haney memutuskan untuk memeluk Islam secara terbuka ketika karir nya sedang naik, tidak ada deklarasi berlebihan hanya ketenangan seorang pemuda yang tahu apa yang dia cari.
Sejak 2021 Haney semakin vokal menyebutkan bahwa iman nya menjadi alasan bisa tetap tenang di tengah tekanan besar.
Ada satu momen unik setiap selesai bertarung dia mengucapkan Alhamdulillah dengan wajah datar khas nya, tidak di buat buat hanya refleks dari seseorang yang merasa kemenangan itu bukan semata hasil tangan nya sendiri.
Hal seperti itu membuat publik mulai melihat Haney bukan hanya atlet tapi pribadi dengan pondasi yang kokoh.
Ketika dia terbang ke Australia dan menaklukkan George Kambosos Jr untuk menjadi juara dunia tak terbantahkan banyak orang menganggap itu titik puncak karir nya.
Tapi ada yang lebih menarik dari sabuk bagaimana dia menjalani, sikapnya yang terlalu tenang itu membuat sebagian orang salah paham seolah dia tidak punya karisma.
Tapi kalau melihat lebih dekat itu bukan dingin hanya seseorang yang terbiasa menahan diri.
Haney sering mengatakan bahwa puasa Ramadhan melatih mental nya lebih keras dari sparring mana pun, dia tetap latihan bukan untuk terlihat hebat tetapi karena bagi nya itu bagian dari proses mendewasakan diri.
Haney pernah berkata bahwa rasa lapar membuat nya lebih fokus bukan sebalik nya.
Dia tidak pernah memaksa orang lain mengikuti pandangan nya hanya berjalan lurus, orang orang datang sendiri karena melihat ketenangan itu.
Di Amerika negara yang jarang sekali menampilkan atlet Muslim muda sebagai tokoh publik Haney muncul sebagai contoh baru.
Banyak anak muda Muslim menjadikan nya panutan bukan karena sabuk juara nya tapi karena cara dia menata hidup, Haney masih sangat muda, perjalanan karir nya mungkin masih panjang dan kemenangan maupun kekalahan akan datang silih berganti.
Tapi apa pun yang terjadi nanti fondasi spiritual yang dia tanam sejak dini sudah menempatkan nya di jalur yang jelas.
9. Anthony Small.
Di awal 2000 an Small muncul sebagai petinju dengan gaya lincah dan aura entertainer.
Dia punya kombinasi kecepatan dan keluwesan yang mengingatkan pada legenda seperti Ali atau Sugar Ray Leonard, bahkan julukan nya saja sudah jelas Sugar Ray Clay Jones Jr.
Sebagian orang mungkin menganggap julukan itu terlalu besar tapi kalau lihat cara dia bergerak di atas ring rasa nya wajar saja.
Tahun 2009 menjadi puncak tertinggi nya saat dia menyatukan gelar British dan Commonwealth, secara teknis dia memang petinju bagus tapi ada sisi lain yang tidak terlihat kamera kegelisahan besar soal arah hidup.
Setelah mencapai puncak itu small mulai merasakan kehampaan yang kerap dialami atlet besar, Ketenaran membawa banyak hal tapi tidak menjawab kekosongan batin.
Dari sinilah ketertarikan nya pada Islam muncul, dia membaca, mendengar ceramah, berdiskusi lalu akhir nya memutuskan untuk masuk Islam sekitar tahun 2009.
Perubahan besar terjadi, small seolah meninggalkan kehidupan glamor nya begitu saja.
Janggutnya di biarkan panjang, pakaian nya berubah, ucapan nya lebih di tata dan kegiatan nya bergeser dari dunia hiburan ke masjid serta kajian.
Setelah menjadi Muslim Small merasa dunia tinju tidak lagi sejalan dengan prinsip yang dia yakini, dia mundur dari karir profesional mulai bersuara tentang keadilan bagi umat Islam serta kebijakan luar negeri Inggris.
Cara dia menyampaikan pendapat memang keras dan tidak selalu diplomatis sehingga media segera menjadikan nya sasaran.
