14 September 2025 mungkin akan jadi hari yang bakal lama di ingat penggemar, di IG Arena Jepang suasana nya pasti akan terasa tegang sejak bel di bunyikan semua mata akan tertuju pada satu sosok naoya Inoue.
petinju yang di juluki The Monster ini bukan cuma kebanggaan Jepang tapi sudah menjelma menjadi petinju sangar, disiplin dan keganasan khas Negeri Matahari Terbit.
Dia akan berhadapan dengan penantang paling berbahaya yang pernah berdiri di depan nya sejak naik ke kelas super bantamweight Murodjon Akhmadaliev dari Uzbekistan.
Baca juga: prediksi vergil ortiz vs erickson lubin,duel penentu siapa yang terbaik
Duel ini spesial bukan hanya karena empat sabuk dunia (WBA, WBC, IBF, WBO) akan di pertaruhkan tapi juga karena kedua nya punya karakter beda
Inoue dengan gaya klinis dan timing sempurna melawan Akhmadaliev yang teknis dan licin sebagai southpaw.
Kalau di ibaratkan musik, ini seperti orkestra Jepang melawan gamelan khas Asia Tengah yang keras dan ritmis, dua budaya, dua gaya, tapi satu tujuan jadi raja sejati di 122 pound.
Baca juga: Para juara dunia dengan masa ke emasan yang singkat
Kalau menengok ke belakang perjalanan Inoue adalah salah satu kisah paling menginspirasi. Lahir di Kanagawa pada 10 April 1993, Inoue tumbuh dengan ayah yang juga pelatih nya Shingo Inoue. dari kecil tinju bukan cuma olahraga bagi nya tapi semacam ritual keluarga.
Saya kadang berpikir, apa jadi nya kalau Inoue memilih jalan lain?? Mungkin Jepang tak akan punya petarung sebesar ini di atas ring.
Saat memulai debut profesional tahun 2012 usia nya baru 19 tahun. Tapi dari cara dia menatap lawan, terlihat kalau bocah ini bukan tipe petinju yang mau belajar dulu.
Dalam enam pertarungan saja dia sudah merebut gelar dunia WBC light flyweight dengan menghentikan Adrian Hernandez.
Mantap kan?? masih remaja tapi sudah menundukkan juara dunia yang jauh lebih berpengalaman. di situlah dunia mulai sadar ada sesuatu yang berbeda dari anak muda Jepang ini.
Seakan tidak puas di situ, Inoue naik ke kelas super flyweight pada 2014, di sana dia melakukan sesuatu yang bahkan legenda pun jarang bisa menumbangkan Omar Narvaez petinju veteran yang belum pernah kalah KO sebelum nya.
Hanya butuh dua ronde bagi Inoue untuk menyelesaikan semua nya. Setelah itu julukan The Monster resmi melekat dan sulit di pisahkan dari nama nya.
Tahun tahun berikut nya berjalan seperti film laga yang di sutradarai dengan presisi. Inoue bertarung melawan petinju kuat seperti Kohei Kono dan David Carmona tapi tak satu pun yang bisa menghentikan nya.
Menurut penulis gaya Inoue itu seperti samurai yang sabar menunggu waktu menebas pedang nya, bukan asal menyerang tapi menghajar di momen paling tepat.
Lompatan besar berikut nya datang pada 2018 ketika dia naik ke bantamweight. Debut nya di sana hanya butuh seratusan detik untuk menghancurkan Jamie McDonnell.
Bagi banyak petinju lain adaptasi ke kelas baru itu butuh waktu, tapi bagi Inoue seolah tubuh dan gaya bertarung nya memang di rancang untuk menaklukkan semua divisi yang dia singgahi.
Dan yang paling menggetarkan terjadi pada 2019 final World Boxing Super Series melawan Nonito Donaire.
Pertarungan itu bukan cuma duel dua generasi tapi juga duel dua jiwa. Inoue muda melawan Donaire yang sudah seperti mentor bagi banyak petinju Asia.
Di ronde tengah Inoue sempat cidera tulang orbital nya retak, hidung nya patah Tapi dia tetap maju, tak pernah mundur.
Saya ingat bagaimana ekspresi Donaire usai duel itu dia tahu dia baru saja menghadapi sesuatu yang istimewa. Pertarungan itu kemudian di nobatkan sebagai Fight of the Year.
