Danny Garcia, Sang Petinju Bertangan Emas dari Philadelphia

Danny garcia sang juara bertangan emas

Dulu banyak orang meremehkan Danny Garcia waktu dia mulai naik daun di awal 2010-an, saya pikir dia cuma salah satu dari sekian banyak petinju muda yang lagi panas sesaat.

Tapi semakin lama saya pantau makin terasa kalau Garcia ini beda, gaya nya memang tak seindah Floyd Mayweather atau tidak sekeras Miguel Cotto tapi ada kombinasi antara timing dan ketenangan yang membuat dia susah di jatuhkan.

Kalau kita mundur ke awal karir nya, Garcia tumbuh di lingkungan yang keras di Philadelphia, dia mulai tinju dari kecil bukan karena ambisi besar tapi karena pengin punya arah hidup yang jelas, itu yang bikin Garcia punya karakter kuat dia bukan tipe petinju yang manja.

Di masa awal profesional nya dia sering di anggap biasa aja tapi perlahan dengan gaya ortodoks yang baik dan pukulan kanan yang tajam dia mulai mencuri perhatian.

Pertarungan yang bikin nama Garcia benar di puncak tentu waktu dia mengalahkan Amir Khan tahun 2012, dia menjadi underdog dan peluang besar khan waktu itu lagi di atas karena kecepatan dan akurasi juga punya pengalaman lebih tapi di ronde ke 4 garcia membuat insting liar nya, hook kiri mendarat telak dan Khan tak pernah bisa pulih sepenuh nya setelah itu.

Setelah menang melawan Khan Garcia seperi dapat kepercayaan diri baru, dia jadi lebih berani ambil resiko termasuk naik ke pertarungan besar lawan nama seperti Lucas Matthysse.

kalau kalian nonton duel itu keliatan betapa disiplin nya Garcia, Matthysse di kenal sebagai pemukul brutal dari Argentina tapi Garcia ngerem ngatur jarak dan pelan pelan menguras lawan nya ronde demi ronde, ini salah satu performa terbaik Garcia sepanjang karir nya bukan karena dia brutal tapi karena dia nunjukin IQ tinju yang tinggi.

Setelah puncak tahun tahun emas nya di kelas welter junior, Garcia mulai waktu naik ke kelas welter, fisik lawan lebih besar pukulan mereka juga lebih berat.

Lawan seperti Keith Thurman yang meraih sabuk penghargaan dari PBC dan Shawn Porter bikin Garcia harus kerja dua kali lebih keras, meskipun dia masih tampil solid kelihatan kalau kecepatan dan timing nya sudah sedikit berkurang.

Ini masa di mana banyak petinju mulai sadar realita bahwa waktu tidak bisa di kalahkan, saya masih ingat betul duel lawan Keith Thurman tahun 2017 pertarungan itu sebenar nya ketat banget tapi petinju berjuluk ONE TIME itu lebih aktif dan agresif di awal.

Garcia berusaha mengejar di ronde ronde akhir tapi agak telat hasil nya keputusan angka tipis tapi tetap kekalahan buat Garcia.

Kekalahan itu bukan hanya soal poin tapi juga tanda bahwa Garcia mulai harus menyesuaikan diri, dia sudah tidak bisa hanya mengandalkan counterpunching harus lebih kreatif dalam membangun serangan.

Setelah ini dia sempat rehat sebentar lalu kembali dengan semangat baru tapi hasil nya naik turun kadang tampil gahar, Garcia itu tipikal petinju yang punya teknik mumpuni tapi terlalu hati hati.

Lalu datanglah duel lawan Errol Spence Jr di tahun 2020 yang jadi momen pembuktian terakhir bagi Garcia di level elite, sebelum laga itu baru pulih dari kecelakaan mobil parah dan banyak orang mengira dia belum balik 100%.

Tapi Garcia yang keliatan agak kesulitan, Spence tampil dengan jab tajam dan tempo tinggi sementara dia tanpak seperti sedang mencari irama.

Garcia tidak tampil buruk tapi dia juga tak bisa menemukan titik lemah lawan, Spence menang bukan karena lemah tapi dia lebih muda, setelah duel itu karir Garcia sempat jalan di tempat, sebagian mikir dia bakal pensiun tapi tetap latihan jaga badan dan bahkan sempat naik ke kelas super welter, itu keputusan berani karena di kelas itu ukuran tubuh Garcia termasuk kecil.

Kalau bicara soal gaya bertarung Garcia punya keunikan tersendiri, dia bukan petinju cepat tapi punya timing yang luar biasa, banyak lawan yang kelihatan unggul secara visual tapi tiba tiba kena hook kiri Garcia yang datang dari sudut tidak terduga itu kekuatan sejati nya.

Kemampuan membaca gerakan lawan inilah yang bikin dia bisa bersaing lama di level atas, banyak petinju lebih muda yang punya tenaga besar tapi tak punya ketenangan seperti dia.

Selain itu Garcia juga punya jiwa pantang menyerah, setelah kalah dia tak pernah nyalahin orang lain, dia tahu kapan dia salah dan itu langka di tinju modern, banyak petinju lain kalau kalah langsung cari alasan karena cidera lah, wasit lah atau pelatih.

Sekarang kalau lihat perjalanan karir nya dari awal sampai sekarang Garcia sudah lewat masa puncak nya.

Mungkin dia tidak akan jadi juara dunia lagi tapi kehadiran nya masih punya nilai, petinju muda banyak belajar dari gaya dia terutama soal kesabaran dan cara menjaga emosi di atas ring, Garcia tidak pernah kehilangan rasa hormat dari penggemar sejati.

Dia datang dari bawah melawan keraguan dan bertahan di level elite selama lebih dari satu dekade, kalau nanti dia pensiun saya yakin banyak yang akan kangen, tinju butuh figur seperti nya yang tak banyak bicara tapi kerja keras yang tak selalu menang tapi selalu memberi pertarungan jujur.

Baca juga: Petinju jerman berdarah kurdi,jadi ancaman di kelas berat?

#DannyGarcia #TinjuDunia #Boxing2025

Scroll to Top