Di Inggris apa pun yang terdengar terlalu ekstrem langsung mendapat perhatian aparat, Small akhir nya beberapa kali di tahan di tuduh terlibat kelompok terlarang meski tidak pernah terbukti di pengadilan.
Namun stigma terlanjur melekat, dari mantan juara yang di segani dia berubah menjadi figur kontroversial.
Mau tidak mau kasus seperti ini membuat publik terbelah, ada yang menuduh nya terlalu provokatif ada juga yang menganggap nya korban framing media.
Pendapat saya pribadi Small memang orang yang kalau percaya sesuatu dia akan memegang nya habis habisan apa pun resiko nya.
Terlepas dari kontroversi nya kehidupan spiritual Small berjalan stabil, dia mengatakan Islam membuat nya meninggalkan kebiasaan buruk dan cara hidup yang nyaris menghancurkan nya.
Small sering menyebut bahwa hidup tanpa arah jauh lebih melelahkan di banding hidup dengan keyakinan yang jelas.
“Saya kehilangan popularitas, tapi mendapat kedamaian,” kata nya.
Islam tidak mengubah nya menjadi sosok yang sempurna tetapi memberikan arah yang dia cari sejak lama, itu cukup untuk membentuk cerita hidup yang tidak kalah menarik dari ketika dia masih berdiri di tengah sorotan arena tinju.
10. Ruby Jesiah Mesu.
Dari luar hidup nya dulu terlihat serba glamor, latihan keras, aktif di sosial media dan menikmati gaya hidup khas Barat yang bebas.
Tapi kalau mengikuti perjalanan nya dari dekat ada masa ketika Ruby sebenar nya sedang mencari sesuatu yang lebih dalam dari pada menang pertandingan atau tampil berkilau di panggung olahraga.
Ruby tumbuh di Belanda dan sejak remaja akrab dengan dunia bela diri, kickboxing, tinju semua nya dia lahap dari situlah karir nya mulai naik.
Tapi seiring kesuksesan datang Ruby sering merasa seperti ada kekosongan dalam hati nya.
Dari situ perjalanan spiritual Ruby mulai, dia bertemu banyak teman Muslim melihat cara hidup mereka yang tenang, disiplin jauh dari hiruk pikuk pencitraan.
Lama lama ruby merasakan ketenangan yang selama ini dia cari.
Ketika dia mengucapkan syahadat Ruby seperti menemukan versi terbaik dari diri nya sendiri.
Perubahan itu tidak hanya soal keyakinan tapi juga mulai menutup aurat mengurangi gaya hidup lama nya lebih fokus pada kualitas diri.
Banyak orang kaget bahkan ada yang tak setuju, nama nya juga hidup di barat keputusan seperti itu pasti menimbulkan reaksi namun Ruby tetap teguh.
Dia bilang hidup nya bukan lagi soal bagaimana orang melihat tapi lebih menjaga hubungan nya dengan Tuhan.
Ruby kini lebih di kenal bukan hanya karena kemampuan bertinju tapi karena keberanian mengambil jalan yang mungkin tidak populer, dia sering membagikan perjalanan spiritual nya di media sosial memberi inspirasi bagi wanita Muslim lain nya di Eropa.
Bagi nya Islam bukan sangkar tapi cara untuk menjadi lebih fokus, kuat secara mental dan lebih damai.
Kalau melihat perjalanan para petinju mualaf ini dari atas pola mereka mirip, sukses, gelap lalu menemukan terang di tempat yang tidak mereka duga.
Ada yang datang dari jalanan keras juga datang dari ketenaran yang melelahkan.
Satu yang selalu saya rasakan ketika membaca kisah mereka, Islam datang bukan sebagai pelarian tapi sebagai jawaban.
Hikmah nya siapa pun bisa berubah bahkan orang orang yang kita pikir hidup nya sudah lengkap sekalipun, di balik otot kuat dan pukulan mematikan selalu ada hati yang butuh kedamaian para petinju ini sudah menemukan nya.
#tinjudunia #petinjumuslim #muhammadAli #miketyson #petinjumualaf