Setelah kemenangan itu, Inoue makin tak terbendung dia menyapu bersih sabuk sabuk di kelas bantamweight hingga pada 2022 resmi menjadi juara tak terbantahkan (undisputed).
Paul Butler adalah korban terakhir nya di kelas 118 pound, melihat semua pencapaian nya, kadang merasa sulit mencari kekurangan dari Inoue. Tapi kalau di pikir pikir justru karena dia terlalu sempurna itulah yang membuat orang berharap ada yang bisa menguji batas nya.
Setelah jadi raja di bantamweight Inoue naik lagi ke super bantamweight divisi yang lebih padat dan keras.
di sinilah muncul nama Murodjon Akhmadaliev satu satu nya lawan yang menurut banyak pengamat punya alat dan kecerdikan untuk memberi masalah serius pada sang Monster.
Orang orang mengenal nya sebagai MJ, petarung yang jarang banyak omong tapi selalu membiarkan tangan nya menjawab.
Akhmadaliev lahir di Uzbekistan, negara yang mungkin tidak sebesar Amerika atau Jepang dalam peta tinju tapi punya tradisi keras soal disiplin.
Sejak kecil dia sudah terbiasa dengan kehidupan yang kaku, Latihan pagi pagi buta, udara dingin dan peluh yang tak pernah selesai.
Ketika dia mulai naik di level amatir, banyak yang bilang kalau gaya bertinju nya terlalu terlalu teknikal, tapi di balik itu Akhmadaliev menyimpan sesuatu yang sulit di tiru hasrat untuk membuktikan diri.
Dia bukan petinju yang mengandalkan fisik semata tapi seperti seorang membawa seluruh harga diri negara nya.
Saya masih ingat bagaimana nama nya mulai ramai di bicarakan setelah tampil di Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro.
Waktu itu dia belum seberapa di kenal, tapi gaya bertinju nya yang efisien dan keras membuat banyak mata tertuju pada nya. Meskipun gagal meraih emas banyak pelatih dunia mulai memperhatikan bahwa ada sesuatu yang berbeda dari anak muda ini.
Beberapa tahun kemudian dia memutuskan terjun ke dunia profesional, Keputusan yang tidak mudah bagi petinju dari Asia Tengah, apalagi dengan latar belakang amatir yang begitu teknis.
Debut profesional nya pada 2018 berjalan mulus, baru delapan pertarungan saja dia sudah menantang Daniel Roman untuk gelar juara dunia.
luar biasa nya dia berhasil, tahun 2020 MJ resmi menyandang gelar juara dunia super bantam IBF dan WBA setelah menang angka tipis atas Roman. ini yang bikin orang terpana, Seorang petinju muda dari Uzbekistan dengan hanya segelintir pengalaman profesional berhasil menggulingkan juara dunia berpengalaman.
Setelah itu, perjalanan karir nya terus menanjak dia mempertahankan gelar beberapa kali dengan performa meyakinkan.
Tapi inilah kehidupan yang tidak pernah suka pada mereka yang berada di puncak terlalu lama, waktu itu akhirnya berhadapan dengan Marlon Tapales keberuntungan mulai berbalik.
Akhmadaliev tampil baik tapi kurang menggigit seolah ada sesuatu yang hilang, mungkin semangat membara yang dulu membuat nya nekat menantang juara dunia di usia muda.
Kekalahan itu sangat berat, Tapi dia tidak pernah mencari alasan. Tidak menyalahkan wasit, tidak menuding siapa pun.
Dia hanya menunduk menerima hasil dan bilang satu kalimat “Saya akan kembali.”
setelah itu dia tetap aktif, terus berlatih, tidak menyerah, banyak petinju kehilangan arah setelah kalah tapi MJ tidak seperti itu, dia kembali ke sasana memperbaiki apa yang kurang dan mulai mempersiapkan diri untuk duel berikut nya.
Sekarang kedua nya bertemu, inoue dengan kesempurnaan dan Akhmadaliev dengan keteguhan.
Dua jiwa yang berjalan di jalur berbeda, tapi menuju tempat yang sama, pengakuan bukan hanya dari publik tapi dari diri sendiri.
#NaoyaInoue #MurodjonAkhmadaliev









